Success Story
Indy Rahmawati Senang Menjalani Pekerjaan Berbahaya, Jadi Wartawan Jangan Penakut
"Aku tuh orangnya lempeng (datar). Kita ini wartawan dan harus dipilah mana yang diri kita dan mana yang kerjaan. Memang harus jadi bermental baja,"
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Adityas Annas Azhari
RAMAH, murah senyum, senang bercanda, berwawasan luas adalah hal yang dilihat saat bertemu Indy Rahmawati sebelum mengisi Kelas Garasi yang diadakan di De Paviljoen, Jalan Riau No 68, pekan lalu.
Senyum dan tawa selalu menghiasinya setiap berbincang dengan orang-orang di sekelilingnya. Sesekali bahasa Sunda terdengar begitu kental di dalam obrolannya.
Lucu rasanya ketika biasanya mendengar sosok pembaca berita ini terlihat serius dan suaranya yang tegas, tapi di luar pekerjaannya, Indy begitu santai dan menyenangkan.
Di balik perjalanan 21 tahun, Indy Rahmawati menjadi seorang jurnalis, ternyata, Indy memiliki pengalaman yang begitu menarik.
Lahir di Bandung pada 1 April 1971, Indy bercerita, ia memulai karirnya menjadi penyiar radio Ardan saat masih kuliah. Setelah lulus strata 1, Indy pun melanjutkan pendidikan magister manajemen ITB.
"Saat lulus magister, aku langsung kerja di leasing pesawat Australia. Aku cuma bertahan satu tahun karena nggak kuat duduk di meja, nggak ketemu dengan orang banyak, dan mulut hanya diam saja," ujarnya.
Tahu betul jika dalam dirinya berontak, Indy pun melamar di stasiun televisi SCTV pada 1999.
Ia mengakui secara materi, memang jauh sekali dengan pekerjaan sebelumnya. Namun, menjadi seorang jurnalis justru memberikan kebahagiaan tersendiri buat Indy.
"Aku senang liputan, ketemu banyak orang, bikin berita, liputan investigasi. Di situ aku sadar, oh ini duniaku, nggak apa-apa materi nggak segimana tapi aku jalaninnya bahagia," ujarnya .
Sampai tahun 2006, Indy pun pindah ke stasiun televisi ANTV hingga 2008. Kemudian sampai sekarang, Indy pun eksis sebagai presenter TV One.
Berbagai rintangan dalam peliputan sudah dirasakan oleh Indy. Mulai dari tempat bencana hingga harus datang ke lokasi yang tidak aman dan harus membahayakan dirinya.
Di balik tubuhnya yang mungil dan wajahnya yang begitu feminin, tersimpan energi yang luar biasa sehingga ia tetap tangguh menjalani pekerjaan yang berbahaya ini.
Harus melaporkan langsung dari lokasi kejadian bencana atau lokasi yang penuh darah, disyukuri Indy tak membuat trauma dan berpengaruh kepada piskologisnya.
"Aku tuh orangnya lempeng (datar). Kita ini wartawan dan harus dipilah mana yang diri kita dan mana yang kerjaan. Memang harus jadi bermental baja ya," ucapnya.
Saat ini, Indy juga memberikan pelatihan kepada wartawan baru yang masuk di TV One. Ia selalu mengingatkan, siap atau tidak jadi wartawan? kalau tidak siap, lebih baik tidak usah.
"Saya selalu jelaskan, jadi wartawan itu bisa jadi kerja 24 jam dari pagi sampai pagi lagi. Siap nggak kalau lihat darah? karena jadi wartawan itu kita nggak bisa milih mau ditempatin dimana, harus mau semuanya, mau capek, keringetan, dan jadi hideung (hitam)," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/indy-rahmawati-1.jpg)