Harga Sayur-mayur di Tingkat Petani Ciamis Hancur, Harga Sekilo Kol Setara Satu Permen
Para petani di sentra sayur mayur Kawasan Agropolitan Sukamantri Ciamis didera kerugian besar.
Penulis: Andri M Dani | Editor: Giri
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Andri M Dani
TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS – Para petani di sentra sayur mayur Kawasan Agropolitan Sukamantri Ciamis didera kerugian besar. Semua itu karena porak-porandanya harga berbagai jenis sayur sebulan ini.
Hampir semua jenis sayur-mayur harganya turun drastis di tingkat petani di daerah Ciamis utara tersebut.
Harga berbagai jenis cabai yang sebulan lalu masih sekitar Rp 15 ribu per kilogram, kini hanya Rp 5.000 per kilogram. Tomat menjadi Rp 500 per kilogram, sawi Rp 300 per kilogramg, lobak Rp 300 per kilogram, dan kubis Rp 300 per kilogram.
“Itu harga di tingkat petani, sayur-mayur sudah tidak laku dijual. Kalau dijual juga harganya murah, lebih murah dari upah petik (panen). Petani sekarang benar-benar kebingungan. Mau bangkit modal sudah menipis terkikis rugi,” ujar Pipin Arif Apilin, petani cabai dan sayur-mayur yang juga Ketua Gapoktan “Karangsari” Desa Cibeureum Sukamantri Ciamis kepada Tribun, Kamis (27/8/2020).
Harga cabai yang semula sempat Rp 15 ribu per kilogram di tingkat petani, pasca-Iduladha terus merosot.
“Sekarang harga cabai rata-rata Rp 5.000 sampai Rp 6.000 per kilogram. Baik itu cabai merah keriting, cabai besar TW, cabai lokal maupun cabai rawit. Sementara biaya pokok produksi (BPP) rata-rata Rp 8.000 per kilogram. Belum lagi ongkos petik,” katanya.
Saat ini para petani, katanya, tengah menghadapi dilema, dipanen rugi tidak dipanen juga rugi.
Akhirnya banyak petani cabai yang membiarkan tanaman cabai mereka matang dan busuk di pohon.
Ada sekitar 20 hektare kebun cabai yang terpaksa ditelantarkan petani. Atau malah dicabuti tanaman cabainya.
Demikian juga sekitar 10 hektare kebun tomat juga ditelantarkan para petani di Sukamantri menyusul anjloknya harga tomat dari Rp 2.000 per kilogram menjadi Rp 500.
”Capek metiknya semenatra harganya murah. Tidak pulang modal . Jadi tomatnya dibiarkan matang dan busuk di kebun,” ujar Pipin.
Belum lagi harga kubis (kol) yang terjun bebas dari Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per killogram kini hampir sebulan ini hanya Rp 300 per kilogram. Satu kilogram kubis harganya setara satu biji permen.
“Kebun kubis saya sekarang satu hektare masa panen karena harganya sudah tidak logis, terpaksa ditelantarkan saja,” katanya.
Kalau ada warga yang mau dipersilakan ambil sendiri.
“Hari ini ada satu mobil kubis dibawa ke Cimaragas, sekitar dua ton. Silakan panen sendiri, bawa sendiri. Sudah ada sekitar 10 ton (kubis) yang dibagi-bagikan secara gratis,” ujar Pipin.
Belum lagi harga lobak dan pecai (sawi) harganya juga rata-rata Rp 300 kilogram. Menurut Pipin, petani sudah tidak bisa berkutik menyusul anjloknya harga berbagai jenis sayur mayur tersebut.
Merosotnya harga berbagai jenis sayur-mayur tersebut, menurut Pipin, terutama akibat rendahnya daya serap pasar akibat dampak Covid-19 yang berkepanjangan.
Sementara hasil panen banyak dan merata di berbagai sentra sayur-mayur.
“Sekarang lagi musim panen di berbagai sentra sayur-mayur. Barang banyak, sementara daya serap pasar rendah. Dampaknya sudah sangat dirasakan, harga jatuh tak kira-kira. Dalam kondisi saat ini sebenarnya petani sangat butuh perhatian dari pemerintah,” katanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/cabai-merah-13062020.jpg)