Minggu, 10 Mei 2026

Pecahkan Masalah Pendidikan Jasmani, FPOK UPI Gelar Seminar Keolahragaan

Pendidikan jasmani di sekolah memiliki manfaat luas, selain melatih motorik atau sistem gerak anak, tetapi juga mengasah keterampilan berpikir, dan j

Tayang:
Penulis: Cipta Permana | Editor: Theofilus Richard
Tribun Jabar/Cipta Permana
Ketua Ikatan Guru Olahraga Jabar, H Jaka Supriatna memaparkan materi terkait fenomena pendidikan olahraga saat ini, dalam acara Seminar Nasional Keolahragaan dan Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah 2019 bertajuk Pendidikan Jasmani Masa Kini dan Masa Depan Yang Berkemajuan, di Auditorium FPEB, Kampus UPI, Bandung. Sabtu (14/12/2019) 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Cipta Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pendidikan jasmani di sekolah memiliki manfaat luas, selain melatih motorik atau sistem gerak anak, tetapi juga mengasah keterampilan berpikir, dan juga menumbuhkan pendidikan karakter yang implementasikan dalam kegiatan berolahraga.

Ketua Ikatan Alumni Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (IKA FPOK) Universitas Pendidikan Indonesia, Brigjen Pol Dr Juansih dra SH MHum, mengatakan bahwa perkembangan teknologi saat ini turut mengubah dalam pola program pendidikan, termasuk pendidikan olahraga.

Program di bidang olahraga pun tidak hanya berkaitan dengan capaian prestasi, tetapi juga pendidikan.

Oleh karena itu, harus ada sinergitas kerja sama dalam pola pendidikan, baik antara pemangku kebijakan bidang kurikulum dengan guru olahraga di sekolah.

Gyu Katsu Nikaido, Resto Jepang di Bandung yang Menawarkan 7 Kategori Menu Otentik Khas Tokyo

Sehingga prestasi pendidikan akademis dan prestasi di bidang olahraga bagi siswa dapat berjalan seirama.

"Kondisi di dunia pendidikan saat ini, seringkali siswa yang berprestasi di bidang olahraga dianggap mengenyampingkan pendidikan atau prestasi akademis, sehingga paradigma tersebut pelu diubah dengan adanya pola strategis yang dilalukan oleh pemangku kebijakan di sekolah, yang mampu menyesuaikan dengan situasi dan kondisi dari perkembangan zaman saat ini," ujarnya saat ditemui di sela kegiatan Seminar Nasional Keolahragaan dan Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah 2019 bertajuk Pendidikan Jasmani Masa Kini dan Masa Depan Yang Berkemajuan, di Auditorium FPEB, Kampus UPI, Bandung. Sabtu (14/12/2019).

Juansih menuturkan, melalui kegiatan Seminar Nasional Keolahragaan yang diinisiasi oleh FPOK UPI tersebut, menjadi salah satu upaya pencarian solusi atas masalah-masalah yang timbul terkait pemahaman, terutama pendidikan jasmani di sekolah.

Sehingga para praktisi dan akademisi pendidikan di bidang penjas yang hadir sebagai peserta dalam kegiatan seminar nasional ini diharapkan dapat semakin paham dengan perkembangan informasi di bidang pendidikan olahraga.

Diharapkan juga praktisi dan akademisi dapat berkorelasi dengan semua pihak, guna membangun generasi unggul yang berprestasi di bidang olahraga dan pendidikan di wilayahnya masing-masing.

"Sehingga harus adanya dukungan dari semua pihak, bukan hanya pemangku kebijakan di level sekolah, tapi juga pemerintah daerah, bahkan pemerintah pusat, yang mampu bersinergi dan berkontribusi dalam rangka mewujudkan sumber daya manusia yang berprestasi dan memiliki jiwa kompetitif, bukan hanya di bidang olahraga, tapi juga dalam semua bidang pendidikan," ucapnya.

The Minions Gagal ke Final BWF World Tour Finals 2019, Kalah dari Pasangan Jepang

Dalam kesempatan yang sama, Dekan FPOK UPI, Adang Suherman mengatakan bahwa kata kunci dari perubahan peradaban di masa yang akan datang, sangat bergantung kepada pendidikan.

Salah satu nakhoda dari Pendidikan Jasmani adalah para guru penjas.

Sehingga program kurikulum telah dirumuskan mengenai tahapan langkah dan upaya yang akan dilakukan bidang pendidikan tersebut, kini dan masa depan.

"Kegiatan ini selain menjadi sarana sharing antara praktisi dan akademisi, guna memikirkan bagaimana penyelenggaraan kurikulum pembelajaran Penjas di masa depan berjalan baik. Tetapi juga, adanya kolaborasi antara pendidikan jasmani, olahraga prestasi dan olahraga rekreasi yang dapat masagi secara keseluruhan, serta meningkatkan tuntutan kesadaran berolahraga di masyarakat selama setengah jam per hari dapat terpenuhi, dalam upaya menekan tingkat kematian manusia akibat kurang bergerak dapat terus berkurang, hal ini harus menjadi komitmen dan target bersama dari seluruh pihak," ujarnya di lokasi yang sama.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved