Senin, 20 April 2026

Kisah Pembuatan Bendera Merah Putih yang Dikibarkan saat Pembacaan Proklamasi,Dijahit Istri Soekarno

Kisah Pembuatan Bendera Merah Putih yang Pertama Kali Dikibarkan saat Pembacaan Proklamasi, Dijahit Istri Soekarno

Editor: Fidya Alifa Puspafirdausi
dok
Upacara penaikan bendera sang merah putih di halaman gedung pegangsaan timur 56 (Gedung Proklamasi). Tampak antara lain Bung Karno, Bung Hatta, Let,Kol. Latief Hendraningrat (menaikkan bendera) Ny. Fatmawati Sukarno dan Ny.S.K Trimurti. 

Kisah Pembuatan Bendera Merah Putih yang Pertama Kali Dikibarkan saat Pembacaan Proklamasi, Dijahit Istri Soekarno

TRIBUNJABAR.ID - Kemerdekaan Indonesia menyimpan fakta unik, salah satunya pembuatan bendera merah putih.

Sesuai sejarah, bendera merah putih yang dikibarkan pada 17 Agustus 1945 dijahit istri Soekarno, Fatmawati.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dilaksanakan di depan rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No 56 Jakarta pukul 10.00 WIB.

Kain berwarna merah yang dijadikan bendera disebut berasal dari tenda warung soto.

Fatmawati sudah membuat bendera merah putih sebelum 16 Agustus 1945.

Lantaran kekecilan, Fatmawati menyuruh pemuda untuk mencari kain merah untuk bendera pusaka.

Menurut penuturan Lukas Kustaryo, pada majalah Intisari edisi Agustus 1991, dia lantas berkeliling dan akhirnya menemukan kain merah yang tengah dipakai sebagai tenda sebuah warung soto.

Akhirnya Fatmawati menjahit bendera merah putih yang baru dengan ukuran 276 x 200 cm malam itu juga untuk digunakan keesokan harinya.

Bendera tersebut dikibarkan pada 17 Agustus 1945 sekaligus menjadi bendera pusaka di kemudian hari.

Sang Saka Merah Putih terakhir kali berkibar pada 1969, kemudian pemerintah RI membuat bendera duplikat dengan ukuran 300 x 200 cm.

Namun, penuturan Lukas Kustaryo soal asal usul kain merah bendera merah putih itu berbeda dalam Buku Catatan Kecil Bersama Bung Karno, volume 1, terbit 1978.

Fatmawati.
Fatmawati. (Net)

Dikutip dari Sosok.grid.id, Fatmawati menceritakan dari mana dia mendapatkan kain untuk bendera merah putih tersebut.

Dalam buku itu, Fatmawati menceritakan, suatu hari di bulan Oktober 1944, saat kandungannya sembilan bulan, datang seorang perwira Jepang membawa kain dua blok.

Satu blok kain putih dan satu blok kain merah.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved