FK3I Jawa Barat Soroti Soal Curug Malela yang Sempat Meluap

FK3I Jawa Barat menilai pihak terkait hanya menggenjot pendapatan asli daerah (PAD) dan mengabaikan dampak lingkungan di wisata alam Curug Malela

FK3I Jawa Barat Soroti Soal Curug Malela yang Sempat Meluap
Istimewa/ dok Disparbud Bandung Barat
Suasana pengunjung di Curug Malela, Kabupaten Bandung Barat. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Ery Chandra

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jawa Barat menilai pihak-pihak terkait hanya menggenjot pendapatan asli daerah (PAD) dan mengabaikan dampak lingkungan di wisata alam Curug Malela.

Koordinator FK3I Jabar, Dedi Kurniawan mengatakan pihak pengelola, pemerintah kabupaten bandung barat, hingga pemerintah provinsi jawa barat tak mengedepankan aspek-aspek lingkungan. Sehingga terjadi peristiwa air meluap baru-baru ini.

"Penting digaris bawahi, mereka prinsipnya tak mengelola wisata alam berbasis lingkungan, tapi meningkatkan keuntungan PAD," ujar Dedi, saat dikonfirmasi Tribun Jabar, di Kabupaten Bandung Barat, Minggu (29/12/2019).

Sudah Tidak Meluap, Kabid Pariwisata Disparbud KBB : Curug Malela Dibuka Kembali bagi Wisatawan

Curug Malela yang Debit Airnya Meningkat Kini Berangsur Surut, Wisatawan Diimbau Berhati-hati

Menurutnya, selain infrastruktur memadai perlu mempertimbangkan antisipasi kedepan membludaknya pengujung sehingga menimbulkan sampah. Pasalnya, wisata alam mempunyai resiko cukup tinggi bagi keselamatan pengunjung.

"Meluap aliran air menjadi contoh. Harusnya bisa diprediksi. Kedepan ada regulasi mengatur jumlah pengunjung dan cara berkunjung," katanya.

Menurutnya, keselamatan para pengunjung lebih diutamakan diatas keuntungan PAD.

Semestinya, Curug Malela tersebut tak lekas dibuka. Tetapi melakukan kajian-kajian mendalam atas kejadian itu.

"Dari kejadian ini mereka bisa mengambil hikmah dan melakukan analisa-analisa dampak lingkungan. Antisipasi diutamakan, karena wisata alam riskan sekali di musim penghujan. Bisa mengakibatkan bahaya bencana dan kecelakaan lainnya," ujarnya.

Dia menuturkan lokasi wisata yang menelan dana cukup besar puluhan miliar itu lebih penting adalah membangun kesadaran lingkungan masyarakat hingga warga sekitar secara swadaya mengelola wisata tanpa merusak kaidah-kaidah lingkungan.

Penulis: Ery Chandra
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved