Kamis, 16 April 2026

Warga Dawuan Subang Ubah Sampah Jadi Pupuk dan Pembasmi Hama, Tak Ada Perhatian Pemerintah

Sampah kerap kali menjadi permasalahan yang tak kunjung selesai dan hampir selalu ada di setiap daerah.

Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Ichsan
tribunjabar/nandri prilatama
Warga Dawuan Subang Ubah Sampah Jadi Pupuk dan Pembasmi Hama 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, SUBANG - Sampah kerap kali menjadi permasalahan yang tak kunjung selesai dan hampir selalu ada di setiap daerah. Tapi, ternyata sampah pun bisa diolah menjadi hal yang memiliki nilai dan bermanfaat.

Seperti yang dilakukan sekelompok warga masyarakat di Subang. Mereka mengatasnamakan sebagai masyarakat peduli lingkungan (MPL) di RW 2, Desa Rawalele, Kecamatan Dawuan.

MPL yang diketuai oleh Nana Sujana (30) mampu mengubah sampah menjadi pupuk dan cairan pembasmi hama.

Tapi, sebelum itu mereka perlu memilah sampah-sampah tersebut baik organik atau non organik. Kemudian memasukkannya ke dalam wadah pembakar yang memang sudah dimodifikasi sedemikian rupa.

Tolak RUU HIP, Ribuan Orang Geruduk Gedung DPRD Majalengka

Nana menceritakan awal mula dirinya bersama para rekannya berinisiatif mengolah sampah-sampah ini ialah lantaran di sekitar wilayahnya banyak sekali sampah yang dibuang sembarangan oleh warga sekitar sehingga merusak estetika lingkungan.

"Sampah banyak sekali di mana-mana mulai sungai sampai pinggir jalan. Lalu, warga sekitar ada yang ahli teknisi mesin dan membuatlah kompor pembakarannya untuk bisa mengubah sampah itu menjadi pupuk," ujarnya, beberapa waktu lalu.

Kompor pembakar sampah yang tampak terbuat dari rangkaian drum bekas mereka modifikasi dengan ada di dalam drum itu rangka besi untuk penghancurnya. Lalu, dibuat pula kompor yang didesain khusus untuk alat pembakarannya.

"Bahan bakarnya cukup dengan seliter oli dan air. Oli bekas kami beli dari bengkel-bengkel atau ada pula yang memberinya. Biasanya kalau beli itu satu liternya Rp 2.000," kata Nana.

Meskipun mereka telah berhasil mengubah sampah yang awalnya jadi masalah menjadi bermanfaat ini, tetap saja mereka tak mendapat perhatian dari pemerintah desa setempat untuk pengembangannya.

3 Terdakwa Kasus Korupsi RTH Kota Bandung Ditahan di Lapas Sukamiskin, Jalani Isolasi Mandiri

"Ya pemerintah desa hingga pemkab belum pernah melirik usaha kami. Tapi, justru pemerintah di luar Subang, seperti Sukabumi dan Kalimantan ada yang berkunjung ke sini bahkan memesan hasil karya kami," katanya.

Biasanya sampah yang didapatkan ini selain dari sampah yang dibuang sembarangan, ada pula sampah yang langsung dikirimkan warga setempat atau 3 RT. Dalam tiga hari mereka bisa menghasilkan pupuk sebanyak 50 kilogram dalam sekali proses. Sampah dari tiga hari itu sebanyak 1 mobil pikap.

"Panasnya ini dalam sekali pembakaran bisa mencapai 700 derajat. Sebenarnya paling lama pembakaran untuk mengubah jadi pupuk atau cairan pembasmi ini ialah sampah dari popok bayi yang memang sering kali kami temui di sungai-sungai," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved