Breaking News:

Kasus Novel

KPK Dinilai Tidak Peduli

KPK seharusnya menerapkan obstruction of justice untuk menjerat pihak yang merintangi penyidikan kasus korupsi yang tengah ditangani oleh Novel

ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK A via Kompas.com
Penyidik KPK Novel Baswedan (kiri) 

Kuasa Hukum Novel Baswedan, Saor Siagian, mengaku heran oleh sikap petinggi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tidak menyuarakan kepedulian atas nasib yang dialami oleh Novel Baswedan. Saor mengatakan KPK bahkan tidak menyampaikan protes terkait vonis ringan terhadap pelaku penyerangan Novel.

"Yang kami heran bahwa KPK tidak pernah peduli," kata Saor dalam diskusi daring, Minggu (21/6).

Menurutnya, KPK seharusnya menerapkan obstruction of justice untuk menjerat pihak yang merintangi penyidikan kasus korupsi yang tengah ditangani oleh Novel. Hal itu juga selaras dengan rekomendasi Komnas HAM.

"Oleh karena itu, dengan apa yang dulu disarankan dengan Komnas HAM, KPK bisa gunakan itu obstruction of justice dan saya kira ini kesempatannya," jelasnya.

Saor mengatakan sejumlah petinggi KPK bahkan banyak menerima ancaman, namun pelakunya belum tertangkap.

"Saya kira kawan-kawan, Pak Agus (mantan ketua KPK Agus Rahadjo, Red) dan Pak Laode (Komisioner KPK Laode Muhamad Syarief, Red) yang juga diserang. Sayaingat bahwa polisi berjanji, schedule-nya bahwa tanggal sekian akan saya tangkap dan saya informasikan siapa pelakunya," kata Saor.

Novel menegaskan dia menyangsikan kedua terdakwa yang dihadirkan di pengadilan adalah aktor utama penyiraman air keras kepadanya. Kecurigaan tersebut, kata Novel, bahkan disampaikan di pengadilan.

Dua terdakwa kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan adalah Rahmat Kadir Mahulette dan Ronny Bugis. Keduanya adalah personel Satuan Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

"Saat proses penyidikan dilimpahkan jadi proses penuntutan, saya bertanya hal yang sama, apakah benar jaksa meyakini bahwa dua orang ini adalah pelakunya. Apa latar belakang bukti dan hal yang membuat jaksa yakin dengan hal tersebut," kata Novel dalam diskusi daring, siang ekmarin.

Novel mengatakan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari penegak hukum. "Bahkan (jaksa, Red) tidak terlalu memahami perkara tersebut. Karena itu hanya pelimpahan dari Kejati kepada jaksa di Kejari Jakarta Utara," katanya.

Novel mengatakan saksi-saksi yang berada di sekitar kediamannya juga menyangsikan kedua terdakwa merupakan aktor penyerangan yang membuat salah satu matanya buta. Beberapa tetangganya, ujar Novel, kerap melihat sejumlah orang yang mengintai rumah Novel sebelum aksi penyerangan.

"Saya bertanya kepada mereka apakah yakin orang itu pelakunya. Sebagian mengatakan bahwa mereka bukan pelakunya dan sebagian mengatakan mereka tidak yakin. Dari situ saya melihat tidak ada satu pun yang punya keyakinan atau sedikit keyakinan bahwa mereka pelakunya atau mirip dengan pelaku," ujar Novel.

Dia juga menyayangkan penyidik yang tidak menjadikan rekaman CCTV di sekitar kediaman rumahnya untuk mengungkap siapa pelaku penyerangannya. Padahal menurut Novel, rekaman tersebut berharga untuk mengungkap pelaku.***

Editor: Deni Ahmad Fajar
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved