Masker Scuba dan Buff Tak Termasuk APD, Ini Jeritan Para Pedagang
Bahkan tidak jarang, dirinya kini membagikannya kepada pedagang keliling juga anak-anak yang bermain di sekitar tempat tinggalnya.
Penulis: Cipta Permana | Editor: Ravianto
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Imbauan pemerintah terkait penggunaan masker jenis scuba dan buff sebagai alat pelindung diri (APD) di masa adaptasi kebiasaan baru yang diperketat, menuai aksi protes dari para pedagang dan produsen yang merasa sangat dirugikan.
Bahkan, mereka menduga larangan tersebut, dilatarbelakangi oleh adanya desakan dari para pengusaha alat kesehatan yang mulai merugi, lantaran menurunnya minat beli masyarakat terhadap masker medis dan masker N-95 yang memiliki harga selangit.
Maulana (35), salah seorang pedagang masker jenis scuba di Jalan RAA Martanegara, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung mengaku, sejak munculnya imbauan larangan dari Menteri Kesehatan (Terawan Agus Putranto), Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 (Wiku Adisasmito), hingga Gubernur Jawa Barat (Ridwan Kamil), pihaknya kehilangan potensi pendapatan hingga 80 persen. Biasanya dalam sehari masker scuba yang di jualnya rata-rata mampu terjual hingga 20-30 buah, kini hanya empat sampai lima buah saja.
Kondisi ini pun membuatnya harus berpikir keras untuk mencari alternatif bidang usahanya yang tengah digelutinya tersebut, jika akhirnya nanti Pemerintah menetapkan larangan dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda)
"Meskipun sampai sekarang belum jadi Perda oleh pemerintah, tapi sejak pernyataan (imbauan larangan) ada di media, dampaknya sangat besar bagi kami sebagai pelaku usaha kecil. Saya saja biasanya bisa jual sepuluh sekarang cuma dua, jadinya bingung harus usaha apalagi sementara kebutuhan anak istri harus tetep jalan," ujarnya saat ditemui di lapak dagangannya, Kamis (24/9/2020).
Maulana pun menduga, bahwa munculnya rencana kebijakan ini terdapat 'dalang' di belakangnya, yang merasa tidak mampu bersaing secara sehat dalam merebut pasar dan hati pembeli di tanah air.
"Saya bukan menuduh yang engga-engga, tapi kemungkinan itu ada dan masuk akal, apalagi sejak ramainya penjualan masker scuba dimana-mana, penjualan masker medis justru menurun, malahan kata teman saya yang kerja di apotek, harganya murah dibandingkan awal-awal adanya covid-19," ucapnya.
Hal senada disampaikan oleh penjual masker jenis scuba lainnya, Rian Arif (25), menurutnya, dampak imbauan larangan masker jenis scuba oleh pemerintah, membuat dirinya merugi cukup besar.
Karena minimnya daya beli masyarakat membuat stok masker scuba karakter yang telah dibeli dari produsen, kini harus menumpuk di rumahnya.
Bahkan tidak jarang, dirinya kini membagikannya kepada pedagang keliling juga anak-anak yang bermain di sekitar tempat tinggalnya.
"Karena yang beli sekarang jarang, biasanya (terjual) sepuluh sehari, sekarang bisa tiga atau empat aja udah syukur. Terus, dirumah juga jadi pada numpuk, daripada disimpan juga buat apa, saya suka bagi-bagiin aja ke tukang dagang keliling yang engga pakai masker, sama anak-anak yang suka main di dekat rumah, karena belakang rumah itu lapangan," ujarnya saat ditemui di lapak dagangnya di Jalan Ibrahim Adji, Kota Bandung.
Dirinya berharap, agar pemerintah dapat mengkaji ulang terkait rencana kebijakan penetapan larangan penggunaan masker jenis scuba bagi masyarakat. Sebab, hal tersebut, akan turut berdampak pada 'matinya' para pelaku usaha kecil yang mencoba bertahan hidup di tengah situasi pandemi covid-19 yang belum dipastikan kapan berakhirnya.
"Pinginnya sih, pemerintah bisa pertimbangkan lagi untuk tetapkan aturan larangan masker jenis scuba bagi masyarakat. Soalnya, saya sendiri bingung harus usaha apalagi untuk bisa hidup di situasi (pandemi) sekarang ini, sementara untuk cari kerja aja udah susah banget," ucapnya.
Sementara itu, Cecep Rosidin (36) pemilik Cilest Digital Printing yang juga sebagai produsen dari masker jenis scuba meminta pemerintah mempertimbangkan kembali soal larangan memakai masker berbahan scuba bagi masyarakat. Pasalnya, beberapa jenis bahan scuba yang diproduksi pabrikan, memliliki spesifikasi baik, bahkan mampu terbukti tahan air dan bakteri.
"Terlepas dari imbauan pemerintah yang melarang penggunaan masker jenis scuba karena dinilai tidak efektif mencegah penularan, tapi pada kenyataanya beberapa masker scuba memiliki kualitas, bahkan spesifikasi mampu tahan air dan bakteri, contohnya Scuba Maximus yang memiliki bahan lebih tebal sekitar 360 gram dibandinkan dari ukuran standar scuba kain di pasaran. Jadi penilaian yang disampaikan mengenai kualitas masker scuba tidak bisa disamaratakan," ujarnya saat dihubungi melalui telepon. Kamis (24/9/2020).