Laporan Pengaduan Perkara TKI Asal Indramayu Naik Jadi 75 Perkara, Terbanyak di Taiwan

Aduan permasalahan TKI ini meningkat dibanding tahun 2018 yang hanya 54 aduan perkara atau dengan kata lain ada peningkatan sebesar 38,8 persen.

Istimewa
Keluarga Makpiyah (28) Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Blok Margunah, RT 004/001, Desa Dukuhjati, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu saat melaporkan anaknya yang hampir 12 tahun tidak bisa pulang, Rabu (4/12/2019). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNJABAR.ID, INDRAMAYU - Sepanjang 2019, Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Cabang Indramayu menerima sebanyak 75 perkara aduan permasalahan yang menimpa para Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau TKI asal Indramayu.

Aduan permasalahan TKI ini meningkat dibanding tahun 2018 yang hanya 54 aduan perkara atau dengan kata lain ada peningkatan sebesar 38,8 persen.

Ketua SBMI Cabang Indramayu, Juwarih mengatakan, aduan permasalahan itu masih didominasi perempuan TKI dengan jumlah perkara sebanyak 52 orang atau sebesar 69 persen.

"Sebanyak 52 orang atau 69 persen PMI perempuan mengalami permasalahan mulai dari pra-penempatan, penempatan sampai pasca-penempatan. Sedangkan pekerja migran laki-laki ada 23 orang atau 31 persen," ujar Juwarih kepada Tribuncirebon.com, Senin (6/1/2020).

Juwarih mengatakan, Taiwan menjadi negera penempatan TKI dengan jumlah permasalahan terbanyak, yakni 36 perkara.

Hal itu, ucapnya, tidak terlepas dari banyaknya peminat pekerja migran asal Kabupaten Indramayu yang ingin bekerja di sana.

Pernah Lawan Atasan Soal Kasus Human Trafficking, Polisi Ini Diutus Usut Penyekapan TKI di Malaysia

‎Carmi TKI Asal Cirebon akan Pulang dari Arab Saudi Jika Gajinya Sudah Dibayar Lunas

Angka permasalahan TKI di Taiwan cenderung lebih tinggi dibanding negara-negara penempatan lainnya.

"Paling banyak permasalahan di negara penempatan itu, yakni Taiwan ada 36 perkara, Malaysia dan Irak 7 perkara, Hong Kong 6 perkara, Arab Saudi 5 perkara Singapura dan Yordania 3 perkara, Korea Selatan dan Qatar 2 perkara, dan sisanya Jepang, Uni Emirat Arab, Oman, dan Mesir 1 perkara," ucapnya.

Pengaduan-pengaduan itu, kata Juwarih, diterima SBMI Cabang Indramayu baik dari TKI yang bersangkutan maupun dari pihak keluarga.

Ada beragam permasalahan yang menimpa PMI di negara penempatan, yakni PMI hilang kontak sebanyak 7 perkara, tertahan kepulangan atau overstayer 8 perkara, penempatan unprosedural atau ilegal 12 perkara, penipuan 23 perkara.

Selanjutnya, dituntut membayar ganti rugi oleh pihak perekrut (denda) 4 perkara, sakit 1 perkara, meninggal dunia 2 perkara, PHK sepihak 5 perkara, overcharging atau biaya penempatan yang berlebihan 13 perkara.

"Dari jumlah 75 kasus yang terbanyak itu terkait aduan permasalahan PMI korban penipuan dengan modus penawaran job kerja ke luar negeri sebanyak 23 perkara," ujarnya.

Dalam hal ini, Juwarih mengatakan, dari 75 perkara baru 27 aduan yang sudah selesai ditangani.

"Sebanyak 47 perkara masih dalam proses penanganan dan sebanyak 1 perkara lagi statusnya dibatalkan," ucap dia.

Penulis: Handhika Rahman
Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved