Syiar Ramadan

Rukun-rukun Berpuasa

Rukun berpuasa wajib hukumnya dilaksanakan. Jika rukun puasa ini dilaksanakan maka sempurnalah puasanya seseorang.

Penulis: Oktora Veriawan | Editor: Oktora Veriawan

RUKUN berpuasa wajib hukumnya dilaksanakan. Jika rukun puasa ini dilaksanakan maka sempurnalah puasanya seseorang. Sebaliknya jika satu saja rukun ini tak dilaksanakan maka tidak sah puasanya seseorang.

Rukun puasa ada dua. Yang pertama adalah niat dan kedua adalah menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak dari terbit fajar sampai waktu magrib.

Niat ini adalah menyegaja hati untuk melakukan puasa dan tempatnya adalah dalam hati. Namun biasanya umat muslim di berbagai tempat, untuk memudahkannya, setelah melaksanakan salat tarawih, imam mengajak bersama-sama para jemaahnya untuk mengucapkan atau melaksanakan niat ini.

Kewajiban niat ini didasarkan dari hadist yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Imam Muslim, Nabi bersabda “Innamal a'maalu bin niyyah” yang berarti sesungguhnya sahnya ibadah itu tergantung dengan niatnya.

Karena kita akan melaksanakan ibadah puasa Ramadan maka kita wajib untuk berniat, memantapkan hati kita akan melaksanakan puasa. Untuk kesempurnaan niat ini, dalam fiqihnya mazhab Imam Safi’i, ada beberapa syarat tambahan. Pertama, niat ini harus dilaksanakan pada malam hari sebelum fajar. Yang dalam istilahnya dikenal dengan istilah tabyitun niyyah.

Didasarkan dari hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ad-Daruquthni dan Imam Al Baihaqi, Nabi bersabda ‘Man lam yubayyitish shiyam qoblal fajri fala siyama lahu’ artinya barang siapa yang tidak melaksanakan niat (untuk puasa) sebelum fajar maka tidak sah puasanya”. Berdasarkan hadist ini, Imam Safi’i mengambil kesimpulan bahwa niat puasa bulan Ramadan dilaksanakan sebelum terbitnya fajar.

Berbeda dengan mazhab di luar Imam Safi’i, yaitu Imam Abu Hanifah beliau menyatakan diperbolehkan untuk berniat puasa, termasuk puasa wajib, melaksanakan niatnya itu di pagi hari, yang penting belum zuhur dan belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa. Menurut Imam Abu Hanifah diperbolehkan niat puasa pagi hari, jam 08.00. Niat puasa Ramadan menurut beliau boleh dilaksanakan pada pagi hari.

Selanjutnya untuk kesempurnaan niat menurut Imam Safi’i adalah menentukan jenis puasa apa yang akan dilaksanakan. Jadi niat melaksanakan puasa, puasanya apa. Seperti ‘Nawaitu sauma ghadin an'adai fardi syahri ramadhani’ maka kita berniat untuk berpuasa Ramadan.

Yang selanjutnya, niat ini harus berulang-ulang, artinya tiap hari tiap malam untuk bulan Ramadan, seseorang harus melaksanakan niat. Malam pertama niat, malam kedua niat, malam ketiga niat, setiap malam harus niat. Berulang-ulang harus melakukan niat. Ini adalah menurut mazhab Imam Safi’i.

Namun menurut mazhab Imam Malik, boleh seseorang niat puasa Ramadan hanya di awal bulan Ramadan untuk melaksanakan puasa Ramadan satu bulan penuh. Maka ini adalah sebagai solusi bagi umat Islam jika memang seseorang ingin puasa Ramadan dengan niat bisa penuh puasanya satu bulan, satu kali niat, maka disarankan ia bisa mengikuti taklid Imam Malik. Atau seseorang pun bisa bertaklid kepada Imam Abu Hanifah jika dia lupa melaksanakan niat pada malam hari, dia boleh berniat pada pagi hari.(*)

KH Ahmad Yazid Fattah
Ketua Aswaja Center NU Jabar

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved