Penjual Lontong Terjerat Rentenir, Semringah Dibantu Dedi Mulyadi, 'Jangan Pinjam Lagi ke Bank Emok'

Fenomena yang menghinggapi banyak warga miskin di Indonesia adalah tidak memiliki akses permodalan

Penulis: Ichsan | Editor: Ichsan
istimewa
Dedi Mulyadi dan penjual lontong, Abah Misra dan Mak Rasmi 

TRIBUNJABAR.ID - Fenomena yang menghinggapi banyak warga miskin di Indonesia adalah tidak memiliki akses permodalan ke lembaga keuangan yang kredibel.

Selain tak punya agunan, faktanya juga tak banyak lembaga keuangan yang memiliki kepedulian untuk menyasar warga miskin guna membantu usaha kecilnya.

Akibat tak punya akses modal inilah, banyak warga miskin terpaksa pinjam uang ke rentenir. Di kalangan warga Jawa Barat familiar disebut Bank Emok.

Dalam Bahasa Sunda, Emok adalah duduk lesehan dengan melipat dua kaki secara sejajar ke samping, biasanya dilakukan kaum hawa.

Pertemuan antara nasabah dengan rentenir di Bank Emok ini memang santai, transaksi dilakukan sembari duduk-duduk di lantai.

Satu dari sekian warga miskin yang terjerat rentenir adalah pasangan suami istri Abah Misra dan Mak Rasmi.

Baca juga: Musim Hujan, Daya Cengkram Ban Berkurang, Ini Cara Aman Mengemudi di Jalan Menanjak Saat Hujan,

Dedi Mulyadi dan Mak Rasmi
Dedi Mulyadi dan Mak Rasmi (istimewa)

Abah Misra ditemukan oleh anggota DPR RI Dedi Mulyadi tengah mengayuh sepeda sembari mengangkut kayu bakar.

Kayu bakar itu untuk bahan bakar membuat lontong. Abah Misra dan Mak Rasmi berprofesi sebagai penjual lontong.

Di warungnya yang sederhana, ia berjualan lontong untuk kupat tahu, juga berjualan nasi uduk.

Dalam perbincangan dengan Dedi Mulyadi terungkap, untuk modal usahanya itu Mak Rasmi pinjam uang ke Bank Emok.

Dalam sehari omzet warung kecilnya itu rata-rata antara Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu. Keuntungannya sekitar Rp 50 ribuan.

Keuntungan usahanya itu nyaris tak berbekas karena setiap pekan harus menyetor uang ke Bank Emok.

Mak Rasmi pinjam uang ke dua Bank Emok, masing-masing Rp 1 juta. Bunga pinjamannya mencapai 20 persen. Jadi setiap pekan harus setor uang Rp 120 ribu selama 10 minggu.

Mencermati hal ini, Dedi Mulyadi pun hanya menghela napas panjang. "Pantesan usahanya gak maju-maju. Bunganya besar sekali, habis buat rentenir," kata Dedi kepada Mak Rasmi.

Tanpa pikir panjang Dedi Mulyadi lalu memberikan sejumlah uang untuk melunasi utang Mak Rasmi ke rentenir.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved