Bantu Sesama Musisi, Ray-M Buka Sekolah Musik Saat Pandemi Covid-19
Ray Martosono alias Ray-M merupakan musisi muda multi instrumentalis yang hingga sekarang masih
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ray Martosono alias Ray-M merupakan musisi muda multi instrumentalis yang hingga sekarang masih memegang rekor MURI dalam memainkan alat musik terbanyak yaitu 18 alat musik.
Ia juga merupakan aktivis seni dan Founder Ray-Mate Community yang merangkul dan menaungi para seniman muda dan berbakat.
Sebagai seniman yang ingin mendukung pertumbuhan seniman lain, ia kerap kali membuat acara-acara seni yang bertujuan untuk mewadahi komunitas-komunitas seni di Indonesia.
Bahka saat ini banyak sekali seniman muda yang datang untuk dibimbing oleh Ray dan sampai saat ini sudah lebih dari 5000 orang yang datang ke Ray-Mate Community.
• Meski Sudah Nol Kasus Covid-19, Disdik Sumedang Masih Kaji Belajar Secara Tatap Muka
Di masa pandemi Covid-19, Ray justru membuka sekolah musik Never End Music School yang berada di Jalan Gatot Subroto no 42.
"Sekolah musik ini sebenarnya sudah dibangun sebelum muncul pandemi dan saya ingin menggerakan edukasi musik Indonesia," ujar Ray, Kamis (30/7/2020).
Ia melihat untuk belajar musik, seseorang membutuhkan mentor, tidak bisa hanya belajar dari media sosial.
Meskipun bisa mengikuti apa yang ada di media sosial, Ray menekankan hal yang penting lainnya dalam bermusik adalah membangun karakter.
Ia tak menampik di masa pandemi ini, para musisi juga terkena dampaknya.
Tidak ada jadwal manggung di berbagai event membuat musisi harus banting stir dan mencari cara lain untuk bertahan hidup.
"Adanya sekolah musik ini, saya ingin membantu teman-teman musisi untuk bisa berkegiatan lagi," ujar Ray.
• Gibran Lawan Kotak Kosong di Pilkada Solo Kian Jelas, Partai Milik Prabowo Tambah Kekuatan
Sekolah musik Never End Music School juga telah dibuat dengan penerapan sosial distancing.
Misalnya saja pada bagian kelas piano, terdapat sekat kaca yang nantinya bisa digunakan untuk murid dan mentornya.
Ray menceritakan matinya kegiatan musik di Bandung berdampak pada kondisi musisi yang harus menjual alat musiknya.
"Iya banyak teman saya artis lain yang sampai jual alat musik. Bahkan saya juga sempat buka bengkel restorasi untuk mendapat uang," ucap Ray.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/ray-m-saat-bermain-saxophone-tampil-di-jalan-gatot-subroto-no-42-kota-bandung-bersama-muridnya.jpg)