Ini Penjelasan Ahli, Soal Sumber Air Panas di Gunung Tikukur Rajamandala yang Tak Ada Gunung Berapi

Menurut para ahli Kepala Bidang Panas Bumi PSDMBP Arif Munandar, mata air panas di kawasan Saguling bukanlah sesuatu yang misteri

tribunjabar/syarif pulloh anwari
Air Panas Itu Muncul dari Dalam Bebatuan di Gunung Tikukur, Masih Misteri karena Bukan Gunung Api 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Pulloh Anwari

TRIBUNJABAR.ID, CIPATAT - Keberadaan sumber mata air panas di Gunung Tikukur, Kampung Cipanas, Desa Rajamandala, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat masih disebut misteri, lantaran di kawasan itu tak ada gunung aktif atau gunung berapi.

Namun menurut para ahli Kepala Bidang Panas Bumi PSDMBP Arif Munandar, mata air panas di kawasan Saguling bukanlah sesuatu yang misteri, karena dalam keilmuannya hal itu masuk kedalam panas bumi non vulkanik

"Panas bumi ini dibagi menjadi menjadi dua, sistem vulkanik dan sistem non vulkanik. Kalau yang ini, berdasarkan data base Pemda Jabar yang pernah melakukan inventarisasi melalui survei tinjau secara umum ini masuk pada panas bumi non vulkanik, karena berada di lingkungan "Bukan" gunung api, " ujar Arif melalui sambungan telepon, Minggu (2/8/2020).

Air Panas Itu Muncul dari Dalam Bebatuan di Gunung Tikukur, Masih Misteri karena Bukan Gunung Api

"Yang di Saguling kita klasifikasikan sebagai 'titik panas bumi Saguling'. Biasanya air panas non vulkanik ini memiliki temperatur relatif rendah sehingga potensinya masuk ke law sampai medium, " ucapnya.

Kemunculan air panas itu bukan dari gunung api, dimungkinkan berasal dari patahan/sesar dan bisa pula sebagai gradien thermal atau juga heat sweep.

Sistem panas bumi sesar – tektonik biasa disebut heat sweep. Berkaitan dengan zona sesar dan rekahan pada kedalaman di daerah yang memiliki heat flow yang tinggi.

Umumnya terjadi pada tumbukan antar lempeng (plate collision), atau pada sesar aktif. Sumber panasnya berupa kerak benua yang mengalami deformasi.

Air meteorik masuk di kedalaman, makin dalam gradien thermal makin panas. Sudah itu kena panas dibawah muncul lagi ke permukaan, sehingga air panas. Umumnya di non vulkanik.

Sementara, keberadaan sumber panas yang di kawasan Saguling, itu juga sering dijumpai diwilayah lain di Indonesia, yang banyak dijumpai seperti di sepanjang Sesar Sumatera, Sesar Palu-Koro dan Sesar Sorong.

"Sumber panas itu juga ada didaerah lain seperti di Sulawesi banyak dan Sumatera, " ucapnyaucapnya.

Sementara itu, keberadaan air panas itu sudah terdata terakhir Pemda Jabar inventarisasi sejak tahun 2003.

Arif mengatakan air panas di kawasan Saguling tergolong bertempertaur rendah dan sangat cocok dimanfaatkan untuk pemandian air panas.

"Makanya tidak direkomendasikan untuk penyelidikan lebih detail lagi untuk pembangkit listrik. Kita sarankan untuk panas bumi bertemperatur rendah ini untuk dimanfaatkan secara langsung seperti wisata atau budidaya ikan. 44 derajat celcius. Ph nya netral sekitar 7 untuk pemandian air panas memang sangat cocok, " pungkasnya 

Penulis: Syarif Pulloh Anwari
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved