Penetapan Tersangka Kasus Meikarta Dianggap Tidak Sah, Mantan Presdir Lippo Cikarang Gugat KPK

Penasehat hukum Toto, Supriyadi mengatakan, gugatan pra peradilan akan didaftarkan ke Pengadilan Jakarta Selatan pada Senin (25/11).

TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Toto Bartholomeus meninggalkan gedung KPK setelah pemeriksaan di Jakarta, Kamis (25/10/2018). Ia diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Billy Sindoro terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi pemberian hadiah atau janji pengurusan proyek pembangunan Meikarta di Pemerintahan Kabupaten Bekasi. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Mega Nugraha Sukarna

TRIBUNJABAR.ID,BANDUNG - Mantan Presiden Direktor PT Lippo Cikarang Bartholemus Toto akan mengajukan praperadilan atas penetapan ters‎angka dirinya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dalam kasus pemberian uang suap Rp 10,5 miliar ke Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin dalam pengurusan IPPT proyek Meikarta.

Toto ditahan KPK pada Rabu (20/11).

Penasehat hukum Toto, Supriyadi mengatakan, gugatan pra peradilan akan didaftarkan ke Pengadilan Jakarta Selatan pada Senin (25/11).

Pra peradilan diatur di Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) bisa diajukan oleh tersangka.

Pra peradilan untuk menguji sah atau tidaknya penetapan tersangka, penahanan, penggeledahan hingga penyitaan serta sah atau tidak nya SP3.

"Kami mengajukan praperadilan karena penetapan tersangka hanya berdasarkan satu alat bukti," ujar Supriyadi saat ditemui di Jalan Bungur Kota Bandung, Jumat (22/11) malam.

Di persidangan kasus Meikarta dengan terdakwa Billy Sindoro, Fitradjaja Purnama, Taryudi dan Henry Jasmen, Kepala Divisi Land and Ackuisition PT Lippo Group, Edi Dwi Soesianto menyebut bahwa ia menerima uang Rp 10,5 miliar dari sekretaris Toto, Melda Peni Lestari dengan sepengetahuan Bartholomeus Toto. Penyerahan uang dilakukan di helipad PT Lippo Cikarang.

Uang itu kemudian diberikan secara bertahap pada Bupati Bekasi pada Juni, Juli, Agustus, September dan Desember 2017.

"Tapi di persidangan, baik Melda dan Toto membantah telah memberikan uang itu ke Edi Dwi Soesianto. Artinya, kesaksian pemberian uang Rp 10,5 m itu tidak ‎disertai alat bukti pendukung lain," ujar dia.

Halaman
12
Penulis: Mega Nugraha
Editor: Ravianto
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved