Breaking News:

Dakwah Ramadan

Belajar dari Covid-19

“Belajar dari Covid-19”. Kalimat yang sederhana, tapi sangat dalam maknanya. Perlu pemikiran yang jernih untuk menjawab pertanyaan ini.

istimewa/Persis Jabar
Drs. H. Acep Saefuddin, M.Ed. Ketua PD Persatuan Islam Majalengka 

Drs. H. Acep Saefuddin, M.Ed
Ketua PD Persatuan Islam Majalengka

AKHIR-akhir ini ada pemandangan yang menarik di sekolah-sekolah dan instansi pemerintah. Dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional tanggal 2 Mei, kita menemukan spanduk-spanduk yang bertuliskan “Belajar dari Covid-19”. Kalimat yang sederhana, tapi sangat dalam maknanya. Perlu pemikiran yang jernih untuk menjawab pertanyaan, apa yang bisa kita ambil sebagai pembelajaran dari Covid-19 ini.

Covid-19 telah menguras tenaga, pikiran, emosi, bahkan biaya yang tidak kecil. Di Indonesia saja, untuk mengatasi makhluk yang kecil, virus korona yang tak kasat mata itu, pemerintah menganggarkan tak kurang dari Rp 400 triliun.

Ini mengingatkan kita pada firman Allah dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 26. “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: 'Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?' Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan (Allah), dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.”

Dalam Al-Qur’an banyak ayat bercerita tentang binatang, di antaranya surat Al-Ankabut (laba-laba), An-Naml (semut), An-Nahl (lebah), dan yang lainnya. Semua itu diungkap sebagai bahan ibroh atau bahan pembelajaran untuk kita.

Covid-19 telah menyadarkan manusia, betapa mereka adalah makhluk lemah (QS 4: 28). Selama ini kita merasa hebat dengan kemajuan ilmu dan teknologi, tetapi pada menghadapi makhluk kecil, virus korona, pun kita tak berdaya.

Covid-19 telah “merumahkan” manusia sehingga tersadarkan betapa rumah adalah tempat terbaik yang ada selama ini, sebagaimana Rasul Saw mengistilahkan dengan baiti jannati (rumahku surgaku). Di rumah akan tumbuh sikap apresiasi (menghargai) satu sama lain di antara penghuninya. Seorang suami, yang selama ini hanya tahu hidangan sudah tersaji sepulang dari pekerjaan, kini tersadarkan betapa pekerjaan istri sejak menyiapkan makanan hingga tersaji bukanlah pekerjaan sebentar dan mudah.

Seorang istri, yang selama ini hanya tahu menerima gaji suami, kini melihat betapa pekerjaan suami yang dengan terpaksa dikerjakan semuanya di rumah (WFH) itu bukan pekerjaan yang mudah. Ibu harus memerankan menjadi seorang guru bagi anak-anaknya karena harus belajar dari rumah sehingga tersadarkan betapa berat pekerjaan seorang guru dalam mendidik muridnya.

Covid-19 telah mengajarkan betapa sehat itu penting dan berharga. Hingga awal Mei, sudah lebih 12 ribu orang yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Indonesia. Lebih dari 800 di antaranya yang meninggal dunia. Di seluruh dunia tercatat tiga juta lebih yang positif Covid-19 dan 200 ribu lebih di antaranya meninggal.

Covid-19 juga telah "me-reset” bumi ini sehingga kualitas udaranya makin membaik. Science Alert, Selasa (17/3), menyebut adanya penurunan emisi nitrogen dioksida di langit Eropa saat pandemi. Emisi gas buang dari kendaraan bermotor dan asap industri turun secara drastis.

Covid-19 juga telah menyadarkan kita tentang hakikat hidup. Dalam sebuah video di Italia, kita menyaksikan lantunan azan menjadi penenang saat gelisah dan rasa takut meliputi masyarakatnya. Ini menyadarkan kembali, manusia bukan semata seonggok jasad, melainkan juga memiliki dimensi ruhani yang lebih abadi.

Ini semua menjadi pembelajaran yang postif dari Covid-19 yang bisa kita ambil. Menguatkan keyakinan kita bahwa Allah telah “mengutus” Covid-19 untuk mengajarkan kepada kita berbagai hal yang selama ini mungkin terlupakan. Allah tidaklah menciptakan apa pun di dunia ini dengan si-sia (QS 2:191).
Wallahu a’lam.

*) Penulis juga pimpinan Madrasah Aliyah Persis Majalengka dan pernah studi di Deakin University Melbourne, Australia.

Penulis: Oktora Veriawan
Editor: Oktora Veriawan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved