Hadapi Pandemi Covid-19, Harus Selalu Konsumsi Makanan Sehat dan Seimbang serta Disiplin 3M 1T

Kedisiplinan perilaku menjadi kunci dari upaya mencegah penularan virus Covid-19, termasuk dalam hal menjaga asupan gizi makanan sehat dan seimbang

Penulis: Cipta Permana | Editor: Dedy Herdiana
Tribun Jabar/Cipta Permana
(kiri ke kanan) dr. Grace Legoh sebagai moderator webinar, Direktur RS. Advent Bandung, DR. Roy David Sarumpaet, Ketua Tim Uji Klinik Vaksin Covid-19 Indonesia, Prof. Kusnandi Rusmil dan Nutrition Program Manager Helen Keller International (HKI) dr. Dian N. Hadihardjono sebagai narasumber dalam webinar bertajuk Kita Mampu Lawan Covid-19: Generasi Baru, Normal Baru, dan Metode Baru dalam rangka HUT ke-70 RS. Advent Bandung, Senin (5/10/2020). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) meningkatkan kesadaran akan kedisiplinan perilaku menjadi kunci dari upaya mencegah penularan virus Covid-19, termasuk dalam hal menjaga asupan gizi makanan sehat dan seimbang guna meningkatkan imunitas tubuh, khusunya bagi anak-anak.

Nutrition Program Manager Helen Keller International (HKI) dr. Dian N. Hadihardjono mengatakan, di era modern memberi makan pada anak pun tidak luput dari kepraktisan.

Bahkan, demi mengejar kemudahan, sebagian orang tua memanfaatkan makanan pabrikan dan siap saji untuk diberikan pada anak-anak mereka tanpa memperhatikan nilai kandungan gizi dari komposisi makanan dan minuman tersebut apakah aman dan sesuai untuk di konsumsi di usia anak mereka.

"Kita hidup di era waktu semakin sempit, kepraktisan salah satu solusi. Seharusnya semua orang tua mampu melengkapi informasi terkait kebutuhan makanan dan nilai gizi terbaik sesuai ketentuan sehat dan seimbang. Apalagi, makan bukan hanya sekedar kenyang tapi apa dampak manfaat yang diperoleh dari makanan-minuman yang kita berikan kepada anak-anak," ujarnya dalam acara webinar bertajuk Kita Mampu Lawan Covid-19: Generasi Baru, Normal Baru, dan Metode Baru dalam rangka HUT ke-70 RS Advent Bandung, Senin (5/10/2020).

Obat Covid-19 di Indonesia Turun Harga!

Harga Lebih Murah, Ini Obat Covid-19 Karya Anak Bangsa yang Siap Digunakan

dr. Dian menuturkan, dalam jangka panjang, asupan gizi yang cukup bagi anak-anak, akan membuatnya terhindar dari ancaman stunting atau gizi buruk, termasuk serangan virus.

Bahkan, untuk membentuk sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas di masa mendatang, para orangtua perlu juga memperhatikan periode emas tumbuh kembang anak, sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Pada periode tersebut, nutrisi yang diterima oleh bayi saat dalam kandungan dan menerima ASI, memiliki dampak jangka panjang terhadap kehidupan saat usia dewasa.

"Maka pemilihan makanan untuk anak menjadi penting diperhatikan, karena zat-zat makanan yang masuk ke tubuh anak, yang akan menentukan kekebalan anak terhadap virus dan patogen dari luar," ucapnya.

Berdasarkan hasil studi penelitian yang dilakukan dr. Dian dan tim pada tahun 2018 di Bandung terkait fenomena perilaku orangtua dalam pemberian konsumsi makanan bagi anak-anaknya telah menunjukan pemberian makanan pabrikan menjadi salah satu penyebab anak-anak kurang mendapatkan makanan yang beragam, terpapar makanan dan minuman berpemanis.

Temuan juga memperlihatkan hanya sedikit anak-anak yang menyantap sayuran berwarna kuning atau jingga (45,1 persen dari 594 ibu) dan buah-buahan (42,4 persen) yang diperlukan tubuh. Sementara itu, konsumsi makanan pabrikan justru tinggi dan sangat sering, yakni 81,6 persen.

"Banyak anak pada usia dini atau di atas 6 bulan sudah dibiasakan mengkonsumsi cemilan atau jajanan yang kurang tepat dalam hal unsur kelengkapan gizi. Bahkan, produk makanan ringan dari pabrik memiliki nilai kandungan gula dan garam yang tinggi serta rendah zat gizi, sehingga makanan tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan anak, khususnya bagi batita," ucapnya.

Oleh karena itu, dirinya berharap agar para orangtua dapat memberikan makanan bervariasi untuk anak-anak, termasuk buah-buahan dan batasi makanan dan minuman berpemanis atau garam tinggi. Pihaknya pun, akan terus mengadvokasi penyebaran informasi penelitian ini, demi memperbaiki praktik pemberian makanan bayi supaya sesuai rekomendasi.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur RS. Advent Bandung, DR. Roy David Sarumpaet mengingatkan agar masyarakat untuk tetap memerhatikan protokol kesehatan dalam berkegiatan dimana pun dan kapanpun. Terlebih, kedisiplinan masyarakat merupakan faktor penting untuk mengantisipasi munculnya klaster baru covid-19.

Apalagi menurutnya, saat ini terjadinya penularan klaster covid-19 terus bertambah banyak, bahkan di Indonesia, sedikitnya tercatat 15 klaster penularan yang terjadi selama kurun waktu delapan bulan terakhir, diantaranya Klaster di Scapa AD Bandung; Klaster Ijtima Dunia di Gowa, Sumatera Selatan; Klaster Asrama Haji Sukolilo Surabaya; Klaster Sampoerna, Surabaya; Klaster Pasar Cileungsi, Bogor, dan Klaster Musda HIPMI, Karawang.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved