Sikapi Hebohnya Kerajaan dan Keraton Baru, Kabuyutan se Tatar Galuh Akan Berkumpul di Ciamis

Para kabuyutan se Tatar Galuh terutama penjaga maupun komunitas dari 234 situs yang ada di Ciamis hari Rabu (22/1/2020) ini akan berkumpul di Ciamis.

Sikapi Hebohnya Kerajaan dan Keraton Baru, Kabuyutan se Tatar Galuh Akan Berkumpul di Ciamis
Tribun Jabar/Andri M Dani
Rektor Unigal DR H Yat Rospia Brata MSi yang juga sebagai Ketua Dewan Kebudayaan Ciamis 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Andri M Dani

TRIBUNJABAR.ID, CIAMIS – Para kabuyutan se Tatar Galuh terutama penjaga maupun komunitas dari 234 situs yang ada di Ciamis hari Rabu (22/1/2020) ini akan berkumpul di Ciamis.

Mereka akan berkumpul dalam acara Pertemuan Budaya, yang salah satu agendanya menyikapi munculnya keraton maupun kerajaan baru yang mengait-ngaitkan keberadaan mereka dengan Galuh.

“Salah satu agenda pertemuan tersebut adalah untuk menyikapi munculnya keraton atau kerajaan baru yang menghubung-hubungan keberadaan mereka dengan Galuh,” ujar Ketua Dewan Kebudayaan Ciamis, Dr H Yat Rospia Brata MSi kepada Tribun  Selasa (21/1/2020).

Kerajaan Agung Sejagat Bubar, Raja Toto Santoso dan Ratu Fanni Meminta Maaf, Keraton Hanya Fiktif

Raja Minta Maaf dan Akui Keraton Agung Sejagat Hanya Karangan Belaka, Keraton Bubar?

Ciamis sebagai pusat (puser) Galuh yang tiap jengkal tanahnya merupakan situs peninggalan Kerajaan Galuh, menurut Yat tentu cukup terusik dengan munculnya Keraton Agung Sejagat di Sami Galuh, Purworejo maupun Sunda Empire di Bandung yang kini heboh.

Meski Ciamis  merupakan pusat Kerajaan Galuh dan itu sudah menjadi bagian dari sejarah, saat ini di Ciamis tidak ada raja, tidak ada keraton. Justru yang muncul di luar Ciamis yang kini menjadi sorotan, tetapi mengaku ada kaitan dengan Galuh.

“Jati diri Galuh tersebut adalah rendah hati, jauh dari sikap arogan dan kebarat-baratan. Sementara mereka, uniformnya mirip-mirip tentara. Pasukan kerajaan Galuh itu dulu malah tidak pakai baju, kalau pun ada hanya pangsi. Kami khawatir keberadaan keraton atau kerajaan baru tersebut lahir dari sikap nativisme. Semacam gejala post power sindrom,” katanya.

Boleh jadi munculnya keraton atau kerajaan baru yang tidak jelas akar sejarah dan silsilahnya tersebut menurut Yat diduga  atas pertimbangan finansial dan memanfaatkan kesempatan secara hukum dari UU No 5 tahun 2017 tentang kebudayaan.

Di Galuh katanya, kini yang lebih berhak menjadi raja adalah para juru kunci, para kabuyutan yang secara turun menurun merawat, memelihara situs peninggalan kebesaran sejarah Galuh tanpa pertimbangan finansial.

Mereka menjalani hidup dengan penuh ikhlas dan kesederhanaan sebagai penjaga situs tanpa pertimbangan politik maupun untung rugi.

Di Ciamis ada 234 situs peninggalan sejarah, setiap jengkal tanah di Ciamis adalah situs peninggalan Kerajaan Galuh.

Para kabuyutan dan masyarakat adat dari ratusan situs yang tergabung dalam Galuh Sadulur Sunda Saamparan tersebut akan menghadiri silaturahmi budaya di Ciamis Rabu (22/1) salah satu agendanya menurut Yat adalah menyikapi munculnya keraton maupun kerajaan baru yang mengaku masih ada kaitan dengan Galuh. (andri m dani)    

Penulis: Andri M Dani
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved