Ade Sisihkan Penghasilannya Untuk Bayar Iuran Jkn-Kis

Kesehariannya sebagai tukang ojek pangkalan, Ade Sugandi (54) rajin menyisihkan uangnya untuk membayar iuran JKN-KIS.

Istimewa
Kesehariannya sebagai tukang ojek pangkalan, Ade Sugandi (54) rajin menyisihkan uangnya untuk membayar iuran JKN-KIS. 

Soreang, TRIBUNJABAR.ID– Kesehariannya sebagai tukang ojek pangkalan, Ade Sugandi (54) rajin menyisihkan uangnya untuk membayar iuran JKN-KIS. Kepesertaannya sebagai peserta JKN-KIS bermula ketika anaknya harus dilakukan lahiran secara caesar. Menanti cucu pertamanya, menggugah dirinya untuk bekerja keras pergi pagi pulang malam mengojek untuk sekedar membantu meringankan beban biaya untuk anaknya. Namun sadar ketika dirinya mengingat biaya yang sangat besar untuk proses lahiran anaknya, kerja keraspun tidak akan cukup untuk memenuhinya. Sehingga Ade dan sekeluarga mendaftarkan menjadi peserta JKN-KIS.

“Awalnya takut tidak bisa bayar waktu daftar jadi peserta BPJS, tapi lebih khawatir lagi jika kami sekeluarga tidak punya BPJS, mun inget biaya operasi caesar mah duh gusti uang ti mana (kalau ingat biaya operasi caesar ya Tuhan uang dari mana),” ujar Ade pada saat ditemui di kediamannya (14/05).

Saat kelahiran cucunya, bapak dari tiga anak ini merasa tenang dan tidak khawatir. Menyambut cucunya yang pertama rasa bahagia tercurahkan olehnya.

“Alhamdulillah cucu saya lahir, sedih kalau harus ingat masa lalu mah, banting tulang segimanapun juga kalau tukang ojek mah ya tidak akan bisa membayar biaya lahiran, apalagi suami anak saya juga kerjanya serabutan, jadi saya masih punya tanggung jawab untuk biaya anak saya,” ucap Ade dengan sedihnya.

Bersyukur yang bisa diungkapkan oleh Ade dan sekeluarga karena berkat dirinya dan sekeluarga terdaftar menjadi peserta JKN-KIS akhirnya segala biaya proses lahiran caesar Riska anaknya ditanggung oleh BPJS Kesehatan. Meskipun Ade sendiri belum pernah menggunakannya, ia selalu menyisihkan sebagian dari penghasilan mangkal sebagai tukang ojek untuk selalu membayar iuran JKN-KIS setiap bulannya.

“Berapapun hasilnya yang didapat saat ngojek, tetap disyukuri, dipakai untuk kebutuhan sehari-hari dan ada lebihnya saya tabung untuk keperluan kesehatan keluarga yaitu dengan cara membayar iuran BPJS Kesehatan,” ungkap Ade.

Ada alasan mengapa ia tidak mendaftarkan dirinya menjadi tukang ojek online dan hanya sebatas menjadi tukang ojek pangkalan, karena keterbatasan matanya melihat tulisan kecil dan merasa dia sudah tua sehingga masih awam untuk menggunakan hanphone sebagai alat dasar penggunaan ojek online. (BS/ir)

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved