Imbas Corona Seorang Ibu Masak Batu di Kenya, di Jabar Pernah Ada, Kisah Serupa di Masa Sahabat Nabi

Kisah seorang ibu memasak batu demi menenangkan anak-anaknya yang kelaparan kembali terungkap. Pernah ada di Jabar dan pada masa Khulafaur Rasyidin

Editor: Dedy Herdiana
Caroline Mwawasi/Tuko via BBC via Kompas.com
Peninah Bahati Kitsao janda 8 anak di Kenya yang memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya yang kelaparan. 

Saking miskinnya dan tidak memiliki apapun untuk dimasak, istri Anun terpaksa memasak sebongkah batu di dalam wajan supaya anak-anaknya yang kelaparan tidak merengek minta makan.

Di gubuk reyot inilah keluarga Anun tinggal selama 35 tahun di Kampung Bolenglang, Desa Sukasari, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur.
Di gubuk reyot inilah keluarga Anun tinggal selama 35 tahun di Kampung Bolenglang, Desa Sukasari, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur. (TRIBUNJABAR/DIAN NUGRAHA RAMADAN)

Hampir 35 tahun Anun tinggal di gubuk reyot berukuran 4x8 meter di Kampung Bolenglang, Desa Sukasari, Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur.

Dari pernikahannya dengan Iyah Khodijah (30), kata Anun, mereka dikaruniai tujuh anak, yakni Diana Safitri (12), Dinda Marisa (10), Risma (9), Ai Lestari (7), Ratna (5), Risna (2), dan Dede Siti Nurazizah (2 bulan). Namun, Risma dan Ai Lestari sejak bayi sudah diambil oleh nenek mereka.

Menurut Anun, ibu kandungnya ingin ikut merawat kedua anaknya.

"Dua puluh tahun saya tinggal di gubuk itu, terus menikah. Kalau tinggal sama istri di rumah itu baru 15 tahun," ujar Anun yang sehari-hari menjadi buruh tani itu.

Tak ada pekerjaan lain yang bisa diandalkan oleh Anun selain "nengah" atau mengurus sawah milik orang lain.

Setiap tiga bulan, ujar Anun, sawah yang ia garap bisa menghasilkan 14 kuintal beras, dan Anun mendapat setengahnya.

Tujuh kuintal beras itu, kata Anun, tentu tak bisa mereka manfaatkan semuanya.

Separuhnya harus dijual, dan uangnya dipakai untuk keperluan menggarap sawah kembali.

"Pernah ketika itu sawah gagal panen dan saya benar-benar tidak punya beras. Anak-anak ribut ingin makan. Beruntung saya suka menanam singkong dan talas, istri kemudian merebus talas sebagai ganti beras. Tapi paling lama kondisi seperti itu berjalan dua hari. Setelah bekerja apa pun, saya pulang pasti bawa beras. Paling parah ya memasak talas itu, atau singkong atau jagung," ujar pria yang nyaris setiap malam memancing lele di kali untuk menambah penghasilan.

Bahkan ketika tidak ada makanan apapun yang bisa dimakan, istri Anun sempat memasak sebongkah batu untuk meredakan tangis dan rengekan anak-anak mereka yang kelaparan meminta makan.

Kondisi itu diketahui oleh Kapolres Cianjur, AKBP Asep Guntur Rahayu, dari rekannya sekitar akhir bulan September.

"Begitu saya dengar, saya bilang, keluarga Anun harus segera ditinjau. Berangkatlah kami, rombongan Polres ke rumah Anun. Begitu sampai di lokasi, benar rumah Anun tinggal dapur saja," ujar Kapolres di Mapolres Cianjur, Selasa (3/11).

Anun, kata Kapolres, tidak bisa mereka usulkan untuk menerima program bantuan rumah tinggal layak huni karena mereka tidak tinggal di tanahnya.

Kapolres pun kemudian mendatangi Kantor Badan Pertahanan Nasional (BPN) sambil berharap dapat menemukan jalan keluar.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved