Pedagang Batik Kabupaten Cirebon Berharap Ada Perhatian dari Pemerintah

Pedagang di Pasar Batik Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, berharap ada perhatian dari pemerintah, sehingga setiap harinya ramai dikunjungi pembeli

Tribun Jabar/Hakim Baihaqi
Pedagang di Pasar Batik Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, berharap ada perhatian dari pemerintah, sehingga setiap harinya ramai dikunjungi para pembeli. 

Laporan wartawan Tribun Jabar, Hakim Baihaqi

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Pedagang di Pasar Batik Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, berharap ada perhatian dari pemerintah, sehingga setiap harinya ramai dikunjungi para pembeli.

Aryani (39), pedagang di Pasar Batik Trusmi, mengatakan, pemerintah harus memberikan solusi agar pasar batik ramai dikunjungi, salah satunya promosi ke pemerintah daerah lain.

"Misalnya ada tamu dari daerah lain, pemerintah arahin suruh belanja ke sini. Supaya kami berjualannya semangat," kata Ariyani di Pasar Batik Trusmi, Kabupaten Cirebon, Jumat (1/11/2019).

Selain itu, pedagang pun menginginkan adanya pagelaran seni yang dilakukan secara rutin terutama pada waktu akhir pekan.

Ariyani mengatakan, hal tersebut dilakukan agar menjadi daya tarik bagi pengendara yang melintas dan membeli oleh-oleh dari Pasar Batik Trusmi.

"Kami kan mencoba melestarikan budaya Cirebon, minta dukungannya saja‎," katanya.

Berdasarkan pantauan Tribun Jabar,Pasar Batik Trusmi yang berada di jalur pantura Jalan Otto Iskandardinata ini, dimulai dari pintu masuk hingga, hingga area parkir tampak sepi.

Hal tersebut terlihat dari beberapa kios para penjualan batik tampak tutup.

Dari beberapa toko penjual batik yang buka, para penjualnya hanya mampu berdiam diri, namun sesekali terlihat merapihkan produk batik yang berada di rak serta etalase untuk dijual.

Setelah diresmikan oleh mantan Gubernur Jawa Barat pada 2015, Ahmad Heryawan, pasar tersebut kerap sepi dari aktivitas penjualan terutama pada hari Senin hingga Jumat.

Pedagang batik lainnya, Melani (40), ia hanya‎ mampu menjual satu hingga lima batik berbagai jenis, yakni kemeja, lembaran kain, daster, dan baju stelan untuk anak.

"Satu hari paling banyak dapat Rp 200 ribu, saya buka dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore," kata Melani di Pasar Batik Trusmi.

Pada akhir pekan atau libur nasional penjualan mengalami peningkatan, namun tidak begitu sigfinikan, yakni hanya sebanyak 20 produk batik atau mendapatkan Rp 800 ribu.

Penulis: Hakim Baihaqi
Editor: Dedy Herdiana
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved