Rabu, 29 April 2026

Kreasi Singkong Kampung Adat Cireundeu, Berpacu Antara Digital dan Virus Korona

Keuntungan disimpan melalui sistem kas. Kini, mereka pun bersyukur yang bergabung mencapai belasan orang.

Penulis: Ery Chandra | Editor: Seli Andina Miranti
Tribun Jabar/ Ery Chandra
Kampung Adat Cireundeu, Kota Cimahi. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra

TRIBUNJABAR.ID, CIMAHI- Pagi ini langit Kampung Adat Cireundeu biru cerah, awan-awan bergerak perlahan.

Akses jalan menuju kampung tergolong mudah ditempuh. Darii Ibukota Provinsi Jawa Barat berjarak sekitar 14 kilometer, dari pusat Kota Cimahi pun hanya perlu 23 menit berkendara.

Menjelang masuk ke wilayah kampung, nampak penanda berdiri di tengah dua persimpangan jalan menyambut pengunjung. Penanda itu bernada selamat datang dan lima pesan wangsit siliwangi yang dibangun secara gotong royong pada 2010 lalu. Ada sebuah saung kosong di sebelah kanan.

Kediaman penduduk di kampung adat tersebut didominasi oleh bangunan-bangunan yang mempertahankan kontur tanah asli. Itulah sebabnya, bentuk kampung itu berundak-undak. Dihuni sekitar 400 kepala keluarga.

Baca juga: Sekda Kota Bandung Masih Bingung Bayangkan Penerapan Physical Distancing di Panti Pijat

Segelintir orang nampak beraktivitas. Warga berlalu-lalang, ada yang merenovasi saluran air, hingga duduk sekitar warung-warung sederhana.

Menjelang siang, di sebuah beranda rumah, para perempuan tengah bersiap menuju sebuah bale berlantai dua. Mereka akan mengolah penganan berbahan utama tepung singkong.

Seusai berkumpul, sembilan orang emak lantas menyiapkan bahan, antara lain, telur, gula, mentega, hingga tepung singkong.

Deru tiga unit blender bersahutan. Perlahan, campuran bahan pada wadah pun diolah. Suasana begitu santai saat mereka membuat Egglor atau kue semprong seraya berbincang, berkelakar, hingga tertawa.

Seorang perempuan hamil delapan bulan dengan rambut terkuncir yang turut membantu cukup menyita perhatian. Ia paling anyar bergabung dengan emak-emak lainnya empat tahun lalu. Meski kelompok swadaya telah bergerak sejak 2010.

Sopiah (39), sesekali mondar-mandir berkecak pinggang. Matanya melirik ke arah adonan kue. Jari jemarinya cekatan menuangkan bahan yang telah diblender. Tak banyak lontaran kata dari mulutnya.
"Istilahnya, yang penting masak beras singkong di rumah sudah beres. Di sini bisa sambil ngobrol, menghilangkan jenuh. Kalau di rumah tiduran saja pegal. Plusnya bisa dapat penghasilan juga," ujar Sopiah tersenyum kepada Tribun Jabar di lokasi, Senin (2/11/2020).

Bersama yang lainnya, ibu yang dikaruniai sepasang putra putri ini tak setiap hari membuat ragam olahan penganan tersebut. Kondisi pandemi membuatnya hanya mampu produksi seminggu dua kali saja.

Meski sang suami, Dede Sumpena, juga mengais rezeki bertani dan mengurus ternak, dirinya tak segan menambah sumber penghasilan keluarganya.

"Tiap membantu, diupah harian. Kalau tahun lalu Rp 30 ribu. Sekarang tengah korona Rp 40 ribu. Biasanya tujuh sampai delapan jam sehari. Kecuali menjelang hari-hari besar bisa lebih," katanya.

Berjam-jam ketika kue telah matang, perempuan yang mengenakan penutup rambut dan celemek, Neneng Suminar (39), berbagi cerita awal mula kelompok swadaya diberi nama Serba Singkong.

Baca juga: Satu Tersangka Penganiaya Anggota TNI di Bukittinggi Masih di Bawah Umur

"Dulu pas kami baru mulai spontan saja penamaan, karena membuat kue dari bahan utama singkong. Awalnya cuma lima orang," ujarnya sembari tersipu malu.

Sebelumnya, ide merangkul kaum perempuan ini terpercik dari sebuah kegiatan, yaitu seorang ibu pemilik kue kering termasyur pernah melakukan syuting memasak di Cireundeu. Serta seorang ibu dosen dari sebuah kampus negeri membuat pelatihan kue di kampung adat.

"Akhirnya ada saran dari warga bilang ini peluang untuk pemasukan. Berjalan waktu kerja bareng, hasilnya pun diputar," katanya.

Pengupahan bagi emak-emak urun rembug mulai diterapkan 2012. Keuntungan disimpan melalui sistem kas. Kini, mereka pun bersyukur yang bergabung mencapai belasan orang.

Neneng bilang, penjualan Egglor (andalan dan ada 11 rasa), dendeng kulit singkong, cireng, sistik, keripik bawang, kecipir, opak bumbu, simping, saroja, awug hingga aneka kue basah lainnya itu bisa dibeli langsung di bale kampung adat.

Untuk pemasaran pun mereka masih terbatas memanfaatkan kecanggihan internet. Begitu pun koperasi yang ada tengah kondisi tak aktif. Baru sebatas via aplikasi WhatsApp di ponsel.

"Pernah kami coba instagram dan facebook belum fasih. Tapi kami masih terus belajar. Selain pengunjung beli, pernah kirim sekitaran Cimahi, Bandung, Bogor, dan Jakarta," ujarnya.

Menuju petang, seorang warga adat, Sudrajat (41) berada di kebum singkong dekat dari kediamannya. Meski kontur tanah menanjak. Bisa ditempuh berjalan kaki sekitar 15 menit. Kebun berada di antara bangunan sekolah dasar dan pemakaman umum.

"Jam tujuh pagi ke kebon sampai siang. Tergantung cuaca, kalau hujan turun pulang. Sekarang cuma bersih-bersih saja," kata pria berkumis dan berambut pendek belah tengah ini.

Kang Jajat, sapaan karibnya ini, fasih menceritakan aktivitas kini merawat jenis singkong garnawis dan singkong merah baru fokus dilakoninya sejak tiga tahun lalu. Khusus perawatan, dia mengaku hanya menggunakan pupuk alami semisa tumbuhan-tumbuhan liar dan kotoran hewan ternak.

"Singkong bagi saya tak bisa dinilai harganya. Bertani bukan mencari untung besar. Tapi mewarisi 100 tahun lalu dari leluhur," ujarnya.

Ribuan singkong berusia tanam itu nantinya jika panennya maksimal bisa mencapai satu ton singkong. Singkong-singkong ini bisa diolah menjadi beras singkong dan dijual. Bahkan kulit singkong yang dianggap limbah, dimanfaatkan oleh kelompok emak-emak di kampung adat ditukar dengan rupiah sepantasnya.

"Kalau lancar panen tiap tiga bulan bisa peroleh Rp 3 juta," kata ayah dua anak itu.

Baca juga: Soal Remaja Injak Makam Pahlawan Jelang Hari Pahlawan, KPAI: Tinjau Ulang Nilai-nilai Kepahlawanan

Sepenggal sejarah di Kampung Adat Cireundeu

Orang yang dituakan di Kampung Adat, Emen Sunarya (84), menceritakan sepenggal sejarah kampung hingga makanan pokok singkong.

Dia memperkirakan abad 17 silam leluhur mereka telah mendiami kawasan tersebut. Sejak 1923 penduduk setempat telah mengkonsumsi beras singkong.

"Sejak saya kecil, sampai sekarang keluarga dan semua tetap yakin makan beras singkong. Kalau tambahan membuat penganan lain baru ke generasi sekarang," ujarnya suka disebut Abah Emen kepada Tribun Jabar di kediamannya, malam.

Bagi sesepuh atau ketua adat Cireundeu, singkong selaras dengan ajaran sunda wiwitan yang dianut oleh warga adat. Secara prinsip makanan merupakan sumber kehidupan. Kala manusia menempuh jalan usaha mandiri.

"Masa mendatang semoga pangan ini bisa terus dipertahankan," katanya.

Perihal kearifan lokal di Kampung Adat Cireundeu, pemerintah melalui Dinas Komunikasi Informatika Kearsipan dan Perpustakaan Kota Cimahi mengapresiasi nilai adat, budaya, keterbukaan dengan siapa pun, hingga usaha mandiri masyarakat setempat.

"Sejauh ini keroyokan juga dengan dinas-dinas lain sosialisasi, promosi ekonomi warga adat hingga potensi pariwisata. Kami rencana akan diskusi dan merancang pelatihan basis internet misalnya," ujar Kepala Diskominfoarpus Cimahi, M. Ronny kepada Tribun belum lama ini, di Kelurahan Pasir Kaliki.

Sedangkan, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Jawa Barat memberikan catatan masih terdapat tantangan terkini dan harapan masa mendatang ihwal lini kehidupan masyarakat adat secara pararel.

"Dampak pandemi sekarang harga pangan meningkat. Masyarakat cireundeu tak konsumsi beras sudah betul mempertahankan swasembada, makanan pokok singkong," kata Koordinator AMAN Jabar, Yayan Hermawan dihubungi Tribun via ponselnya, malam.

Baca juga: Satu Staf Setda Positif, Kasus Covid-19 di Pangandaran Meningkat Tajam Setelah Libur Long Weekend

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved