Di Jabar yang Mau Nikah Harus Tanam 10 Pohon, yang Mau Cerai Harus Tanam 100 Pohon

Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah menyusun peraturan supaya warga berperan aktif menanam pohon

Tribunjabar/Syarif Abdussalam
Di Jabar yang Mau Nikah Harus Tanam 10 Pohon, yang Mau Cerai Harus Tanam 100 Pohon 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Syarif Abdussalam

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah menyusun peraturan supaya warga berperan aktif menanam pohon di lahan kritis di Jawa Barat. Langkah ini merupakan bagian dari program penanaman 25 juta pohon di Jawa Barat.

Penyelamatan lahan kritis tersebut diawali dengan penanaman 17 ribu pohon di Kawasan Bandung Utara (KBU) yang dicanangkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, Senin (9/12/2019) siang.

"Penanaman khususnya di lahan-lahan kritis, karena mulai tahun depan kita ada pencanangan penanaman 25 juta pohon yang akan dilakukan bersama-sama dengan masyarakat," kata Emil dalam kesempatan tersebut.

Penanaman dan penyediaan pohon, katanya, tidak hanya dilakukan oleh pemerintah. Namun, katanya, masyarakat dan komunitas pun diminta berperan aktif menghijaukan Jawa Barat.

"Nanti masyarakat bisa menyumbang pohon dengan aturan-aturan yang akan kita siapkan, yang menikah menanam 10 pohon, yang cerai 100 pohon, yang lulus SD, SMP, SMA, 10 pohon, dan lain sebagainya untuk partisipasi," kata Emil.

Begini Cara Mengambil Foto Human Interest yang Oke Menurut Jurnalis Foto Senior

Emil pun meminta pemerintah daerah untuk selalu mengingatkan warga agar segera menghentikan penebangan pohon di area lahan miring dan mulai menanam pohon-pohon besar yang bisa mengikat air dan mencegah longsor, banjir bandang, atau erosi.

"Yang paling sedih tahun lalu, di bawah jalan yang kita lalui (Cicaheum) banyak rumah rusak terkena banjir bandang karena tanah kita tak bisa menyerap air. Pemilik kebun juga sama nanam kebun tanpa pohon, tanah cokelat itu sumber longsor, siapa yang disalahkan, hobi kita menyalahkan, padahal bencana karena ulah kita sendiri," tuturnya.

Perbaikan lahan kritis, katanya, tak bisa hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Emil pun meminta semua elemen masyarakat agar turut serta menyumbangkan bibit pohon untuk ditanam di area kritis.

"Sekarang ada aplikasi e-tanam, untuk mengajak warga berpartisipasi dan diketahui hasil tanamnya tumbuh bagaimana. Sehingga kalau ada 25 ribu penanam, ada 25 ribu titik yang bisa kita monitor. Karena sering kali ya setelah ditanam, kurang dipelihara atau ada yang mencabut dan sebagainya," katanya.

Dikejar Utang? Ini Bacaan Doa agar Terbebas dari Utang, Wasiat Rasulullah, Hidup Menjadi Tentram

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat, Epi Kustiawan, mengatakan pelibatan siswa yang lulus sekolah, pasangan yang mau menikah, atau yang mau bercerai ini, dalam penanaman pohon, adalah upaya pelibatan masyarakat dalam menjaga lingkungannya.

"Memang itu untuk merangsang partisipasi masyarakat. Bentuk peraturannya bisa dalam surat edaran dan nanti Januari 2020 kita sebar ke kabupaten dan kota," katanya.

Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang membentang dari Situ Cisanti sampai Muaragembong sendiri, katanya, memiliki lahan kritis seluas 199 ribu hektare. Sedangkan total luas DAS Citarum 600 ribu hektare. Dengan demikian, penghijauan ini masih menjadi pekerjaan bersama masyarakat dan pemerintah.

Penulis: Muhamad Syarif Abdussalam
Editor: Ichsan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved