Breaking News:

Dakwah Ramadan

Puasa Sebagai Sekolah Pengendalian Nafsu

Ramadan merupakan proses manajemen pendidikan bagi dua miliaran kaum muslimin di seluruh dunia.

Dr Yusep Solihudien, M.Ag
Kepala Ponpes Persis al-Manar Purwakarta

BERUNTUNGLAH kita detik ini masih dipanggil Allah menjadi peserta training sebulan penuh untuk menginstal ulang hati dan pikiran kita. Sebab, tidak semua orang diberi kesempatan untuk bisa mengikuti sekolah Ramadan ini. Ada banyak orang yang wafat sehingga tidak sampai pada bulan Ramadan tahun ini.

Ramadan merupakan proses manajemen pendidikan bagi dua miliaran kaum muslimin di seluruh dunia. Dalam konteks manajemen pendidikan ilahi ini kita harus memahami dalam empat hal: kondisi input manusia sebelum Ramadan, proses sekolahan Ramadan, pasca atau output, dan outcome Ramadan.

Dalam empat kerangka inilah kita harus memahami sekolahan Ramadan ini. Para ulama sering mendefinisikan puasa (shaum) secara semantik, yaitu al’imsak yang artinya menahan. Jika kata imsak ini dirangkai dengan huruf ‘an artinya “menahan diri” dan jika kita rangkai kata imsak dengan kata bi maka artinya berpegang teguh.

Dua kata ini menjadi kunci dalam proses kehidupan umat manusia. Karena dalam diri kita terdapat tiga jenis nafsu: (1) nafsu amarah (QS Yusuf: 53), yaitu nafsu dorongan untuk melakukan pelanggaran, kejahatan, dan kemaksiatan; (2) nafsu lawwamah (QS Al-Qiyamah: 2), yaitu nafsu syetan yang mendekam dalam diri manusia, ia selalu membisikan dan mengajak berbuat keji, hatinya selalu dikuasai kefasikan dan kemaksiatan; (3) nafsu muthmainnah (QS Al-Fajr: 27-30), yaitu dorongan untuk berbuat kebaikan. Jiwanya merasa tenang, nyaman, dan tenteram dalam aturan-aturan Allah dan berbuat berbagai kebajikan.

Di saat manusia akan melakukan kebaikan, sering terjadi pertarungan tiga kutub besar dalam jiwa. Dalam QS Annas, Allah memberikan penjelasan dua musuh besar dan abadi umat manusia, yaitu musuh internal (“bisikan jahat dalam jiwa”) dan musuh eksternal (“manusia”).

Kita bisa menyaksikan dalam kehidupan kita manusia-manusia yang mengumbar dan mengikuti nafsu negatif tidak mampu mengendalikan nafsunya. Menurut Imam Al-Ghazali, hati itu ibarat raja yang bisa mengomando seluruh pasukan kerajaannya. Pasukan-pasukan hati itu adalah pikiran, mata, telinga, mulut, tangan, dan kakinya. Allah Swt mengatakan dalam QS Jatsiyyah ayat 23, “Maka pernah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai tuhannya....”

Banyak manusia yang menjadikan nafsu amarah dan lawwamah sebagai tuhannya sehingga ia melakukan dosa-dosa besar dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Ada banyak orang melakukan korupsi dari puluhan juta hingga triliunan karena ia tidak mampu mengendalikan nafsu harta duniawiyyah-nya.

Orang melakukan suap-menyuap untuk meraih kedudukan jabatan karena tidak mampu mengendalikan nafsu jabatan. Banyak manusia melakukan perzinaan dan perselingkungan karena ia tidak mampu mengendalikan nafsu syahwat biologisnya.

Banyak orang melakukan mafia hukum, narkoba, copet, rampok, begal, pembunuhan dan pemerkosaan, dan lain-lain. Banyak orang yang meninggalkan salat dengan sengaja tanpa uzur, tidak membayar zakat, tidak menutup aurat, menzalimi orang lain, durhaka pada orang tua, dan lain-lain.

Halaman
12
Penulis: Oktora Veriawan
Editor: Oktora Veriawan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved