Serial KOPID Þrotection
Tim dosen FK Unisba melalui penelitiannya, menginisiasi pengembangan instalasi pelindung untuk tenaga medis yang diberi nama serial KOPID Þrotect
TRIBUNJABAR.ID,- Di tengah kasus Covid-19 yang masih relatif tinggi, berbagai lapisan masyarakat Indonesia terus berupaya membantu pemerintah dalam menangani pandemi tersebut. Salah satunya adalah para dosen yang tergabung dalam tim peneliti Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Bandung (Unisba).
Keterbatasan Alat Pelindung Diri (APD) untuk tenaga medis yang ada saat ini terlihat dari berbagai segi, keterbatasan dari segi keamanan, kuantitas, kenyamanan maupun jangka waktu penggunaannya yang masih menimbulkan permasalahan. Tim dosen FK Unisba melalui penelitiannya, menginisiasi pengembangan instalasi pelindung untuk tenaga medis yang diberi nama serial KOPID Þrotection. Prototipe KOPID Þrotection terdiri dari tiga desain yaitu KOPID §hield, KOPID 3@se dan KOPIDμobile.
Ketua tim peneliti, Dr. Maya Tejasari dr., M.Kes., mengatakan, prototype pertama yaitu KOPID§hield dibuat sebagai suatu instalasi pelindung berupa partisi antar ruang untuk pengambilan Spesimen Covid-19 dengan tingkat keamanan yang memenuhi standar. Standar tersebut mencakup keselamatan biologi (biosafety) yaitu mencegah transmisi infeksi serta standar ergonomis yang berhubungan dengan desain yang nyaman dan baik. Instalansi ini menggunakan material yang mudah didapat, dapat digunakan dalam jangka waktu panjang serta dapat dimanfaatkan di berbagai fasilitas kesehatan.
KOPID§hield merupakan partisi yang memisahkan ruangan secara kedap sempurna sehingga tidak terjadi percampuran udara antara zona pasien dengan zona tenaga medis. KOPID§hield menjamin tidak terjadinya transmisi infeksi dari pasien kepada tenaga medis yang bertugas. Partisi ini dilengkapi dengan peralatan penunjang yang ditempatkan secara ergonomis sehingga prosedur pengambilan spesimen swab tetap dapat dilakukan secara akurat sekalipun disekat oleh partisi. Instalasi partisi ini dilengkapi disinfectan sprayer untuk meminimalisir resiko transmisi antar pasien.
Penggagas pengembangan desain instalasi partisi ini adalah para inventor dosen peneliti Unisba yang dimotori oleh Dr. Maya Tejasari dr., MKes dengan anggota tim yang terdiri dari Dr. Yani Triyani dr., SpPK., MKes , Dr. Titik Respati, drg., MScPH, Dr. Lelly Yuniarti, S.Si.,M.Kes, dan Dr. Wida Purbaningsih dr., MKes. Tim inventor peneliti ini bekerjasama dengan konsultan ahli teknik Ir. Hikmat Alitamsar, MM yang berpengalaman dalam bidang desain dan pembuatan fasilitas kesehatan yang memenuhi standar keselamatan biologi (biosafety).
Rektor Unisba Prof. Dr. H. Edi Setiadi, S.H., M.H., sangat mengapresiasi upaya tim peneliti menciptakan alat untuk membantu penanganan dan pencegahan covid-19. “Bagi Unisba pengembangan serial KOPIDÞrotection ini merupakan prestasi yang nyata dalam menterjemahkan Tridarma Perguruan Tinggi. Sebuah kesatuan yang menunjukkan dosen Unisba mampu melaksanakan kegiatan seorang pengabdi dan peneliti yang secara bersama-sama berjuang secara maksimal untuk menghasilkan sesuatu yang secara nyata bermanfaat bagi masyarakt,” ungkapnya.
Prof. Edi, berharap, terciptanya alat ini dapat membantu mengurangi beban tenaga Kesehatan baik di Rumah Sakit maupun fasilitas Kesehatan lain untuk sama-sama “berperang” dalam menanggulangi Covid-19. “Mudah-mudahan karya tim peneliti ini bisa diterima dan bisa bermafaat bagi masyarakat. Saya yakin karya ini akan menjadi pendorong bagi peneliti-peneliti muda lain untuk terus berkarya,” harapnya.
Sebagai langkah dalam melaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM), Instalasi partisi ruang aman ini kemudian diserahkan secara simbolis melalui aplikasi video conference zoom oleh Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi, S.H., M.H. kepada Direktur Rumah Sakit Al Islam Bandung Muhammad Iqbal, dr., Sp.Pd., disaksikan oleh jajaran pimpinan di tingkat Universitas dan Fakultas, Selasa (21/4). Melalui ketersediaan dan pemasangan instalasi partisi ruang aman ini di RSAI Bandung diharapkan keselamatan dan kenyamanan tenaga kesehatannya dapat lebih terjamin sehingga mereka dapat melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Rumah Sakit Al Islam (RSAI) Muhammad Iqbal, dr., Sp.Pd., mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Unisba yang telah membantu RSAI dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam menghadapi pandemik Covid-19 melalui alat ini. Diakuinya, selama ini terdapat hal spesifik dalam pelayanan pada pasien Covid-19 yaitu kewaspadaan yang tinggi dan memerlukan alat-alat bantu yang cukup banyak. “Di antaranya adalah alat pelindung diri yang harus digunakan oleh seluruh petugas. RSAI telah melakukan pemeriksaan diagnostik salah satunya dengan swab yang dilakukan langsung kepada pasien karena memang jumlahnya belum begitu banyak, tetapi apabila jumlahnya cukup banyak tentu memerlukan effortyang lebih besar,” jelasnya.
Menurutnya, lahirnya inovasi ini dapat memudahkan tim medis untuk melakukan pemeriksaan swab dengan respon yang cepat. “Selama ini swab yang dilakukan itu dikirim ke lab. kesehatan daerah yang berada dijalan sederhana. Memang butuh waktu yang cukup lama untuk menghasilkan hasil yang biasanya sekitar satu minggu,” katanya.
Untuk semakin menjamin keamanan tim medis, tim peneliti FK Unisba kemudian meningkatkan kualitas dan kegunaan instalasi pelindung untuk tenaga medis, dengan mengembangkan prototype kedua yang diberi nama KOPID3@se. Tujuannya, agar tim medis bisa semakin aman dan efisien ketika berinteraksi dengan pasien dalam melakukan prosedur diagnostic Covid-19.
KOPID3@se merupakan instalasi multiguna yang memisahkan zona pasien dengan zona tenaga kesehatan secara kedap sempurna dilengkapi sistem tekanan negatif yang telah terkalibrasi sehingga dapat mencegah resiko transmisi agen infeksius, termasuk Covid-19, dari pasien kepada tenaga kesehatan. Dr. Maya Tejasari menerangkan instalasi ini juga dilengkapi dengan High Efficiency Particulate Air (HEPA) filter serta didesain secara ergonomis dengan memenuhi standar keselamatan biologi sehingga tenaga kesehatan cukup menggunakan APD sederhana.
Dijelaskannya, KOPID3@se ini dilengkapi dengan peralatan pendukung untuk melakukan prosedur diagnostik seperti, anamnesis, pemeriksaan fisik, rapid test/pengambilan darah, dan pengambilan spesimen swab yang terintegrasi dalam satu lokasi, sehingga juga dapat meminimalisir resiko transmisi antar pasien. “Sama halnya dengan semua desain dalam serial KOPIDÞrotection, KOPID3@se ini juga memiliki kelebihan karena dapat digunakan dalam jangka waktu panjang, dibuat menggunakan material yang mudah didapat, serta dapat dikembangkan secara luas di seluruh fasilitas kesehatan,” ujarnya.
KOPID3@se buatan tim dosen peneliti FK Unisba ini diserahkan secara simbolis melalui aplikasi video conference zoom oleh Rektor Unisba, Prof. Dr. H. Edi Setiadi, S.H., M.H. kepada Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Al-Ihsan Provinsi Jawa Barat, dr. Dewi Basmala Gatot, MARS, Selasa (19/5). Dr. Dewi berharap, melalui ketersediaan dan pemasangan instalasi multiguna Kopid3@se ini, keamanan dan kenyamanan tenaga kesehatan akan lebih terjamin sehingga dapat melaksanakan tugas dengan optimal.
Menurutnya, bantuan alat ini sangat bermanfaat karena hingga saat ini penularan Covid-19 sangat tinggi virulensinya. ”Kita lihat banyak RS dan tenaga kesehatan mengalami penularan sehingga banyak juga yang meninggal, dengan adanya alat ini akan menjamin safety untuk para tenaga kesehatan baik itu para dokter dan perawat,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/kopid-unisba1.jpg)