Breaking News:

Jejak Kejayaan Jalur Kereta Api Rancaekek-Tanjungsari, Terekam Jadi Nama Jalan, Warga Menyebutnya SS

SS adalah akronim dari stat spoor, istilah dalam bahasa Belanda, berarti jalan kereta api. Dulu, kawasan SS di Tanjungsari bagian dari Staatspoorwegen

sumber https://jatinangorkec.sumedangkab.go.id
pembangunan jalur kereta api Jatinangor-Tanjungsari 

Hendar bercerita, dahulu, wilayah Tanjungsari dan Jatinangor merupakan perkebunan, jalur kereta api SS tersebut digunakan oleh kereta api pembawa hasil bumi. Jalur kereta apinya pun tidak sampai wilayah Sumedang Kota, hanya sampai wilayah SS tersebut. Adapun hasil bumi yang diangkut di antaranya adalah kopi dan karet.

Pembangunan dan penggunaan jalur kereta api tua tersebut, lanjut Hendar, dilakukan pada zaman Hindia Belanda atau masa penjajahan Belanda. Namun, jalur kereta api tersebut tak lagi digunakan saat Indonesia direbut oleh Jepang atau masa penjajahan Jepang.

“Kata orang tua saya teh, datang Jepang, sama Jepang dibongkar sampai tidak bersisa. Sampai sekarang, weh, jalur ini teh tidak pernah digunakan lagi untuk jalur kereta api,” ujarnya.

Dishub Akui Pernah Lakukan Kajian Akademis Jalur Elevated Kereta Api di Kota Cirebon

Tersisa Remehnya

Dilansir dari laman resmi Kecamatan Jatinangor,  jalur kereta api yang menghubungkan Rancaekek-Tanjungsari memang dibuat untuk memperlancar transportasi hasil perkebunan.

Pembangunan jalur kereta api tersebut dilakukan pada 1916 lewat program proyek rel kereta api Rancaekek-Tanjungsari-Citali sepanjang 15 kilometer.

Namun pada kenyataannya, pembangunan rel kereta api tersebut hanya sampai Tanjungsari dan tidak dilanjutkan ke Citali karena kendala biaya. Jalur kereta api tersebut mulai dioperasikan pada 13 Februari 1921.

Hendar mengatakan, sepanjang jalur kereta api lama Rancaekek-Tanjungsari, sudah hampir tidak ada sisa-sisa bangunan tempo dulu yang berhubungan dengan kereta api.

Bila ditelusuri, maka seluruh jalur kereta api tersebut sudah berganti menjadi tanah pertanian dan pemukiman warga.

“Yang tersisa paling 'remehnya' saja. Dulu kan ku Jepang relnya dibongkar, diangkut. Kereta zaman dulu, mah, kan suka ada tiang dan kawat penghubungnya di rel teh. Yang itunya juga habis diambilin oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” ujar Hendar.

Halaman
1234
Penulis: Seli Andina Miranti
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved