Musim Kemarau, di Kabupaten Garut Lahan Pesawahan Mulai Mengering, Terancam Gagal Panen

Lahan pesawahan di Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, mulai terdampak musim kemarau

Penulis: Firman Wijaksana | Editor: Ichsan
tribunjabar/firman wijaksana
Mamat (40), petani asal Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu memeriksa saluran irigasi teknis yang mengalami kekeringan hampir tiga bulan, Jumat (18/9). Akibat keringnya irigasi, membuat lahan pertanian terancam gagal panen 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Firman Wijaksana

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Lahan pesawahan di Desa Sukasenang, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, mulai terdampak musim kemarau. Sekitar tujuh hektare lahan pertanian padi mengalami kekeringan.

Kepala Desa Sukasenang, Iwan Ridwan, mengatakan, sejak beberapa pekan terakhir aliran air ke lahan pertanian mulai berkurang. Hujan yang tak turun jadi penyebabnya.

Padahal lahan pertanian di wilayahnya tengah bersiap untuk panen. Iwan memprediksi hasil panen kali ini akan berkurang.

"Gagal panen tidak, cuma produksi padinya akan berkurang. Biasanya satu hektare itu bisa menghasilkan delapan sampai 10 ton. Sekarang paling empat ton," ujar Iwan, Jumat (18/9/2020).

Tersangka Wanita Pelaku Mutilasi Juga Diduga Pelakor, Istri Sah Pernah Curhat dan Viral di Medsos

Iwan menyebut, tanah pertanian pun sudah mulai mengalami keretakan. Butir padi di setiap tanaman berkurang akibat pasokan air yang sedikit.

"Lahan pertanian di sini itu mengandalkan air dari Sungai Ciojar yang berasal dari Cipanas. Sekarang agak menyusut karena sudah lama enggak hujan," katanya.

Pihak desa dan warga pun berinisiatif untuk membersihkan saluran air agar bisa mengalit ke lahan pertanian. Iwan juga menambahkan pembersihan saluran air itu juga mendapat dukungan program padat karya dari Disnakertrans.

"Jadi ada program padat karya. Di tengah pandemi ini, warga yang ikut bekerja membersihkan saluran air akan mendapat bayaran. Ada 900 lebih warga di desa kami yang ikut tergabung program ini," ucapnya.

Meski hasil panen nanti tak akan maksimal, para petani tetap bersyukur karena tak sampai gagal panen. Pembersihan saluran air jadi upaya agar tanaman padi tak sampai mati.

"Kami juga antisipasi adanya hama. Jangan sampai hasil produksi berkurang terus diserang hama," ujarnya.

Liga 1 Bakal Diawasi Satgas Anti Mafia Sepak Bola, Begini Kata I Made Wirawan

Tak hanya di Banyuresmi, kekeringan juga menimpa lahan pertanian di Kecamatan Cibatu. Mamat (40), warga Desa Wanakerta menyebut kekeringan sudah terjadi hampir tiga bulan.

Saluran irigasi teknis yang bersumber dari Bendungan Copong kini mengering. Hanya terlihat tanah yang retak di saluran itu.

"Setelah lebaran airnya sudah kering. Akibatnya tanaman padi jadi jelek pertumbuhannya. Banyak yang kosong butirnya itu," ucap Mamat.

Mamat yang tengah menunggu panen berharap produksi padi tak sampai gagal. Minimal ada beberapa ton padi yang bisa dijual untuk modal menanam padi kembali.

"Ya perkiraan satu hektare lahan itu paling hasilnya empat ton. Padahal biasanya bisa 10 ton," katanya

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved