Breaking News:

Feature

VIDEO-Kerupuk Mi Ojay Khas Cimaung Tetap Booming, Tak Terganggu Pandemi Covid-19

Kerupuk yang sudah dicetak itu kemudian dikukus di tempat pengukusan berukuran dua meter ke dua meter. Hanya satu jam kerupuk itu ...

TERIK matahari yang menyengat tak membuat dua pria ini beranjak di lapangan tempat menjemur kerupuk. Mereka membereskan dan memilah-milah kerupuk yang sudang kering.  Panas matahari siang itu adalah berkah buat mereka karena kerupuk hasil olahannya bisa cepat kering.

Di dalam pabrik yang tak jauh dari lapangan itu, puluhan perempuan sangat telaten mencetak kerupuk dari adonan tepung tapioka. Mereka memang sudah ahli menggunakan alat pencetak kerupuk tanpa mesin ini.

Kerupuk yang sudah dicetak itu kemudian dikukus di tempat pengukusan berukuran dua meter ke dua meter. Hanya satu jam kerupuk itu dikukus untuk kemudian dijemur di lapangan atau halaman pabrik itu.

Kesibukan itu terlihat di pabrik kerupuk di Rancasalak, Desa Cimaung, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, Selasa (2/6/2020) siang. Pabrik kerupuk itu merupakan satu-satunya di sana. Namanya kerupuk mi ojay.

Pabrik kerupuk mi ojay ini yang memasok kerupuk mentahan ke rumah-rumah produksi kerupuk sangrai di daerah itu. Di Rancasalak ada sekitar 11 rumah produksi pengolah kerupuk mi ojay. Kerupuk yang sudah disangrai itu oleh pemiliknya diberi merek bermacam-macam.

"Kami memasok kerupuk mentahan ke Pangalengan, Ciwidey, dan Banjaran. Kalau pembuat kerupuk sangrai di sini semuanya ngambil mentahannya di sini," kata pemilik pabrik mi ojay, Maulana Syarif (45) di pabrik miliknya, Selasa (2/6/2020).

Kerupuk mi ojay sudah menjadi kuliner khas di Cimaung. Di sepanjang jalan Banjaran-Pangalengan banyak jongko atau warung yang menjual kerupuk ini. Biasanya pembelinya adalah para wisatawan yang hendak ke Pangalengan atau pulang dari sana.

Kerupuk yang dijual di sana adalah kerupuk yang sudah matang. Kerupuk ini matangnya bukan digoreng, tetapi disangrai menggunakan pasir di wajan berukuran besar.

Menurut Syarif, kerupuk ini booming-nya saat Ramadan. Kalau lagi Ramadan, katanya, produksi beberapa kali lipat dari biasanya. Begitu juga permintaannya bisa berlipat-lipat. 

"Biasanya saya menyetok kerupuk enam bulan sebelum Puasa. Lantaran permintaannya biasa berkali-kali lipat, yang lima bal bisa jadi 20 bal (satu bal sama dengan 5 kg). Yang 10 bal bisa jadi 30 bal, yang biasa 20 bal bisa 50 bal," katanya.

Bahkan ketika pandemi virus korona, kata Syarif, permintaan tidak berkurang. "Ramadan kemarin juga sama begitu. Virus korona tidak  berdampak ke kerupuk, mah," kata Syarif.

Begitu juga dengan penjual kerupuk yang sudah matang. Mereka saat Ramadan ketiban rezeki. Banyak yang mengambil kerupuk yang sudah matang ke sana, seperti ke pabrik kerupuk Si Cepot yang tak jauh dari pabril kerupuk mi ojay.

"Pembelinya datangnya ada yang dari Bojongpulus, Arjasari, Kamasan, Leuwihandap, dan Pangalengan," kata Titi (42), pegawai kerupuk Si Cepot.

Menurut Titi, banyak yang datang ke sini beli eceran. Saat Ramadan, katanya, ada yang membeli tujuh bungkus. Pembelinya menurut Titi, naik motor.

"Kerupuknya disimpan di stang, di mana-mana, difoto di-online-kan. Itu teh buat Lebaran, buat saudara-saudaranya," kata Titi. (*)

Penulis: Januar Pribadi Hamel
Editor: Agung Yulianto Wibowo
Video Production: Dicky Fadiar Djuhud
Penulis: Januar Pribadi Hamel
Editor: Dicky Fadiar Djuhud
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved