Ridwan Kamil cs Hari Ini Belum Disuntik Vaksin Covid-19, Baru Dicek Berat dan Tinggi Badan
Gubernur Jabar Ridwan Kamil dan tiga pimpinan daerah lainnya hari ini belum disuntik vaksin Covid-19.
Penulis: Nazmi Abdurrahman | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nazmi Abdurahman
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Gubernur Jabar Ridwan Kamil dan tiga pimpinan daerah lainnya hari ini belum disuntik vaksin Covid-19.
Empat pimpinan daerah di Jawa Barat yang menjadi relawan vaksin Covid-19 baru menjalani pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Garuda, Jalan Dadali, Kota Bandung, Selasa (25/8/22).
Keempatnya itu adalah Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Kapolda Jawa Barat, Irjen Rudy Sufahriadi, Pangdam III Siliwangi, Mayjen TNI Nugroho Budi Wiryanto serta Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jabar, Ade Eddy Adhyaksa.
Pemeriksaan kesehatan itu merupakan bagian dari rangkaian uji vaksin Covid-19.
Rencananya, Ridwan Kamil dan yang lainnya akan kembali ke Puskesmas Garuda pada Jumat 28 Agustus 2020 untuk melakukan kunjungan kedua atau V1 (visit 1).
• TRUK TERGULING dan Melintang di Nagreg, Jalan Ditutup Begini Proses Evakuasinya
Pada kunjungan pertama, keempatnya baru menjalani pemeriksaan kesehatan mulai dari tinggi badan, berat badan, riwayat penyakit hingga menjalani swab test.
"Hari ini kunjungan pertama dari lima kunjungan yang akan kami lakukan sampai enam bulan ke depan, kunjungan pertama ini pemeriksaan untuk memastikan bahwa kami bisa lolos ke tahap ke dua, yang akan dilaksanakan tiga hari dari sekarang (Jumat 28 Agustus)," ujar Ridwan Kamil, di Puskesmas Garuda, Selasa (25/8/2020).

Selain diperiksa kesehatan, Ridwan Kamil bersama Kapolda, Pangdam dan Kajati diminta menandatangi perjanjian sebagai relawan.
"Kami diterangkan risikonya yang sudah kami pahami, tes vaksin ini sejarahnya tidak ada efek samping di tes pertama dan kedua, ini yang meyakinkan kami vaksin ini bakal sukses selama enam bulan ke depan," katanya.
• RATUSAN PRIA DI BANDUNG Siap-siap Jadi Duda, Sidang Cerai di Pengadilan Agama Sampai Antre
Setelah menjalani pemeriksaan, ke empat pejabat itu diperbolehkan untuk tetap menjalani aktivitasnya seperti biasa, namun tetap dengan protokol kesehatan yang ketat.
"Dari penjelasan dokter, proses ini tidak mengubah gaya hidup sehari-hari, tidak ada masalah yang penting melaporkan saja, kalau tiba-tiba ada gejala, nanti tim dokter akan memeriksa apakah dari vaksin ini atau bukan," ucapnya.

• Ronaldinho Akhirnya Benar-benar Bebas dari Status Tahanan Selama 5 Bulan di Paraguay
Atalia Mengaku Was-Was
Atalia Praratya Kamil mengaku was-was hari ini sang suami tercinta Ridwan Kamil mau disuntik vaksin Covid-19.
"Saya tahu menjadi pemimpin tidaklah mudah karena menjadi pemimpin salah satunya juga harus bisa menjadi contoh dan teladan bagi orang yang dipimpinnya," ujar Atalia kepada Tribun, Selasa (25/8/2020).
Menurut Atalia, sebagai istri, ada rasa khawatir dan sedikit was-was karena untuk pertama kali disuntik vaksin Covid-19.
"Kami juga sudah diskusi panjang lebar. Hasilnya, Insya Allah saya siap mendampingi dan mengantar dengan doa," ujar Atalia.
"Mohon doa dari segenap warga agar semua berjalan lancar dan vaksin tersebut betul-betul bisa menjadi satu solusi pengentasan pandemi covid -19," ujar Atalia.
Atalia rencananya akan mendampingi ikut menyaksikan orang nomor satu di Jabar disuntik .
"Saya yang mendampingi Insya Allah karena hanya boleh satu orang yang mendampingi jadi anak anak tidak ikut," ujar Atalia.
Menurut Atalia tak ada persiapan khusus bahkan kegiatan seperti biasa sebelum berangkat pada Selasa (25/8/2020) pukul 12.30.
Atalia ketika ditanya apakah tak bisa tidur menghadapi uji klinis vaksin mengaku sudah siap.
"Kami sekeluarga sudah siap, tidur biasa tidak gelisah, sholat malam, doa seperti biasa," ujar Atalia
• TRUK TERGULING dan Melintang di Nagreg, Jalan Ditutup Begini Proses Evakuasinya
Begini yang Dirasakan 24 Jam Setelah Disuntik Vaksin Covid-19
Fadly Barjadi Kusuma (32),seorang driver ojek online (Ojol) asal Kecamatan Batununggal, Kota Bandung sudah menjalani ujicoba vaksin Covid-19 di RS Pendidikan Unpad, Jalan Eyckman, Selasa (11/8/2020).
Dia datang pukul 10.00 dan keluar sekitar pukul 12.35. Selain Fadly, istrinya, Mira (32) juga sudah daftar jadi relawan vaksin pada Senin (10/8/2020) namun dia belum mendapat panggilan.
"Alhamdulillah tadi lancar. Disuntik vaksinnya cuma kurang dari 1 menit. Istri sudah daftar jadi relawan juga, katanya nanti sesi dua," ujar Fadly di RS Pendidikan Unpad di Jalan Eyckman, Kota Bandung Selasa (11/8/2020).
Bersama istrinya, meski ber KTP Kota Bandung, Fadly dan Mira menempati rumah kontrakan di Kecamatan Margaasih Kabupaten Bandung. Sejak tiga tahun terakhir, dia bekerja sebagai pengemudi ojek online.
Hari ini, sedari pagi Fadly sudah mempersiapkan mental untuk disuntik vaksin setelah pada Senin (10/8/2020) malam dia dikabari harus datang ke RSP Unpad untuk suntik vaksin. Dia melewatkan menerima orderan mengantar penumpang.
"Setelah ini, mungkin saya aktifkan lagi ponselnya siapa tahu ada orderan antar penumpang. Setelah itu pulang ketemu istri dan anak," ucap Fadly.
Ditanya soal motivasi ikut jadi relawan, Fadly mengaku itu demi kebaikan dirinya sendiri serta istri dan anaknya. Apalagi, ia setiap hari berjibaki di jalanan mengantar penumpang.
"Saya kerja di luar. Pas saya pulang, saya tidak mau bawa virus sampai istri anak jadi korban. Motivasi besarnya buat masyarakat juga, setelah ini berhasil kan bermanfaat buat orang lain juga," ucapnya.
Sejauh ini, uji coba vaksin virus corona ini pertama kali dilakukan di dunia pada manusia. Untuk vaksin Sihovac buatan China, sudah masuk fase uji coba ke tiga yakni pada manusia.
"Soal efek samping, sempat takut sih. Tapi saya sudah melewati fase takut itu. Tapi yang paling saya takutkan itu, saya tidak bisa kerja dan tidak bisa nafkahi anak istri," ucapnya.
Rencananya, uji vaksin ini akan dilakukan pada 1,620 relawan. Informasi yang dihimpun, saat ini sudah ada 1,200 relawan. Ia mengajak warga lainnya untuk sama-sama uji coba vaksin, selagi masih ada kesempatan.
"Jangan takut divaksin. Kalau takut efek samping, perbanyak baca. Jangan terlalu percaya hal-hal lain. Kita harus waspada dengan Covid," ujar Fadly.

19 Relawan Divaksin Covid-19
Sembilan belas relawan vaksin Covid-19 mendapat penyuntikan pertama di Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Universitas Padjadjaran (Unpad) di Jalan Eyckman, Kota Bandung, Selasa (11/9/2020).
Penyuntikan pertama itu disaksikan langsung oleh Presiden Joko Widodo bersama Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, Menteri BUMN Erick Thohir dan Kelapa BNPB, Doni Monardo serta rombongan lainnya.
Ketua Tim Peneliti Uji Klinis vaksin Covid-19, dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof Kusnandi Rusmil mengatakan awalnya ada 21 relawan yang akan disuntik vaksin hari ini, namun yang datang hanya 19 relawan.
"Sudah, tadi 19 sesuai dengan swab kemarin, kemarin kan 21 diswab, tapi yang datang 19, mungkin yang tadi satu kurang sehat," ujar Kusnandi, saat ditemui di RSP, Unpad, Selasa (11/9/2020).
Setelah mendapat suntikan pertama kata dia, 14 hari kemudian 19 relawan itu harus kembali datang ke RSP untuk mendapat suntikan kedua.
Setelah dua kali disuntik, kata dia, baru enam bulan kemudian dicek lagi.
"Jadi habis dua kali suntik diambil darah, terus akhirnya diperiksa lagi darahnya," katanya.
Dalam uji vaksin tahap ketiga ini, kata dia, ada dua efek samping yang akan dirasakan oleh relawan yakni lokal dan sistemik.
"Kalau lokal bengkak, berapa besar bengkaknya, nanti kita lihat, kalau sistemik, panas, berapa panasnya, jadi gitu, mereka semua lapor," ucapnya.
Kusnandi memastikan tidak ada istilah gagal dalam uji vaksin ini.
Sebab, kata dia, ini merupakan uji klinis tahap ketiga.
"Diduga selama ini enggak ada efek sampingnya, kan ini yang ketiga, kalau banyak efek sampingnya dari dulu sudah tidak bisa lagi, sekarang ketiga," katanya.
Selain di Indonesia, kata dia, ada sejumlah negara lain seperti India, Brazil, Bangladesh, dan Turki yang sama-sama mengembangkan vaksin Covid-19 ini. Lagi pula, kata dia yang menentukan gagal atau tidaknya vaksin itu WHO.
"Tidak ada orang yang bisa ngomong ini gagal, yang bisa cuma WHO, karena kalau vaksin itu komitmen global, karena akan diberikan kepada semua orang, jadi yang bertanggung jawab adalah WHO, makanya di beberapa tempat," ucapnya.

Jokowi Yakin Vaksin Segera Diproduksi Bio Farma
Masyarakat di Indonesia bakal menjadi prioritas penyaluran vaksin Covid-19 yang tengah dikembangkan oleh PT Bio Farma.
Direktur Utama PT Bio Farma, Honesti Basyir mengatakan, saat ini vaksin tersebut masih dilakukan uji klinis dan menunggu izin produksi dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).
"Prioritas untuk dalam negeri dulu," ujar Honesti Basyir, saat ditemui di Rumah Sakit Pendidikan (RSP) Universitas Padjadjaran, Jalan Eyckman, Kota Bandung, Selasa (11/9/2020).
Diperkirakan, kata dia, nantinya bakal ada sekitar 160 juta masyarakat Indonesia yang diprioritaskan untuk mendapatkan vaksin.
Setiap orangnya, kata dia, membutuhkan dua dosis untuk vaksinasi.
"Tahun depan itu target ada 160 juta populasi yang harus divaksin, satu orang itu dua dosis, artinya kita harus menyiapkan vaksin 320 juta dosis," katanya.
Setelah kebutuhan masyarakat Indonesia terpenuhi, PT Bio Farma baru melakukan ekspor vaksin ke negara lain.
Rencananya, uji klinis tahap ketiga dan izin dari (BPOM) keluar pada Januari 2021.
PT Bio Farma sendiri, kata dia, memiliki kapasitas produksi sebanyak 100 juta vaksin dalam satu tahun.
Pada Desember 2020, kata dia, akan ada gedung baru yang menambah kapasitas produksi vaksin sebanyak 150 juta dosis per tahun.
"Yang lagi dilihat Presiden itu gedung baru, itu bisa menambah 150 juta dosis per tahun, akan selesai Desember.
Artinya Desember ini secara kapasitas, kita sudah siap 250 juta dosis," ucapnya.
Presiden Joko Widodo menambahkan, pihaknya merasa optimistis vaksin yang sedang dilakukan uji klinis ini dapat menangani Covid-19 di Indonesia dengan masyarakat Tanah Air sebagai prioritas.
"Kita optimis dengan segera ditemukannya vaksin ini, kita bisa kasih vaksin ke seluruh rakyat," ujar Joko Widodo. (Tribunjabar.id/Nazmi Abdurahman)