Jambore Kompas Gramedia Cyclist

Menembus Hutan Bunder Ditemani Gemericik Hujan

Jambore Kompas Gramedia Cyclist (KGC) 2020 berjalan sukses, Sabtu dan Minggu (14-15 Maret). Menempuh rute mulai dari Alun-Alun Ciwidey ke Curug Malela

Menembus Hutan Bunder Ditemani Gemericik Hujan
tribun jabar/oktora veriawan
JAMBORE KGC 2020 - Para goweser berfoto bersama di salah satu spot tumpukan batu di Gununghalu, Sabtu (14/3). Batu-batu tersebut menurut warga sekitar adalah batu serpihan sisa tendangan Sangkuriang dalam legenda Tangkubanparahu. Tumpukan batu tersebut menjadi salah satu spot yang dilalui goweser peserta Jambore KG Cyclist yang menempuh rute Ciwidey-Curug Malela. 

BANDUNG, TRIBUN - Jambore Kompas Gramedia Cyclist (KGC) 2020 berjalan sukses, Sabtu dan Minggu (14-15 Maret). Menempuh rute mulai dari Alun-Alun Ciwidey sebanyak 40 peserta ari anggota KGC Jakarta, KGC Bandung, dan Tribun Jabar Cyclist Community (TCC) melintasi jalanan menuju Gununghalu via Hutan Bunder dengan jarak total kurang lebih 28 kilometer.

Rute yang dilewati peserta merupakan kombinasi antara tipe road dan adventure. Perjalanan dari titik start hingga ke Kantor Kecamatan Ciwidey yang berjarak 5 kilometer cukup menguras tenaga karena peserta sudah menapaki tanjakan yang lumayan berat. Jalanan yang dilalui cukup baik karena merupakan jalan beton.

Kondisi jalan Hutan Bunder
Kondisi jalan Hutan Bunder (tribun jabar)

Selanjutnya, peserta harus melewati jalanan desa dengan beberapa bagian aspal yang terkelupas menembus hutan sepanjang 5 kilometer hingga sampai di pos peristirahatan terakhir di perkebunan the PTPN VIII.
Setelah menyantap makan siang, perjalanan kembali dilanjutkan meniti jalanan desa hingga ke pertigaan Celak

Datar Puspa sejauh 4,3 kilometer. View hamparan kebun teh mengiringi para goweser melintasi jalur ini.
Kemudian trek tipe adventure dimulai dari Celak Datar Puspa hingga ke Jembatan Tonjong. Untuk rute kali ini dibagi menjadi dua etape yakni Celak Datar-Situ Rancabolang sejauh 4,8 kilometer dan Hutan Bunder-Jembatan Tonjong sejauh 4,3 kilometer.

Jalur setelah melewati Hutan Bunder.
Jalur setelah melewati Hutan Bunder. (tribun jabar/oktora veriawan)

Untuk kedua etape ini benar-benar menguras stamina dan adrenalin. Peserta harus menuruni jalanan menurun berbatu, seperti trek offroad. Selain itu ada juga beberapa tanjakan berbatu yang harus dilalui. Apalagi saat melintasi jalan berbatu tersebut hujan turun cukup deras. Para goweser harus meniti rute dengan ekstra waspada karena jalanan menjadi licin.

Situ Rancabolang
Situ Rancabolang (tribun jabar)

Selain licin, beberapa genangan air pun menambah tantangan bagi goweser. Bahkan aliran air membentuk selokan-selokan kecil di sepanjang jalanan sehingga perlu ekstra fokus untuk melewati trek tipe adventure ini.
Akhirnya jalanan jelek berbatu dan Hutan Bunder bisa dilalui semua peserta tanpa terkendala apapun. Selepas Jembatan Tonjong, kondisi jalanan cukup bagus menuju garis finish di Masjid Agung Gununghalu sejauh 4,5 kilometer.

Jembatan Tonjong
Jembatan Tonjong (tribun jabar/oktora veriawan)

Setelah beristirahat semalam di Gununghalu, para peserta melanjutkan petualangan bersepedanya ke Curug Malela sejauh 16,5 kilometer. Trek menuju Curug Malela cenderung cukup baik dengan kondisi jalanan beraspal hingga ke lokasi parkiran. Kombinasi jalanan menanjak, datar, dan menurun, harus dilalui goweser. Namun rasa lelah terobati dengan view pemandangan yang cukup indah dengan latar belakang lembah dan perkebunan teh.

Tim Jambore KGC 2020
Tim Jambore KGC 2020 (tribun jabar)

Rohmat, Ketua KGC, mengatakan kegiatan Jambore KGC 2020 ini adalah kegiatan jambore yang kesepuluh kalinya. “Jambore KGC ini adalah lebarannya para goweser KGC untuk bersepeda bareng. Kegiatan ini digelar setahun sekali. Kita sharing, kumpul-kumpul, ngobrol bareng, meninggalkan sejenak kepenatan kita dalam bekerja,” kata dia.

Lisa, Goweser Cantik KGC
Lisa, Goweser Cantik KGC (tribun jabar/oktora veriawan)

Salah satu peserta cantik yang ikut dalam Jambore KGC, Lisa, mengatakan jika trek yang dilalui dari Ciwidey hingga Gununghalu cukup menantang. “Rutenya mantap. Jalannya turun naik. Tapi yang bikin seru itu jalanannya itu lho, kerikil-kerikil dan ada sedikit dramatisnya karena ditemani rintik hujan lebat. Baju saya basah dan sesampainya digaris finish sampai kering lagi,” kata dara asal Jakarta ini.(oktora veriawan)

Penulis: Oktora Veriawan
Editor: Oktora Veriawan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved