Senin, 13 April 2026

Bandung Selatan Alami Penurunan Tanah Secara Alami, Dibebani Pembangunan Pabrik dan Perumahan

Penurunan permukaan tanah atau land subsidence di Bandung Raya tidak hanya disebabkan eksploitasi air tanah

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam | Editor: Ichsan
Tribunjabar/Syarif Abdussalam
Bandung Selatan Alami Penurunan Tanah Secara Alami 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Penurunan permukaan tanah atau land subsidence di Bandung Raya tidak hanya disebabkan eksploitasi air tanah oleh rumah tangga ataupun industri, namun di Kawasan Cekungan Bandung ini memang tengah mengalami penurunan permukaan tanah secara alami.

Penurunan muka tanah ini telah terjadi di beberapa wilayah di lndonesia, seperti di daerah dataran rendah pesisir Pulau Jawa bagian utara, yakni Jakarta, Pekalongan, Kendal, Semarang, dan Demak, serta daerah dataran endapan danau purba seperti di dataran Bandung bagian tengah hingga selatan.

Badan Geologi pun sudah melakukan beberapa penyelidikan geologi di wilayah Cekungan Bandung yang meliputi pemetaan geologi, geologi kuarter, geologi teknik, hidrogeologi atau air tanah, geologi lingkungan, tektonik, dan gempa.

Pada 1993 Badan Geologi pun telah menerbitkan Atlas Geologi Tata Lingkungan Cekungan Bandung, skala 1:100.000 yang merupakan kegiatan hasil kerja sama antara Badan Geologi dengan Pemerintah Jerman. Penyelidikan Geologi Teknik di wilayah Bandung dan sekitarnya juga sudah dilakukan oleh Badan Geologi sejak 1980-an hingga terakhir pada 2019.

Persib Bandung Gagal Musim Ini, Pengamat Sebut Kesalahan Sejak Awal Tunjuk Radovic jadi Pelatih

Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi pada Kementerian ESDM RI, Andiani, mengatakan berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, permukaan tanah Cekungan Bandung dinyatakan merupakan endapan danau lempung yang tengah mengalami penurunan alami akibat pemadatan tanah lempung.

Terdapat beberapa kawasan di wilayah dataran Bandung yang merupakan daerah endapan danau purba dan saat ini dapat dibuktikan dengan nama-nama desa yang memakai istilah ranca yang berarti rawa, mulai dari barat Cicalengka, Rancaekek, utara Majalaya, Ciparay, Dayeuhkolot dengan endapannya didominasi oleh lempung hitam.

Sedangkan dari Dayeuhkolot ke barat sampai Ketapang endapannya dipengaruhi oleh material vulkanik. Sifat dari lempung hitam ini sangat lunak dan mempunyai kompresibilitas yang sangat tinggi, sehingga secara alami dengan beban ketebalan lapisan lempungnya sendiri lempung ini akan mengalami penurunan.

Ada 257 Usulan Desain Ibu Kota Baru, Diseleksi Jadi 3 lalu Dipilih Presiden, Ridwan Kamil Jadi Juri

Kawasan yang mempunyai endapan lempung hitam paling tebal berada di antara Dayeuhkolot dan Ciparay serta antara Rancaekek, Solokanjeruk, dan Cicalengka.

Pada kawasan ini pula banyak dijumpai pemukiman padat penduduk dan kawasan industri yang beroptensi menimbulkan beban yang akan menekan pada lapisan lempung hitam yang ada di bawahnya. Namun juga terdapat beberapa area kosong berupa pesawahan yang terindikasikan mengalami penurunan muka tanah.

"Akibat kegiatan manusia, dengan adanya beban bangunan sehingga tanah lempung ini termampatkan, juga akibat pengambilan air tanah di Bandung. Air permukaan memang tidak cukup untuk warga dan PDAM baru memenuhi 50 persen kebutuhan masyarakat. Kebutuhan lain diambil dari air tanah dangkal dan dalam," kata Andiani dalam kegiatan Coffee Morning di Museum Geologi Bandung, Jumat (13/12).

Andiani mengatakan penurunan permukaan tanah ini pun dipercepat prosesnya dengan penyedotan air tanah dengan kedalaman lebih dari 40 meter oleh industri tekstil yang memang membutuhkan banyak air dalam proses produksinya.

"Tapi sawah dan kawasan permukiman kok cepat juga penurunannya. Di sinilah batuannya yang masih memproses kestabilan. Setelah sekian ribu tahun baru seperlima (proses pemampatan atau penurunannya)," katanya.

Pelarangan penggunaan air tanah, katanya, tidak bisa serta-merta diberlakukan untuk memperlambat penurunan muka tanah tersebut. Sebab, katanya, ada kawasan tertentu yang memang air tanahnya bisa dimanfaatkan sampai batas aman.

Nella Kharisma Naik Ojek Online ke Tempat Manggung, Akhirnya Tampil di TV Duet dengan Didi Kempot

"Saharusnya ini jadi pertimbangan kebijakan nasional, supaya mitigasi dan adaptasinya ada landasan hukumnya. Bandung memang belum melakukan kebijakan terkait ini, tapi ke depan kita rencanakan ada beberapa daerah untuk menerapkannya, yang akan menjawab permasalahan yang terjadi, sampai ada pertimbangan apakah perlu pasang ekstensometer (alat pengukur gerakan tanah)," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved