Dua Alat Rapid Test dari Jabar Masuk Tahap Pengujian, Siap Diproduksi Nassal pada Juli 2020
Dua alat deteksi Covid-19 yang dikembangkan Unpad dan ITB, memasuki tahapan validasi pengujian terhadap sampel virus aslinya, yakni SARS-CoV-2.
Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Dedy Herdiana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Syarif Abdussalam
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Dua alat deteksi Covid-19 yang dikembangkan Unpad dan ITB, memasuki tahapan validasi pengujian terhadap sampel virus aslinya, yakni SARS-CoV-2.
Kedua alat yang diuji itu adalah Deteksi CePAD atau Rapid Test 2.0, dan Surface Plasmon Resonance (SPR).
Koordinator Peneliti Rapid Test Covid-19 Unpad dari Fakultas MIPA, Muhammad Yusuf, mengatakan validasi ke sampel virus dilakukan setelah kedua alat tersebut tervalidasi di laboratorium.
• Pertama di Indonesia, Bio Farma dan Unpad Ciptakan Laboratorium BSL Mobile untuk Uji Covid-19
• RSUD dr Slamet Garut Kini Punya Laboratorium PCR, Swab Test Bisa Lebih Cepat
"Kami bekerja sama dengan beberapa pihak dalam validasi ini. Saat ini, formulasi dan uji CePAD di skala laboratorium terhadap protein virus sudah menunjukkan hasil yang baik, jadi bisa dilanjutkan ke validasi di lapangan" kata Yusuf melalui ponsel, Kamis (18/6/2020).
Yusuf menjelaskan, perbedaan Rapid Test 2.0 dengan rapid test yang umum digunakan saat ini adalah molekul yang dideteksinya.
Rapid test Covid-19 yang umum mendeteksi antibodi, sedangkan Rapid Test 2.0 ini mendeteksi antigen.
Sehingga, kata Yusuf, Rapid Test 2.0 dapat mendeteksi virus lebih cepat karena tidak perlu menunggu pembentukan antibodi saat tubuh terinfeksi virus.
"Konsep deteksi antibodi maupun antigen keduanya bagus dan berdasar pada teknologi yang benar. Deteksi antibodi saat ini keunggulannya pada samplingnya yang lebih mudah, dari darah. Namun, deteksi antibodi pada Covid-19 lebih tepat untuk tracing, ingin tahu virus sudah menyebar di mana saja," ucapnya.
Deteksi antigen sendiri, ujarnya, bisa digunakan untuk mengetahui penyebab orang sakit ketika sedang menunjukkan gejala seperti demam dan batuk.
Sedangkan jika orang baru terpapar virus beberapa hari, deteksi antibodi kemungkinan besar negatif atau nonreaktif karena antibodi terhadap virusnya belum terbentuk.
Yusuf mengatakan, pihaknya bersama mitra industri sedang melengkapi fasilitas assembly rapid test dan produksi 5.000 kit pada Juni ini untuk keperluan validasi.
Setelah validasi menunjukkan hasil yang baik, pada Juli 2020, pihaknya akan memproduksi 10.000 kit, kemudian dilanjutkan 50.000 kit per bulan sesuai dengan kapasitas produksi mitra saat ini.
Jika diperlukan lebih banyak, kata Yusuf, pihanya mengajak partisipasi berbagai pihak untuk meningkatkan kapasitas produksi tersebut.
"Cara kerja Rapid Test 2.0 ini, sampel swab dicampurkan ke larutan khusus, kemudian diteteskan ke alatnya. Sama dengan rapid test yang sekarang, 10-15 menit hasilnya keluar. Selain swab nasofaring, kami juga sedang mengembangkan sampling dari air liur," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/alat-rapid-test-dari-jabar-masuk-tahap-pengujian-siap-diproduksi-nassal-pada-juli-2020.jpg)