8 Kecamatan di Indramayu Terancam Bencana Pergerakan Tanah, 2 Daerah Ini Paling Rawan

BPBD Kabupaten Indramayu akan terus memantau pergerakan tanah melalui alat pendeteksi gempa Early East Warning (EEW) Cares Life

8 Kecamatan di Indramayu Terancam Bencana Pergerakan Tanah, 2 Daerah Ini Paling Rawan
Tribun Cirebon/Handhika Rahman
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Indramayu, Edi Kusdiana, Kamis (19/12/2019). 

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Handhika Rahman

TRIBUNJABAR.ID, INDRAMAYU- Delapan Kecamatan di Kabupaten Indramayu terindikasi terancam bencana pergerakan tanah.

Sesuai data inaRisk BNPB, delapan kecamatan itu meliputi Gantar, Terisi, Widasari, Krangkeng, Karangampel, Juntinyuat, Sliyeg, dan kecamatan Sindang.

Kasi Rekontruksi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indramayu, Caya mengatakan, dari delapan kecamatan itu, Kecamatan Terisi dan Gantar adalah daerah yang paling rawan terkena bencana pergerakan tanah.

"Itu karena adanya sesar Baribis, wilayah Terisi dan Gantar itu salah satunya terbawa sesar baribis," ujar dia kepada Tribuncirebon.com saat ditemui di ruangannya, Kamis (19/12/2019).

Meski demikian, Caya sampai saat ini belum ada bencana pergerakan tanah di kecamatan-kecamatan.

Jalan rusak karena pergerakan tanah dan longsor.
Jalan rusak karena pergerakan tanah dan longsor. (Tribun Jabar/Hilman Kamaludin)

Caya menyampaikan, pihaknya akan terus memantau pergerakan tanah melalui alat pendeteksi gempa Early East Warning (EEW) Cares Life yang terpasang di kantor BPBD Kabupaten Indramayu.

71 Desa di Majalengka Rawan Bencana Pergerakan Tanah, Ini Daftarnya

BPBD KBB Masih Tangani Pergerakan Tanah di Gununghalu, Minta Bantuan Badan Geologi

Alat tersebut akan mendeteksi pergerakan gempa maupun pergerakan tanah 20 menit sebelum terjadinya bencana.

"Kalau indeks risiko kerawanan bencana di Kabupaten Indramayu berdasarkan data inaRisk BNPB itu kita sedang-tinggi," ucap dia.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Indramayu, Edi Kusdiana menambahkan, bencana pergerakan tanah ini dipengaruhi oleh peralihan musim.

Dijelaskan dia, tanah yang kering akibat musim kemarau menjadi gembur akibat diguyur hujan beritensitas tinggi.

Air tersebut masuk ke dalam pori-pori tanah sehingga membuat pergerakan di dalam bumi.

"Baru prediksi saja karena adanya air (hujan) yang masuk ke tanah kering lalu jadi gembur," ucapnya.

Editor: Tarsisius Sutomonaio
Sumber: Tribun Cirebon
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved