Kampung Lukis Jelekong
Pelukis Jelekong Tetap Samangat Pasarkan Karyanya, Kali Ini Bidik Pasar Online
Kampung Jelekong terkenal dengan sebutan kampung wisata seni. Pada Selasa (7/1) siang Tribun bertandang ke kampung di Jalan Giriharja, Kelurahan Jelek
Penulis: Lutfi Ahmad Mauludin | Editor: Januar Pribadi Hamel
Oleh Lutfi Ahmad Mauludin
TRIBUNJABAR.ID - Kampung Jelekong terkenal dengan sebutan kampung wisata seni. Pada Selasa (7/1) siang Tribun bertandang ke kampung di Jalan Giriharja, Kelurahan Jelekong, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung. Di kampung ini berkumpul pelukis yang memasarkan lukisan di galeri-galeri.
Suasana kampung Selasa itu sepi, meskipun beberapa sanggar tetap buka. Hanya lukisan dan beberapa penjaga yang terlihat. Di sebuah sanggar, dua pelukis tekun menyelesaikan guratan-guratan di kanvas. Satu pelukis terlihat melukis bertemakan ikan. Satu pelukis lagi lukisannya masih oretan-oretan.
Satu orang lagi tampak memperhatikan kedua temannya yang sedang melukis. Pria ini bernama Dudi (40). Dia juga berprofesi sebagai pelukis di kampung itu.
Suasana sepi kampung itu tidak menggambarkan sepinya penjualan lukisan. Bahkan, kata Dudi, lukisan karya mereka semakin banyak disukai. Kampung Jelekong berada Menurutnya, lukisan lebih banyak banyak dijual ke luar kota Bali merupakan pasar terbesar.
"Kalau di Kota Bandung, lukisan Jelekong banyak dijual di Jalan Braga," kata Dudi.
Selama ini pemasaran yang dilakukan pelukis Jelekong adalah melalui bandar-bandar. Kemudian bandar memasarkan lukisan ke tempat-tempat yang sudah biasa memesan, seperti di Bali. Jadi, kata Dudi, karya pelukis Jelekong pasti laku terjual karena pasarnya sudah jelas. Para pelukis Jelekong, menurut Dudi, tinggal menunggu pesanan dari bandar.
Harga lukisan-lukisan di Jelekong menyesuaikan dengan bahan yang mereka gunakan. Kanvas dan cat menjadi faktor utama menentukan harga lukisan.
"Satu lukisan modalnya bisa Rp 250.000. Kemudian kami jual ke bandar sekitar Rp 300.000," kata Dudi.
Dari tahun ke tahun para pelukis Jelekong mengikuti perkembangan zaman. Sekarang, untuk menarik minat pembeli milenial, mereka melakukan promosi melalui media sosial.
"Iya kami promosi lewat Facebook dan Instagram masing-masing," kata Dudi.
• Chen EXO akan Menikah, Tulis Surat untuk Penggemarnya, Mengaku Khawatir dan Gelisahkan Hal Ini
Menurut Ketua Komunitas Gurat, Didi Suryadi (27), para pelukis memiliki akun sendiri, terutama Facebook dan Instagram. Mereka masing-masing promosi berbayar di media sosial. Cara itu cukup ampuh, penjualan lukisan meningkat.
Menurut Didi, yang menjadi permasalahan itu, galeri-galeri di Jelekong jarang buka karena si pembeli memang kurang. "Kalau lewat online, pelukis punya akun sendiri, punya pasar sendiri. Mereka bisa menyesuaikan harga yang bagus," kata Didi.
Para pelukis di Jelekong yang membidik pasar online kebanyakan menggunakan Facebook dan Instagram. "Yang membuat web juga ada, namun 80 persen menggunakan Facebook dan Instagram, yang berbayar. Poinnya sangat baik. Tinggal ngembangin terus di online. Dengan pasar online para pelukis bisa memotong rantai pasar," katanya.
• Saat Kaesang dan Gibran Jadi Juri MasterChef, Cicipi Makanan Peserta Satu-satu, Komentarnya Menohok
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/perajin-lukisan.jpg)