Rabu, 29 April 2026

Hoaks: Air Laut Surut dan Sirine Meraung-raung di Bali Pasca-Gempa 5,1 SR di Buleleng

Sebuah unggahan tersebut menginformasikan bahwa adanya air surut dan bunyi sirene yang meraung-raung di Kecamatan Seririt, Bali.

Editor: Ravianto
Facebook: jeg.bali
Video warga Bali yang menyebutkan adanya air surut di Pantai Pengastulan, Bali. 

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah unggahan telah terkonfirmasi tidak benar alias hoaks, yang berkaitan dengan gempa bermagnitudo 5,1 yang mengguncang Buleleng, Buleleng, Bali Utara pada Kamis (14/11/2019) pukul 17.21 WIB.

Sebuah unggahan tersebut menginformasikan bahwa adanya air surut dan bunyi sirene yang meraung-raung di Kecamatan Seririt, Bali.

Dilansir dari Kompas.com, unggahan  tersebut dibantah oleh pejabat di tingkat kecamatan.

Narasi yang beredar:

Berdasarkan penelusuran Kompas.com, unggahan yang berisi informasi mengenai air surut dan bunyi sirene di Kecamatan Seririt, Bali beredar di media sosial pada Kamis (14/11/2019).

Unggahan tersebut beredar dalam bentuk video berdurasi 24 detik.

"Kita posisi naik, karena air laut di daerah Pengastulan itu sudah surut. Di Seririt ini penduduk semua menuju arah dataran tinggi, karena air di daerah pesisir itu sudah surut. Kondisi melaporkan dari Seririt," ujar pria yang ada dalam video tersebut.

Salah satu akun Facebook Jeg. bali juga mengunggah video tersebut dan telah ditonton sebanyak lebih dari 14.000 kali.

Konfirmasi Kompas.com:

Kepala Pelaksana Badan Pelaksana Bencana Daerah (BPBD) Bali, I Made Rentin mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengonfirmasi ke Camat Seririt Nyoman Riang Pustaka terkait isu air surut dan bunyi sirene.

"Baru saja saya menghubungi Camat Seririt Nyoman Riang Pustaka menegaskan bahwa tidak benar air laut surut, tidak benar sirene tsunami berbunyi," ujar Rentin dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com pada Kamis (14/11/2019).

Rentin menambahkan, saat ini Camat Seririt dan Perbekel Pengastulan tengah mengimbau masyarakat agar tetap tenang.

Diketahui, tombol aktivasi sirene berada di Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Bali.

Menurut dia, pihaknya tidak pernah mengaktifkan sirene itu karena memang rilis BMKG terkait gempa tidak berpotensi tsunami.

"Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan hanya percaya informasi resmi dari BMKG. Tower sirene tsunami milik BPBD berasal di Desa Sulanyah, bukan di Desa Pengastulan," ujar Rentin.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved