Warga Darangdan Purwakarta Demo Proyek KCIC, Forum DAS Minta Pemerintah Bersikap Adil
Proyek nasional kereta api cepat (KCIC) menjadi proyek besar yang membentang mulai Jakarta hingga ke Bandung
Penulis: Muhamad Nandri Prilatama | Editor: Ichsan
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama
TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Proyek nasional kereta api cepat (KCIC) menjadi proyek besar yang membentang mulai Jakarta hingga ke Bandung, salah satunya melewati wilayah Darangdan, Purwakarta.
Puluhan warga Desa Sirnamanah pun tampak berunjuk rasa meminta penggantian lahan sawah yang digunakan oleh pemerintah untuk proyek ini. Sudah hampir enam bulan warga yang terdampak KCIC di Sirnamanah, Darangdan ini tak mendapatkan kejelasan ganti untungnya.
Ketua Umum Komunitas Pohon Indonsia yang juga anggota mitra Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Jabar, Dadi Ardiwinata yang ikut bersama-sama warga berunjuk rasa ini mengaku sangat miris melihat kondisi di lapangan.
Dia mengakui memang ada banyak lahan produktif yang tak bisa kembali dimanfaatkan usai galian tanah proyek KCIC ini menimbun lahan sawah para warga.
"Hari ini puluhan warga menyampaikan aspirasi mereka karena lahannya terdampak oleh timbunan dari galian tanah untuk kereta api cepat. Lalu, ada pula infrastruktur irigasi yang sudah tak berfungsi sehingga menjadi tak produktif lagi," ucapnya.
• Kondisi Terkini Geoffrey Castillion, Lutut Lawan Hantam Pahanya, Dokter Sebut Sakit Sekali
Pada prinsipnya, Dadi menyebut para warga yang berunjukrasa mendukung program pemerintah tapi dengan prinsip keadilan sesuai sila kelima.
"Keberadaan pemerintah itu kan melindungi harta benda, jiwa raga, dan kehormatan. Dan di sini saya melihat tak ada lagi unsur itu. Jadi, saya bersama warga menyampaikan informasi ini ke pihak terkait agar dapat ada titik penyelesaian yang saling menguntungkan untuk kesejahteraan rakyat sesuai pembangunan nasional," ujarnya.
Puluhan warga dari Kampung Nangeleng, Desa Depok, Kecamatan Darangdan, menggerudug lokasi pengurugan tanah proyek kereta cepat (KCIC) yang berada di Kampung Curug, Selasa (18/2/2020).
Puluhan warga ini meminta pemerintah pusat untuk membayarkan ganti untung akibat proyek nasional ini.
• Bocah yang Hanyut di Parit Babakan Ciparay Bandung Berhasil Ditemukan di Waduk Saguling
Salah seorang warga, Atini (50) warga Putat, Desa Sirnamanah, Kecamatan Darangdan mengatakan keluarganya kelaparan karena mata pencaharian satu-satunya yakni pertanian justru tertimbun oleh urugan tanah yang dilakukan oleh pihak KCIC.
Dia mengaku sudah tiga kali lakukan pertemuan tapi hingga saat ini tak ada terealisasi ganti untungnya.
"Geura dibayar, geus tiga kali teu berhasil pemerintah (segera bayar, sudah tiga kali tidak berhasil pemerintah) yang justru merugikan kami sebagai rakyat kecil," ujar Atini sambil menangis.
Sehari-hari, Atini dan keluarganya mengaku hidup dengan berhutang karena tidak memiliki penghasilan lain selain bertani. Sebagai informasi, lahan sawah yang tertimbun tanah galian proyek KCIC ini berada di blok 8 Parakanleuwi.
"Saya minta dibayar per meter Rp 1 juta. Tapi KCIC memintanya Rp 50 ribu per meternya. Ya kami gak kasih, tapi proyek malah berjalan. Kalau gak dibayar ya kami rugi, karena sumber dari sini penghasilan saya, dan saya gak punya gaji. Keluarga saya kelaparan," ujarnya.
• Serangan Jantung Bisa Menyerang Saat Usia Muda, Ini Penyebabnya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/warga-demo-minta-ganti-rugi-karena-lahannya-ditimbun-proyek-kcic.jpg)