Breaking News:

Pasca Tiga Warga Terserang DBD, Lingkungan di RW 09 Cipamokolan Kota Bandung Langsung Di- Fogging

Ketua RW 09, Dedi Sobandi mengatakan, upaya ini, juga sebagai wujud antisipasi tanggap darurat dari aparat kewilayahan

Tribun Jabar/Cipta Permana
Seorang petugas melakukan penyemprotan fogging ke setiap sudut rumah di wilayah RT 10 RW 09 Kelurahan Cipamokolan, Kecamatan Rancasari, Kota Bandung sebagai upaya pencegahan dan penanganan bahaya DBD yang telah sempat melada beberapa warga di wilayah tersebut, Selasa (17/3/2020). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kembali mewabahnya kasus Demam Berdarah Dengue ( DBD) di beberapa daerah saat ini termasuk di Kota Bandung, menjadi hal yang harus diantisipasi oleh masyarakat selain bahaya penyebaran virus corona.

Hal inilah yang menginisiasi masyarakat di RW 09 Kelurahan Cipamokolan Kecamatan Rancasari untuk menggelar aksi pemberantasan nyamuk Aedes Aegypti melalui teknik pengasapan atau fogging di seluruh rumah warga khususnya, tempat penampungan air yang menjadi media sarang perkembangbiakan nyamuk tersebut.

Ketua RW 09, Dedi Sobandi mengatakan, upaya ini, juga sebagai wujud antisipasi tanggap darurat dari aparat kewilayahan, atas musibah DBD yang telah menyerang beberapa warganya selama kurun waktu lima bulan terakhir.

Awas Nyamuk DBD Bersarang di Talang Air, Hal Itu Diingatkan Langsung oleh Wakil Wali Kota Bandung

"Kegiatan fogging dilakukan di RT 01 hingga RT 12 di RW 09, sebagai langkah antisipasi penularan DBD di masyarakat. Apalagi, berdasarkan hasil pendataan kesehatan selama lima bulan terakhir, terdapat tiga orang warga di RT 02, 03, dan terbaru warga di RT 10 yang harus dirujuk ke rumah sakit karena terserang DBD. Berkaca dari hal itu dan upaya koordinasi dengan Puskesmas Cipamokolan, maka kegiatan fogging pun dapat dilaksanakan," ujarnya saat ditemui di sela kegiatan fogging di RT 10 RW 09. Selasa (17/3/2020).

Dedi menuturkan, selain kegiatan fogging, upaya pencegahan dini lainnya senantiasa dilakukan oleh masyarakat di RW 09, salah satunya dengan pengoptimalan para juru pemantau jentik (jumantik) yang rutin dan periodik memeriksa kondisi penampungan dan saluran air dari rumah ke rumah. Serta, aksi kerja bakti secara berkala dari setiap wilayah RT masing-masing.

"Kami berharap, masyarakat senantiasa menerapkan pola hidup bersih dan sehat, karena upaya fogging ini bukan menjadi solusi jitu untuk memutus mata rantai dari penyebaran DBD, tetapi dibutuhkan juga peran serta dan kepedulian masyarakat untuk dapat menjaga kebersihan lingkungan, terutama disekitar tempat tinggalnya masing-masing," ucapnya.

Hal senada disampaikan oleh Ketua RT 10 RW 09, M. Afandi. Menurutnya, upaya pemberantasan sarang nyamuk Aedes Aegypti melalui program kegiatan kerja bakti, menjadi agenda rutin dua bulan sekali yang digelar oleh seluruh warganya. Terlebih, pasca munculnya kasus DBD yang menyerang salah seorang warganya, program kerja bakti dan pencegahan dini lainnya pun akan terus diintenisifkan.

"Seiring dengan situasi darurat kesehatan di berbagai daerah di Indonesia saat ini yaitu, DBD dan Covid-19, maka upaya pencegahan dini akan terus kami lakukan, apalagi wabah DBD ini tidak dapat diprediksi dan dapat menyerang kapanpun dan siapapun. Sehingga peningkatan kesadaran kesehatan di masyarakat menjadi poin utama yang harus terus dilakukan," katanya (cipta permana).

Penulis: Cipta Permana
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved