Selasa, 5 Mei 2026

Gandeng Investor Korea, LIO akan Bangun Pabrik Kabel Optik, MoU Dilakukan di Bandung

Kota Bandung tidak lama lagi akan menjadi pusat produksi kabel nasional. Ini ditandai dengan adanya kerja sama dengan perusahaan asal Korea

Tayang:
Penulis: Kemal Setia Permana | Editor: Dedy Herdiana
Tribun Jabar/Kemal Setia Permana
Presdir dan CEO PT Borsya Cipta Communica, Boris Syaifullah (kedua kanan) bersama Asda Kota Bandung Eric M Attauriq (kedua kiri) dan perwakilan Miztek Co Ltd (kanan) berbincang setelah MoU yang digelar di Bandung, Selasa (19/11/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Kemal Setia Permana

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kota Bandung tidak lama lagi akan menjadi pusat produksi kabel nasional.

Ini ditandai dengan adanya kerja sama Memorandum of Understanding (MoU) antara Lingkungan Indistri Optik (LIO) di bawah Boris Syaifulllah dengan perusahaan asal Korea, Miztek Co Ltd. di Kota Bandung, Selasa (19/11/2019).

Dengan kerja sama ini, dipastikan perusahaan asal Korea itu akan memberikan bantuan pendanaan untuk mendirikan pabrik yang rencananya berada di sekitar Kota Bandung.

Menurut Boris Syaifullah yang juga sebagai Presiden Direktur dan CEO PT Borysa Cipta Communica (BCC), perusahaan produsen fiber optik, kerjasama itu akan mulai berjalan pada 1 Desember tahun ini.

"LIO-nya kan sudah ada dan sudah berjalan di Jalan Kopo, kehadiran perusahaan asal Korea ini tidak lain adalah sebagai penyempurnaan dari yang sudah ada di LIO," katanya.

Jabar Bisa Miliki Kawasan Industri Telekomunikasi, BCC Mampu Produksi Fiber Optik

FiberStar Ceritakan Bisnis Infrastruktur Jaringan Berbasis Serat Optik di Bandung

Selama ini, melalui BMK sendiri, kata Boris, pihaknya sudah melakukan ekspor kabel dan konektor dengan bahan baku dari luar negeri.

Kehadiran suntikan modal dari Miztek Co Ltd, kata Boris, akan memberikan penyempurnaan berupa hadirnya pabrik yang akan memproduksi injektor dan kabel untuk membuat konektor.

Boris mengakui bahwa dengan mendirikan pabrik atau memproduksi sendiri kabel di Tanah Air, maka keuntungan yang akan didapatnya bukan bertambah, melainkan berkurang.

Hal ini disebabkan memproduksi kabel sendiri membutuhkan biaya lebih mahal daripada impor.

"Makanya selama ini kita impor karena memang lebih murah daripada harus membuat sendiri. Saya memang harus pangkas keuntungan, tapi nantinya akan ada keuntungan lain yang lebih dari itu," tuturnya.

Terkait besaran saham dari kerjasama dengan perusahaan asal Korea itu, Boris mengaku bahwa pihaknya selaku perusahaan dalam negeri memiliki besaran saham lebih banyak dibanding perusahaan Korea.

Hal ini sesuai dengan komitmen dia yang tidak mau ada persuahaan asing yang menguasai pasar di Indoneisa yang lebih besar dibanding tuan rumah.

Boris mengaku bahwa selama ini di LIO sudah terdapat beberapa perusahaan asing yang ingin turut bergabung dengan perusahaannya.

"Sudah ada puluhan perusahaan luar negeri yang berbasis optik, baik berbasis kabel atau aksesorisnya, untuk ikut masuk. Saya harus memilih karena ini (peminat) bukan hanya dari Korea, tapi juga dari Cina dan Singapura. Tapi saya harus memilah jangan sampai mereka masuk dan kemudian menguasai kita sehingga kita punya benteng, punya kekuatan bahwa ini adalah negara kita. Jangan sampai mereka masuk di atas saham terbesar," katanya.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved