Syiar Ramadan
Keistimewaan Ramadan
Allah telah memberikan keistimewaan pada bulan Ramadan untuk mengistimewakan kita semua. Allah muliakan bulan Ramadan untuk memuliakan umat manusia.
Penulis: Oktora Veriawan | Editor: Oktora Veriawan
Oleh KH Amin Baejuri Asnaf S.Ag M.Pd.I.
(Ketua LD PWNU Jabar/Pengasuh Pesantren Daarul Mubien Assalafie)
ALHAMDULILLAH pada kesempatan kali ini kita diberi berbagai kenikmatan, sebagai bagian dari keistimewaan bulan Ramadan. Allah telah memberikan keistimewaan pada bulan Ramadan untuk mengistimewakan kita semua. Allah muliakan bulan Ramadan untuk memuliakan umat manusia. Karena itu, mari kita semua menggali, memahami, dan mengimplementasikan nilai-nilai kemuliaan Ramadan.
Allah menggambarkan keistimewaan bulan Ramadan melalui firmannya dalam Surat Al-Baqarah ayat 185. Ayat ini diawali dengan syahru yang kemudian diikutkan dengan kata Ramadan yang secara makna berarti membakar.
Lalu apa yang dibakar? Pada dasarnya manusia di bulan Ramadan berpuasa di siang hari, secara physically perutnya dibakar, karena tidak makan dan minum di siang hari. Begitu pun berhubungan suami-istri dilarang pada siang hari.
Ramadan tidak hanya membakar perut, tapi juga harus bisa membakar nilai-nilai dan sifat-sifat negatif yang ada pada diri kita. Ramadan harus mampu membakar sifat keegoan, kesombongan, ketidakjujuran, merasa paling benar, merasa paling tinggi kedudukan dan jabatan kita, serta harus mampu membakar perasaan diri yang paling baik dan benar. Karena sesungguhnya semua yang “paling” adalah hak mutlak milik Allah Swt.
Maka dari itu Ramadan bisa meningkatkan kualitas manusia bagi mereka-mereka yang mampu mengisinya dengan amal ibadah. Sebagaimana hadis dari Rasulullah Saw, “Man qoma romadhona imanan wahtisaban ghofiro lahu ma taqoddama min dzambihi.” Artinya, barangsiapa melakukan puasa dengan rasa iman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lewat.
Pesan Rasulullah, Ramadan harus mampu membakar dan memanaskan nilai-nilai negatif, baik secara fisik maupun secara batiniah dalam diri kita, untuk dikikis dan dihilangkan agar kita menjadi orang-orang yang ghofiro lahu ma taqoddama min dzambihi.
Ramadan juga mendapat keistimewaan dari Allah Swt karena di bulan ini diturunkan firman-Nya yang sangat mulia sebagai wahyu kepada baginda Rasulullah Saw yang berisikan 30 juz, 114 surat, 6.666 ayat, dan kurang lebih 110 ribu kosakata, yakni “hudan lin naas wa bayyinatin minal huda wal furqan”, yaitu petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan dari pentunjuk tersebut serta pembeda antara yang haq dan yang batil.
Karena itu, di bulan Ramadan ini, kita dituntut untuk menggali nilai-nilai ilmu di dalam Al-Qu’ran sehingga Ramadan disebut juga sebagai syahru madrasah, yaitu bulan edukasi: manusia yang telah memasuki bulan Ramadan berarti dia telah masuk ke kampus untuk menggali nilai-nilai keilmuan dan untuk meningkatkan kualitas ibadah baik di dalam syariah, muamalah, maupun ubudiyah.
Ramadan juga sebagai bulan riyadhoh atau latihan. Semua aktivitas yang baik di bulan Ramadan bisa melatih diri kita terbiasa melakukan hal yang sama di 11 bulan lainnya pasca-Ramadan.
Salah satu riyadhoh yang harus kita lakukan hari ini adalah latihan menghadapi Covid-19 atau virus korona di bulan Ramadan. Allah Swt dalam firmannya di surat Al-Anbiya ayat 35 berpesan “Wa nabl kum bisy-syarri wal-khairi fitnah, wa ilain turja'un,” yang berarti “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”
Mari kita pahami Ramadan yang Allah turunkan dengan penuh keistimewaan dan musibah Covid-19 yang juga Allah turunkan. Mari kita sama-sama berikhtiar dengan maksimal dan bertawakal dengan maksimal kepada Allah Swt. Insyaallah, pada waktunya kita akan mampu melewati ujian ini dengan baik, dengan khusus dan khidmat, dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, dalam rangka totalitas kita beribadah kepada Allah Swt. (*)