Syiar Ramadan

Puasa Membentuk Kesalehan Sosial

DALAM ibadah puasa memang ada keutamaan yang teramat besar. Dia memiliki hikmah dan kebajikan yang multidimensional, salah satunya kepedulian sosial.

Penulis: Oktora Veriawan | Editor: Oktora Veriawan

Ustaz Endi Suhendi, MPd
Sekretaris RMI (Asosiasi Pesantren) PWNU Jabar

DALAM ibadah puasa memang ada keutamaan yang teramat besar. Dia memiliki hikmah dan kebajikan yang multidimensional. Tidak hanya pada dimensi moral dan spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial.

Kalau kita lihat dari perspektif pendidikan akhlak, paling tidak ibadah puasa ini memiliki dua semangat. Pertama, semangat pencegahan atau kaffun wa tarkun, yakni pencegahan dari hal-hal yang destruktif atau al-muhlikat. Semangat inilah yang menjadi basis kesalehan individu.

Kedua, semangat pengembangan atau motivasi, yakni memotivasi diri terhadap hal-hal yang memuliakan dan hal-hal yang konstruktif. Kalau kita meminjam bahasa dari Imam Al-Ghazali, yaitu dukungan terhadap hal-hal yang menyelamatkan manusia dan kemanusiaan. Semangat kedua inilah pangkal tumbuhnya kepedulian sosial dalam pribadi yang melaksanakan ibadah puasa.

Dimensi sosial dalam ibadah puasa di antaranya tecermin dari beberapa hal. Pertama, orang yang berpuasa dituntut diri untuk menahan haus dan lapar dari semenjak terbit fajar hingga terbenam matahari. Maka rasa lapar dan haus inilah yang akan menimbulkan rasa kepedulian sosial pada diri individu yang berpuasa.

Orang yang tidak pernah merasakan lapar dan haus akan sulit memiliki rasa empati. Maka pantas ketika malaikat Jibril menawarkan kekayaan kepada Rasulullah berupa gunung emas, Rasulullah menolaknya. Kata Rasulullah, biarlah aku merasakan sehari makan dan sehari lapar. Di saat kita lapar dan haus, di sinilah kita akan sadar ternyata banyak saudara kita yang merasakan lapar dan haus yang mungkin setiap hari mereka rasakan.

Saat kita puasa, kita masih berpikir apa menu buka puasa kita, mau masak apa kita, mau sahur dengan menu apa hari ini. Tapi ingatlah banyak saudara kita setiap hari memikirkan, apa saya bisa makan nanti atau tidak.

Rasa lapar ini ada dua, yakni lapar biologis dan lapar psikologis. Lapar biologis bisa kita obati dengan masuknya makanan ke dalam perut kita maka rasa lapar itu akan hilang. Tapi yang lebih berbahaya itu adalah lapar psikologis, seperti lapar terhadap jabatan, lapar terhadap kekuasaan, dan lapar terhadap harta. Rasa lapar psikologis inilah yang mendorong manusia untuk melakukan hal-hal yang destruktif.

Dimensi sosial yang kedua adalah orang yang berpuasa diperintah untuk lebih banyak bederma dan berbagi. Puasa akan membentuk pribadi-pribadi yang memiliki kepedulian sosial, semangat berbagi, dan semangat memberi, bukan semangat menerima.

Dimensi sosial yang ketiga adalah, di akhir Ramadan, kita diperintah dan diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fitrah. Zakat fitrah ditujukan agar saat Hari Raya semua orang merasakan kebahagiaan, tidak hanya mereka yang kaya yang merayakannya.

Inilah salah satu hikmah Ramadan, yakni membentuk kesalehan individu sekaligus kesalehan sosial. Kesalehan individu yang dibentuk di bulan puasa harus bisa lebih mendekatkan diri kita kepada Allah Swt dan lebih sadar akan pengawasan Allah Swt.

Adapun kesalehan sosial harus terwujud dalam kepedulian kita kepada sesama dan rasa empati kita kepada sesama. Terutama dalam kondisi saat ini yang sedang dalam pandemi Covid-19 yang telah berdampak terhadap berbagai sektor, salah satunya ekonomi.

Saat ini banyak saudara kita yang terkena imbas pandemi Covid-19 yang harus kehilangan mata pencaharian dan penghasilannya sehingga mereka merasakan kesulitan ekonomi. Bahkan mungkin ada di antara saudara-saudara kita yang kesulitaan hanya sekadar memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari. Maka mari kita munculkan rasa empati dan kepedulian sosial sesuai dengan kemampuan kita di bulan Ramadan ini meskipun kita hanya mampu memberikan sepiring nasi kepada mereka. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved