Politeknik Pos Indonesia dan Aperti BUMN Gelar Kuliah Perdana untuk Mahasiswa Baru Secara Daring
Politeknik Pos Indonesia menggelar kuliah perdana bagi para mahasiswa barunya yang dirangkaikan dengan kegiatan Aperti BUMN Talks Seri Kelima.
Penulis: Cipta Permana | Editor: Giri
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Politeknik Pos Indonesia menggelar kuliah perdana bagi para mahasiswa barunya yang dirangkaikan dengan kegiatan Aliansi Perguruan Tinggi (Aperti) BUMN Talks Seri Kelima secara daring, Senin (19/10/2020).
Dalam kegiatan bertajuk Mempersiapkan SDM Unggul di Bidang Logistik dan E-Commerce tersebut, turut menjadi pembicara pembicara adalah Ketua Aperti BUMN, Prof. Akhmaloka, P.hD; Direktur Kerjasama Ekonomi ASEAN, Berlianto P.H. Situngkir; dan Direktur SDM & Umum PT Pos Indonesia (Persero), Tonggo Marbun.
Para narasumber mengulas berbagai peluang dan tantangan Indonesia dalam mengahadapi bonus demografi pada tahun 2020-2030, serta implikasinya terhadap kondisi di bidang logistik dan e-commerce di Tanah Air.
Dalam sambutannya, Ketua Aperti BUMN, Prof Akhmaloka, mengatakan, upaya peningkatan kualitas SDM, kini menjadi fokus utama dari pengembangan pembangunan pemerintah dalam menyongsong bonus demografi Indonesia tahun 2030.
Dengan demikian, lingkungan pendidikan kampus harus mampu mencetak dan melahirkan para generasi unggul, yang mampu menangkap peluang dan memiliki jiwa kompetitif guna menjawab tantangan global, sekaligus memberikan manfaat besar bagi masyarakat secara luas.
"Di tengah semangat pemerintah dalam upaya mempersiapkan SDM unggul dari adanya bonus demografi tersebut, kurang diikuti dengan kualitas dan rata-rata lama pendidikan masyarakatnya, di mana 59 persen masyarakat Indonesia hanya merupakan lulusan SD. Bahkan berdasarkan data Badan Pusat Statistik Nasional, disebutkan bahwa rata-rata rakyat Indonesia baru mengenyam masa pendidikan selama 7,3 tahun dari program wajib belajar selama 12 tahun yang telah dicanangkan pemerintah. Hal ini tentunya menjadi sebuah ironi bagi kita semua," ujarnya melalui aplikasi Zoom, Senin (19/10/2020).
Oleh karena itu, para mahasiswa dapat dikategorikan sebagai anak-anak Indonesia yang beruntung dan terpilih, karena mampu berada di atas rata-rata lama pendidikan mayoritas rakyat Indonesia, dengan melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu bangku kuliah.
Dengan demikian, lanjutnya, para mahasiswa memiliki beban tugas dan tanggung jawab yang lebih besar, yaitu, selain wajib mengikuti seluruh rangkaian pendidikan selama menjadi seorang mahasiswa, tetapi juga menyerap seluruh ilmu dan meningkatkan kompetensi keahlian yang dimiliki. Selanjutnya menyebarkan ilmu yang diperoleh tersebut agar menjadi manfaat kepada masyarakat Indonesia yang lain.
Maka dengan dimilikinya generasi produktif sejumlah 70 persen dari total rakyat Indonesia, pengelolaan kualitas pendidikan secara baik menjadi kunci utama, agar pada 20 hingga 30 tahun mendatang, generasi ini dapat menjadi tumpuan dan harapan bangsa dalam memperoleh bonus demografi.
Akan tetapi, apabila hal tersebut tidak dapat dilakukan, maka akan menciptakan demografic disaster yaitu, kehancuran bangsa Indonesia.
"Maka, bagi para mahasiswa yang telah memiliki kesempatan untuk belajar di perguruan tinggi, manfaatkan peluang dan situasi ini sebaik mungkin," ucapnya.
Prof. Akhmaloka menuturkan, sebagai negara kepulauan, Indonesia dihadapkan pada tantangan pada rantai pasok atau supply chain distribusi produksi yang sangat besar.
Sehingga dibutuhkan perencanaan supply chain yang sangat baik untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh pelosok negeri, khususnya di daerah-daerah 3T (terluar, tertinggal, dan terdepan).
