Virus Corona
Ini Lima Provinsi Penyumbang Kenaikan Kasus Covid-19 Tertinggi di Indonesia, Ada Jabar?
Prof Wiku Adisasmito mengatakan yang perlu jadi perhatian ialah kasus aktif. Jumlahnya saat ini sudah menembus lebih dari 100 ribu.
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Seli Andina Miranti
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Satgas Penanganan Covid-19 mencatat pada 22 Desember 2020, terjadi penambahan kasus positif sebanyak 6.374 kasus. Jumlah kasus aktif sebanyak 105.146 atau 15,5 persen, jumlah kasus sembuh sebanyak 555.722 atau 81,5 persen, sedangkan jumlah pasien meninggal 20.257 kasus.
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan yang perlu jadi perhatian ialah kasus aktif. Jumlahnya saat ini sudah menembus lebih dari 100 ribu.
"Hal ini menunjukkan bahwa tren peningkatan kasus aktif cepat terjadi. Ini adalah hal yang tidak dapat ditoleransi," katanya saat memberi keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 di Istana Kepresidenan Jakarta, Selasa (22/12/2020) yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.
Dari grafik data, kenaikan kasus aktif di Indonesia menunjukkan tren yang memburuk. Dan sudah menembus lebih dari 100 ribu dalam waktu satu bulan, yaitu dari bulan November ke Desember 2020.
Jika Berkaca dari pengalaman sebelumnya, kenaikan kasus aktif dari kisaran 10 ribu hingga ke 30 ribu membutuhkan waktu 3 bulan (Mei - Juli). Selanjutnya, hanya dibutuhkan waktu 2 bulan untuk mencapai 60 ribu dari yang sebelumnya 30 ribu.
Yang sangat disayangkan lagi, lanjut Wiku, terdapat penurunan kedisiplinan protokol kesehatan mendampingi grafik kenaikan kasus aktif ini.
"Grafik kasus ini bukan hanya sekedar angka, namun merefleksikan jumlah nyawa manusia. Naik atau turunnya grafik ini ada di tangan kita semua. Setiap kenaikan grafik ini berpotensi menimbulkan kematian," katanya.
Baca juga: 5 Pilihan Hape Vivo Ccook untuk Liburan Akhir Tahun, Ini Harga dan Spesifikasinya
Di samping itu, pada perkembangan tren kasus positif mingguan, terdapat peningkatan kasus sebesar 12,1 persen dibandingkan minggu sebelumnya. Pekan ini, kasus positif didominasi 5 provinsi penyumbang tertinggi kenaikan kasus. Di antaranya pertama, DKI Jakarta (8.538 menjadi 10.611), Sulawesi Selatan naik 933 (1.631 menjadi 2.564), Jawa Barat naik 801 (6.937 menjadi 7.738), Jawa Timur naik 442 (4.910 menjadi 5.352) dan Kalimantan Timur naik 390 (1.337 menjadi 1.727).
"Mayoritas kelima provinsi ini, provinsi yang sama dengan provinsi penyumbang kasus tertinggi pekan lalu," tegas Wiku.
Lalu, pada perkembangan kasus kematian mingguan, terdapat tren peningkatan sebesar 3,0 persen. Ada 5 provinsi kenaikan kematian tertinggi dimulai dari Jawa Tengah naik 35 (173 menjadi 208), Jawa Timur naik 35 (296 menjadi 331), DKI Jakarta naik 21 (118 menjadi 139), Sumatera Barat naik 17 (13 menjadi 30) dan Lampung naik 10 (25 menjadi 35).
Sementara daerah dengan persentase kematian tertinggi berada di Jawa Timur 6,92 persen, Sumatera Selatan 5,29 persen, Nusa Tenggara Barat 5,14 persen, Lampung 4,50 persen dan Aceh 4,14 persen.
Masih tingginya kematian pasien, disebabkan penanganan fasilitas kesehatan yang belum memenuhi standar. Akibatnya pasien tidak bisa ditangani dengan cepat dan efektif. Provinsi-provinsi dengan kematian tertinggi segera evaluasi penangan pasien di fasilitas pelayanan kesehatannya.
"Lakukan penanganan yang maksimal, untuk meningkatkan peluang kesembuhan. Ingat, satu nyawa yang hilang sangatlah berharga," Wiku menekankan.
Baca juga: Yaqut Cholil Qoumas Tak Pernah Nyangka Jadi Menteri Agama, Jadikan Agama Inspirasi
Dibandingkan kasus positif dan kematian, perkembangan tren kesembuhan pekan ini terlihat baik. Pada tren kesembuhan kumulatif saat ini berangsur meningkat, yaitu sebesar 16,8%.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/juru-bicara-satgas-penanganan-covid-19-prof-wiku-adisasmito-_-2.jpg)