Kenakan APD Berasa Panas, Begini Kisah Pemulasaraan Pasien PDP Meninggal di RSUD 45 Kuningan
Pemulasara dilakukan Jumat (3/4/2020) menjelang dini hari. Menurutnya, jasad PDP tidak dimandikan seperti pada umumnya.
Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai
TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN – Wawan salah seorang petugas pemularasa di Rumah Sakit Umum Daerah 45 Kuningan mengaku panas dan kehabisan tenaga. Terlebih ketika mengenakan alat pelindung diri (APD) saat melakukan prosesi fardu kifayah atau pemulasara jenazah pasien dalam pengawasan (PDP).
“Selama dua jam berpakaian APD, saya sendiri di kamar isolasi,” ungkap Wawan saat memberikan keterangan kepada awak media, Sabtu (4/04/2020).
Meski tidak positif, kata Wawan, namun dia waspada dalam pencegahan terhadap penularan Covid-19.
“Tetap saya lakukan sesuai saran tim medis dan memang protokol Covid-19 begitu,” katanya.
Dia menjelaskan pemulasara jenazah PDP ini memang sangat jauh berbeda dengan kasus kematian lainnya.
“Antara mayat korban kecelakaan atau terjangkit HIV/ AIDS jelas berbeda banget. Terutama dalam kewaspadaan saya saat di situ,” kata Wawan.
Pemulasara dilakukan Jumat (3/4/2020) menjelang dini hari. Menurutnya, jasad PDP tidak dimandikan seperti pada umumnya.
“Saya gantikan untuk bersih–bersih. Korban PDP itu menggunakan tayamum,” ujarnya.
Seusai melakukan tayamum, kata Wawan, jasad PDP dikafani dan dibungkus plastik. “Untuk menjaga cairan atau hawa keluar dari jasad tadi, saya bungkus pakai plastik hingga tiga lapis dan saya yakin aman,” ungkap Wawan.
Untuk penyerahan jasad korban PDP ke rumah duka, Wawan menyebutkan, juga dibungkkus kantong mayat ketika di ambulans.
“Kami serahkan korban ke rumah duka atau sebagai pihak keluarga,” ujarnya.
Dua Kali Gunakan APD
Sesaat seusai melakukan fardu kifayah di ruang isolasi, kata Wawan, setelah dua jam dia akhirnya membuka APD.
“Saya buka lantaran Kapolsek Ciniru mengontak saya melalui telepon pribadinya,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/wawan_kuningan.jpg)