Syiar Ramadan
Empat Golongan Orang di Bulan Puasa
DATANGNYA Ramadan memecah manusia menjadi empat golongan. Pertama, golongan yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadan.
Penulis: Oktora Veriawan | Editor: Oktora Veriawan
Yudi Cahyadi
Ketua DKM Nurul Iman Melong Green Garden
DATANGNYA Ramadan memecah manusia menjadi empat golongan. Pertama, golongan yang tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadan. Sebelas bulan lalai dari Allah, tidak salat berjemaah, kurang bersedekah, jarang salat malam, dan jauh dari membaca Al Qur’an. Namun, tatkala Ramadan telah tiba, mulai aktif salat berjemaah memakmurkan masjid, mulai membaca Al Qur’an, dan bahkan salat malam sebulan penuh pun bisa dilakukan.
Namun masa-masa itu tidaklah berlangsung lama. Ketika Ramadan berakhir dan bulan telah berganti, lalu tepat di hari pertama di bulan Syawal, semua ibadah itu pun ikut hilang. Mereka inilah Ramadhaniyyun, yakni hanya menjadi pengikut bulan Ramadan.
Kedua, golongan yang tak pernah mengenal Allah, baik di dalam maupun di luar bulan Ramadan. Ramadan tak mampu membuat mereka mengenal dan mendekat kepada Allah. Mereka inilah manusia yang paling celaka dan penuh kesengsaraan.
Hati mereka tidak tersentuh oleh fadilah Ramadan, baik melalui hadis maupun ayat-ayat Al-Qur’an. Itu sebabnya Allah menghukum mereka sebagaimana yang disebut dalam QS Al-Baqarah ayat 7, “Khatamallahu ‘ala quluubihim wa’ala sam’ihim wa’ala abshaarihim ghisyaawatun walahum ‘adzaabun ‘azhiim." Artinya, Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran, serta menutup penglihatan mereka. Bagi mereka siksa yang amat pedih.
Ketiga, golongan yang lalai dari Allah di luar bulan Ramadan, seperti jarang salat berjemaah, jarang bersedekah, jarang baca Al-Qur'an, jarang salat malam, bahkan jarang salat fardu, tetapi ketika Ramadan datang, dia me-refresh cintanya kepada Allah.
Dia maksimalkan ibadah di bulan Ramadan, bertobat nasuha, rajin beristigfar dan ber-muhasabah serta memperbaiki diri. Tak hanya sampai situ, dia pun melanjutkan ibadah serupa di luar bulan Ramadan dan dia istikamah. Kebiasaan ibadah di bulan Ramadan terus dilanjutkan di sebelas bulan yang lainnya.
Hidayah dan taufik yang datang di bulan Ramadan tidak disia-siakannya. Dia terus tenggelam mencintai Allah. Di setiap gerak dan napasnya, dia akbarkan nama besar Allah. Dia benar-benar sudah merasakan betul nikmat dan butuhnya ibadah kepada Allah. Inilah golongan yang berhasil dididik dan ditarbiyah oleh madrasah Ramadan.
Keempat, golongan yang baktinya kepada Allah tak pernah dibatasi bulan Ramadan. Mereka selalu mengingat Allah dan beribadah kepada-Nya, baik di dalam maupun di luar Ramadan. Baik dalam keadaan sempit maupun lapang, mereka senantiasa menjaga salatnya di awal waktu, berjemaah di masjid, membiaskan diri dengan Al-Qur'an, bersujud di tengah malam, dan imannya tidak lekang dengan berlalunya Ramadan. Mereka merasakan terus kehadiran Allah di setiap kedipan mata, getar lisan, dan tarikan napas. Pandangan dan pendengaran dijaga dari perkara yang sia-sia. Setiap waktunya selalu condong untuk kebaikan. Mereka inilah Rabbaniyyun.
Lalu berada di dalam golongan manakah kita? Sejatinya Ramadan menjadi renungan panjang dalam memaknai hakikat ketakwaan kita beribadah di bulan Ramadan. Dalam bukunya Ahlur Rohmah, Syekh Thoha Abdullah Al-Afifi mengutip ungkapan sahabat Nabi Muhammad Saw, yakni Sayidina Ali bin Abi Tholib, tentang takwa, yaitu:
1. Al-khoufu minal jalil, yaitu takut kepada Allah yang Mahamulia.
2. Wal’amalu bit tangziil, yaitu mengamalkan apa yang termuat didalam Al-Qur'an.
3. Wal Isti’daadu li yaa umirrahiil, yaitu mempersiapkan diri untuk hari kematian.
4. War ridhoo bil qoliil, yaitu rida dan puas dengan hidup seadanya.
Dengan takwa, seseorang harus merasa selalu diawasi dan disertai oleh Allah (ma’iyatullah). Insan bertakwa akan memupuk keimanannya dengan muqorobatulloh, yaitu mendekatkan diri kepada Allah dan merasa takut terhadap murka dan azab-Nya, serta selalu berharap atas limpahan karunia dan maghfirah-Nya (QS Al-Imron ayat 33).
Semoga melalui ibadah saum yang kita lakukan, kita akan mencapai derajat takwa dengan amal ibadah yang istikamah dan meraih kemuliaan fidunya wal akhirah. Aamiin ya Rabbal 'Aalamiin. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/yudi-cahyadi-ketua-dkm-nurul-iman-melong-green-garden.jpg)