Dedi Mulyadi 15 Tahun Hidup di Kantor dan Rumah Jendela Terbuka, Kritik Gedung DPR Minim Ventilasi

Anggota DPR RI Dedi Mulyadi mengaku tak nyaman diam diri berlama-lama di dalam gedung DPR RI di Senayan, Jakarta.

Penulis: Ichsan | Editor: Ichsan
istimewa
Dedi Mulyadi di depan rumahnya dengan jendela terbuka lebar 

TRIBUNJABAR.ID - Anggota DPR RI Dedi Mulyadi mengaku tak nyaman diam diri berlama-lama di dalam gedung DPR RI di Senayan, Jakarta.

Pasalnya, ruangannya minim ventilasi dan terlalu banyak alat pendingin alias AC. Apalagi, kata Dedi, di tengah pandemi Covid-19 ini, ruangan DPR rawan penularan virus corona akibat minimnya ventilasi.

"Saya jarang nongkrong di gedung DPR dan lebih banyak berkeliling ke masyarakat karena gedung DPR itu gak nyaman. Karena ruangannya tertutup oleh pendingin udara dan tak ada ventilasi," kata Dedi melalui ponselnya, Senin (29/7/2020).

Dedi mengatakan, setiap kali masuk kantor untuk rapat, ia memilih menunggu tidak di dalam ruangan, melainkan di luar ruangan sambil berkeliling.

Sesekali ia menemui dan berbincang-bincang dengan satpam. Setelah jam rapat tiba, ia baru masuk ruangan.

"Setelah rapat pun saya langsung pulang. Saya pakai AC hanya di dalam mobil. Itu pun 24 derajat," ujar mantan Bupati Purwakarta itu.

Ia menilai, gedung DPR layak direnovasi terutama berkenaan dengan ventilasi. Menurutnya, gedung itu harus memiliki banyak ventilasi dan mengurangi alat pendingin. Jendela-jendelanya harus terbuka lebar.

"Sebab udara Indonesia itu masih bagus. Tinggal perbanyak pohon-pohon dan buka semua jendela saat siang hari agar ada sirkulasi udara," katanya.

Misteri Anak Ditemukan Tewas di Dalam Toren di Cicalengka Terungkap, Ini Kata Kapolresta Bandung

15 Tahun Jendela Kantor dan Rumah Selalu Terbuka

Dedi mengatakan, saat orang lain sibuk kantor tertutup tanpa ventilasi dan jadi tempat virus corona, ia mengaku sudah 15 tahun hidup di kantor dengan jendela terbuka.

Hal itu terjadi saat ia mulai menjabat sebagai wakil bupati hingga bupati Purwakarta dua periode.

"Saya 15 tahun hidup di kantor dan rumah dengan jendela terbuka," katanya.

Menurutnya, jendela di kantor harus terbuka agar sirkulasi udara lancar. Sirkulasi udara penting untuk memperbaharui udara di dalam ruangan.

"Siklus udara sangat penting bagi kehidupan manusia. Jadi ketika saya mulai jadi wakil bupati, hal pertama yang saya lakukan adalah mengganti jendela kaca dengan kayu dan memastikan pendingin udara dimatikan," katanya.

Dahulu di Purwakarta, kata Dedi, ada mitos bahwa bupati sering sakit. Menurutnya, hal itu wajar terjadi karena ruangan kerjanya selalu tertutup. Kondisi ruangannya sudah puluhan tahun tak berubah.

"Udara lama yang dihirup bupati lama dihirup lagi oleh bupati baru. Wajar sering sakit, karena ruangannya gak ada ventilasi," kata Dedi.

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved