Walhi Jawa Barat: Curug Malela Perlu Mitigasi Kesiapsiagaan Bencana
Setelah peristiwa air meluap di tempat wisata air terjun Curug Malela, KBB, Walhi Jawa Barat mengingatkan pentingnya mitigasi kesiapsiagaan bencana.
Penulis: Ery Chandra | Editor: Dedy Herdiana
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Setelah peristiwa air meluap di tempat wisata air terjun Curug Malela di Kabupaten Bandung Barat, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat ( Walhi Jabar) mengingatkan pentingnya mitigasi kesiapsiagaan bencana.
Direktur Walhi Jawa Barat, Meiki W. Paendong mengatakan pengelola lokasi wisata itu mesti mempunyai sistem peringatan dini terhadap kondisi perubahan lingkungan dan mengetahui karakter sungai yang banyak dikunjungi warga.
"Penting review kembali sistem mitigasi pencegahan dari resiko bencana. Karena sekarang sudah memasuki musim penghujan. Saat debit air sungai bertambah, volume air yang tumpah bisa berpotensi membahayakan," ujar Meiki, saat dikonfirmasi Tribun Jabar, di Kabupaten Bandung Barat, Minggu (29/12/2019).
• FK3I Jawa Barat Soroti Soal Curug Malela yang Sempat Meluap
• Sudah Tidak Meluap, Kabid Pariwisata Disparbud KBB : Curug Malela Dibuka Kembali bagi Wisatawan
Menurutnya, mitigasi bencana harus dimiliki, dikembangkan serta implementasi dari pihak pengelola Curug Malela. Mulai dari terdapat papan-papan peringatan, memberi pengumuman sejak dini apabila mulai berpotensi muncul hujan lebat.
"Pengelola juga perlu mengamati kondisi alam disekitar curug malela khususnya di hulu," katanya.
Selain itu, pemerintah di Kabupaten Bandung Barat perlu meninjau kembali apakah kawasan tersebut terjadi laju alih fungsi lahan di kawasan curug malela atau tidak. Pasalnya, jika alih fungsi lahan masif terjadi membuat resapan air berkurang.
"Ini patut diperhatikan, karena kawasan yang sudah berubah alih fungsi dan berkurang akan mempercepat laju aliran air sungai yang masuk ke curug. Sehingga debit air sungai bertambah," ujarnya.
Dia menuturkan peristiwa air meluap tersebut sebagai pelajaran supaya pihak pengelola dapat mempertimbangkan kembali fasilitas-fasilitas yang terlalu dekat sungai dan membahayakan pengunjung.
"Mencegah kerugian materi dan jiwa. Sungai dibalik sifat alaminya mempunyai sifat daya rusak, atau istilahnya enggak bisa diatur," katanya.
Sehingga apabila meluap, air akan menerjang apapun yang dilewatinya. Hal itu, pengelola perlu memperhatikan fasilitas-fasilitas tak terlalu dekat badan dan bibir sungai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/suasana-di-curug-malela-_-3.jpg)