Selasa, 14 April 2026

Harga Cabai Naik Jadi Omong tapi Harga Baju Naik Diam, Dedi Mulyadi : Pertanian jadi Stigma Inflasi

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mengkritik lembaga yang kerap menyebutkan harga produk

Editor: Ichsan
istimewa
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi (tengah) didampingi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (kiri) dan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto (kanan). 

TRIBUNJABAR.ID - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mengkritik lembaga yang kerap menyebutkan harga produk pertanian menyebabkan inflasi.

Menurut Dedi, stigma penyebab inflasi itu kerap disampaikan, terutama saat menjelang bulan ramadan.

"Stigma itu menyebabkan produk pertanian sulit berkembang. Produk pertanian selalu menjadi kambing hitam inflasi, terutama menjelang bulan puasa," kata Dedi  melalui sambungan telepon seusai menghadiri rapat kerja nasional pertanian di Jakarta, Senin (27/1/2020).

Namun, kata Dedi, perlakuan itu berbeda ketika harga baju dan sewa transportasi naik saat menjelang puasa. Kenaikan harga itu tidak disebut penyumbang utama inflasi.

"Kalau beli produk pertanian, semua ngomong inflasi. Ketika lebaran, orang ribut ngomong harga cabai, bawang, kol, dan lainnya. Tetapi mereka tak pernah ribut saat harga baju naik, sepatu naik atau sewa mobil naik dan harga tiket naik," katanya.

Virus Corona Mengerikan, Memakan Korban Jiwa, Nyebar ke Belasan Negara, Ini Cara Pencegahan dari WHO

Dedi mengatakan, selain stigma inflasi, problem di dunia pertanian lainnya adalah daya dukung lingkungan yang menurun dan perubahan iklim. Kemudian kerusakan hutan dan gunung, pencemaran sungai serta menyempitnya areal pertanian.

Daya dukung sumber daya mausia juga menjadi bagian dari problem pertanian. Menurut Dedi, minat usaha pertanian menurun karena sitgma negatif bahwa bertani itu kotor dan kumuh.

Lalu, problem pertanian lainnya adalah penurunan daya dukung masyarakat terhadap produk pertanian. Masyarakat lebih menyukai impor dibanding beli produk pertanian dalam negeri. Kemudian perlakuan diskriminasi kebijakan untuk petani. Misalnya, subsidi untuk petani disebut inefisiensi.

"Tapi ketika orang-orang kaya ngemplang bank, harus diganti oleh keuangan negara. Investasi diberikan kepada orang kaya, terus hilang seperti kasus Jiwasraya, itu tak disebut inefisien. Padahal subsidi pertanian itu dinikmati jutaan orang," kata mantan bupati Purwakarta itu.

Dedi mengatakan, problem-problem pertanian itu harus dicari solusinya. Terkait masalah menyempitnya lahan pertanian, harus ada revisi rencana tata ruang dan wilayah.

"RTRW harus ada pilihan, mau kembangkan tambang atau pertanian," katanya.

Kronologi Penemuan Korban Longsor di Sumedang,Terhimpit Material Hingga Hanyut di Sungai

 Kemudian pertanian diintegrasikan dalam sistem pendidikan. Mata pelajaran siswa di sekolah bisa dipadukan dengan pertanian atau disebut sekolah alam.

"Matematika itu bisa belajar menghitung dengan objek produk petanian," katanya.

Lalu solusi problem lainnya seperti stigma inflasi dan inefisiensi subsidi, itu berkaitan dengan kesadaran dan pemahaman pemerintah tentang arti penting pertanian.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Dedi Mulyadi: Harga Cabai Naik Jadi Omong, Giliran Harga Baju Naik Tak Ribut"

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved