Kisah Pilu Kakek dan Nenek Pemulung di Kota Cimahi, Berharap Sembuh dari Sakit
Siang menjelang petang, Nana Sujana (58) baru tiba di kamar kos mereka seusai dari masjid terdekat.
Penulis: Ery Chandra | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra
TRIBUNJABAR.ID, CIMAHI - Siang menjelang petang, Nana Sujana (58) baru tiba di kamar kos mereka seusai dari masjid terdekat.
Istrinya, Wiwin Winarsih (68) hanya seorang diri terbaring di kasur lusuh kamar kos seharga Rp. 300 ribu tersebut. Berada di kawasan sebuah gang, Kelurahan Citeureup, atau hanya berjarak 850 meter dari Gedung Pemerintah Kota Cimahi.
Sebelumnya, baru-baru ini beredar sebuah video amatir pilu, seorang pria sepuh tengah memulung dengan berjalan kaki depan Gedung Pemerintah Kota Cimahi.
Tak ayal, memperoleh ribuan penonton yang menyaksikan tayangan. Hingga menuai tanggapan positif dari warganet di jagat dunia maya.
"Hari ini enggak mencari barang rongsokan, istirahat dulu, menjaga ibu juga," ujar Pak Nana kepada Tribun, di lokasi, Kota Cimahi, Minggu (22/11/2020).
Baca juga: Kulineran Sambil Menikmati Keindahan Alam Perbukitan di Kai Leisure and Cafe
Menurutnya, fokus mengais rezeki untuk menyambung hidup mereka berdua baru beberapa tahun kebelakang.
Sebelumnya, pria yang dikaruniai satu anak dan satu cucu tersebut pernah melakoni sebagai kuli bangunan.
Anaknya tinggal terpisah, meski masih di kawasan Kota Cimahi. Serupa keseharian dengan orangtuanya mengais rezeki dari barang-barang yang masih layak guna ditukar dengan rupiah.
"Mencari rongsokan sehari-hari untuk makan sama kontrakan sama ibunya. Waktu ibunya masih sehat, bantu sama saya cari rongsokan," katanya.
Dia bercerita singkat, jika ada kenalan yang mengajak membantu sebagai kuli harian. Biasanya mengaduk adonan untuk bangunan.
"Kalau tidak ada, cari rongsokan saja. Di bangunan enggak tetap. Biasanya tiga atau empat bulan," ujarnya.
Biasanya, keseharian berkeliling dengan berjalan kaki mencari barang-barang rongsokan seusai waktu subuh. Pukul 05.30 WIB keluar dari kediamannya.
"Cari rongsokan sampai siang mengejar zuhur. Rongsokan dikumpul dulu empat atau lima hari. Baru dijual dekat tikungan sini juga," katanya seraya menyampaikan hasilnya tak menentu atau seribu rupiah per kilogram rongsokan.
Istrinya dengan nafas terengah, duduk sembari membentangkan kedua kakinya yang nampak membengkak. Bu Wiwin sesekali menimpali ucapan sang suaminya yang mengalami pendengaran agak terbatas.