Ini Makna Tradisi Maleman yang Dilaksanakan di Keraton Kasepuhan Cirebon
Keraton Kasepuhan menggelar Saji Maleman, tradisi menyambut malam lailatulkadar, Rabu (13/5/2020).
Penulis: Ahmad Imam Baehaqi | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ahmad Imam Baehaqi
TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Keraton Kasepuhan menggelar Saji Maleman, tradisi menyambut malam lailatulkadar, Rabu (13/5/2020).
Namun, pelaksanaan tradisi maleman menerapkan protokol pencegahan penyebaran Covid-19.
Sultan Sepuh XIV, PRA Arief Natadiningrat, mengatakan, ada makna filosofis yang terkandung dalam pelaksanaan tradisi maleman.
Di antaranya, umat Islam harus dalam keadaan bersih dan wangi, khususnya saat menyambut kedatangan lailatulkadar.
• Densus 88 Antiteror Geledah Rumah Terduga Teroris di Tasikmalaya, Temukan Senjata Modifikasi
"Itu makna dari ukup yang dinyalakan sebagai pengharum ruangan di makam Sunan Gunung Jati," ujar Arief Natadiningrat saat ditemui usai kegiatan
Pasalnya, di malam lailatulkadar para malaikat akan turun ke bumi dan mendoakan umat Islam yang saat itu tengah beribadah.
Karenanya, untuk menyambut malam yang dianggap lebih mulia dibanding 1000 bulan itu umat Islam harus menyiapkan diri dengan kebersihan dan keharuman.
• Pengungkapan Uang Palsu Hampir Rp 3 Miliar di Tasikmalaya, Para Tersangka Tak Sempat Edarkan Uang
Arief juga mengingatkan, di malam ganjil dalam 10 hari terakhir Ramadan kaum muslimin disarankan memperbanyak beribadah kepada Allah swt.
Selain itu, menurut dia, dinyalakannya lilin dan delepak menggambarkan hati serta pikiran manusia pun harus terang-benderang.
"Kita harus menyambut malaikat dalam keadaan bersih, wangi, dan terang, melalui salat, zikir, serta doa, yang dipanjatkan," kata Arief Natadiningrat.