Senin, 4 Mei 2026

Solar Jadi Barang Langka di Priangan Timur, Pengusaha Ancam Beraksi, Pemerintah Sengaja Mengurangi

Solar menjadi barang langka di Priangan Timur. Pembelian dibatasi Rp 50 ribu. Ternyata pemerintan sengaja mengurangi.

Tayang:
Editor: taufik ismail
Tribun Jabar/Isep Heri
Suasana di SPBU Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Sambongjaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, Jumat (15/11/2019). 

TRIBUNJABAR.ID, TASIKMALAYA - Para pengusaha angkutan se-Priangan Timur mengeluhkan kelangkaan BBM jenis solar sejak seminggu terakhir ini.

Banyak kendaraan yang dikurangi operasinya karena kesulitan mendapat solar.

"Kelangkaan solar ini terjadi sejak seminggu ini. Ada pengusaha yang sampai cari solar ke Bandung dan Cimahi, karena di Priangan Timur stoknya berkurang," kata Ketua DPC Organda Tasikmalaya, Irwan Nur Komara, Jumat (15/11/2019).

Para pengusaha mengancam akan menurunkan armadanya ke jalan jika kelangkaan solar masih terjadi.

Akibat kelangkaan ini usaha menurun yang berdampak pada beban biaya cicilan, gaji pegawai, serta penghasilan untuk keluarga.

"Dengan terbatasnya solar, juga tidak bisa serta‑merta pindah ke dexlite apalagi Pertamina dex karena harganya yang tidak rasional bagi iklim usaha. Kami heran kenapa solar untuk penunjang usaha rakyat malah dibatasi. Harusnya yang dilakukan adalah pengawasan penyalurannya, jangan sampai salah sasaran," kata Irwan Nur Komara.

Sejumlah truk mengantre di SPBU Jalan Sudirman, Kecamatan Garut Kota untuk mengisi bio solar, Kamis (14/11/2019). Sudah sepekan, angkutan barang di Garut mengeluhkan pembatasan solar di SPBU.
Sejumlah truk mengantre di SPBU Jalan Sudirman, Kecamatan Garut Kota untuk mengisi bio solar, Kamis (14/11/2019). Sudah sepekan, angkutan barang di Garut mengeluhkan pembatasan solar di SPBU. (Tribunjabar/Firman Wijaksana)

Irwan menambahkan, Organda se‑Priangan Timur akan lapor ke DPD dan DPP.

"Kota Tasikmalaya ada 5.000-an angkutan, apalagi kan Priangan Timur ini banyak PO Bus kemudian jasa angkutan lain. Pastinya sangat bersinggungan masyarakat banyak," kata Irwan

Ketua Hiswana Migas Priangan Timur, Sigit Wahyu Nandika, mengatakan, pemerintah mengurangi peredaran solar bersubsidi untuk mengurangi beban keuangan menghadapi situasi global.

"Kami mengharapkan para pengusaha lebih bijak mengatur penggunaan solar serta kemungkinan mencampurnya dengan dexlite," ujar Sigit.

Pembatasan solar juga dirasakan warga. Arli (21), warga Jalan Argasari, ia mengatkan, saat hendak mengisi solar di SPBU Budiman Jalan By Pass Ir H Djuanda, ternyata dibatasi maksimal Rp 50.000.

"Daripada tidak ada ya saya beli saja," katanya.

Di Ciamis, rata‑rata setiap SPBU dikurangi jatah solarnya. Dampak luar biasa dirasakan oleh pengusaha bus seperti yang dialami PO Gapuraning Rahayu (GR).

Menurut manajer pemasaran PO GR, Rd Ekky Bratakusumah, untuk operasional harian setiap bus GR membutuhkan 270 liter solar per hari. Armada bus yang dimiliki 200 unit. Tapi karena seminggu ini kesulitan solar, 70 unit terpaksa diparkirkan sementara.

Keluhan serupa juga disampaikan pengusaha angkutan barang di Kabupaten Garut.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved