Darah Pasien Sembuh dari Corona Jadi Incaran di Pasar Online, Vaksin Pasif Disebut Jadi Antibodi
Institut Kriminologi Australia, bagian dari ANU, mengeluarkan laporan resmi mengenai hal tersebut hari Kamis (30/4/2020).
TRIBUNJABAR.ID, AUSTRALIA - Dunia sedang diguncang wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona SARS-CoV-2.
Sampai hari ini, total kematian akibat Covid-19 di seluruh dunia mencapai 228 ribu orang.
Sementara total kasus positif corona di seluruh dunia ada 3 juta orang, sepertiganya ada di Amerika Serikat.
Sedangkan jumlah pasien sembuh adalah 1 juta di seluruh dunia, terbanyak ada di AS dengan 147 ribu orang.
Kini, darah orang-orang yang sudah sembuh dari Covid-19 itu diburu.

Darah yang diduga berasal dari pasien yang sembuh dari virus corona untuk dijual di pasar gelap online.
Plasma dari darah ini disebut-sebut sebagai "vaksin pasif".
Peneliti dari Australia National Univesity (ANU) di Canberra menemukan hal tersebut di internet, ketika mereka melakukan penelitian bagaimana kelompok kriminal berusaha memanfaatkan keadaan sekarang untuk mencari keuntungan.
Institut Kriminologi Australia, bagian dari ANU, mengeluarkan laporan resmi mengenai hal tersebut hari Kamis (30/4/2020).
"Kata yang digunakan adalah vaksin pasif, dimana plasma darah dari pasien yang sembuh dari COVID-19 diambil untuk menjadi antibodi, kemudian disuntikkan kepada seseorang yang mungkin beresiko terkena COVID-19," kata peneliti ANU, Rod Broadhurst kepada ABC.
Penjualan plasma sebagai vaksin pasif merupakan satu dari ratusan produk terkait dengan virus corona yang ditemukan tim peneliti di internet dalam satu hari saja di awal April.
Barang-barang untuk keperluan medis, seperti alat perlindungan diri (APD) yang kemungkinan dicuri dari pabrik, adalah barang yang paling banyak ditawarkan
Obat-obat yang disebut bisa menyembuhkan corona, termasuk anti malaria yang memang sudah lama tersedia secara resmi di pasaran, yang sekarang disebut-sebut bisa juga untuk menyembuhkan mereka yang terkena COVID-19.
Salah satu obat yang ditawarkan harganya sekitar AU$25 ribu (sekitar Rp250 juta).
"Di pasar gelap ini akan ada saja orang yang mau membeli, kalau dikatakan obat ini sedang menjalani uji klinis," kata Profesor Broadhurst.